KHAMENEI.ID— Ada masa ketika hidup terasa seperti badai yang tak selesai-selesai. Seseorang kehilangan pekerjaan, usaha runtuh, keluarga retak, kesehatan melemah, atau harga dirinya dihancurkan oleh keadaan. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi diam-diam merasa patah di dalam. Dunia modern bahkan melahirkan jenis kelelahan baru: tubuh masih berjalan, tetapi jiwa seperti kehilangan akar.
Di tengah zaman yang mudah membuat manusia rapuh itu, sebuah perumpamaan sederhana dari Nabi Muhammad saw justru terdengar sangat relevan. Nabi saw pernah berkata:
مثل المؤمن كمثل سنبلة تنام مرّة و تقوم مرّة
“Perumpamaan seorang mukmin seperti bulir gandum: kadang ia rebah, kadang ia kembali tegak.”
Kalimat itu pendek, tetapi menyimpan pandangan mendalam tentang ketahanan manusia. Nabi tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan jatuh. Tidak juga bahwa hidup orang saleh selalu mulus tanpa luka. Justru sebaliknya: seorang mukmin bisa tersungkur oleh badai kehidupan. Ia bisa lemah, sedih, kehilangan arah, bahkan nyaris roboh. Namun yang membedakannya adalah satu hal penting: ia tidak tercerabut dari akarnya.
Bulir gandum dalam perumpamaan itu menarik. Ketika angin besar datang, ia tidak melawan dengan keras kepala seperti pohon kaku yang mudah patah. Ia menunduk, rebah, mengikuti arah angin. Tetapi setelah badai lewat, ia kembali berdiri. Ada kelenturan sekaligus daya tahan. Dan mungkin di situlah letak kekuatan sejati manusia: bukan pada kemampuan untuk tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh.
Hari ini kita hidup dalam budaya yang memuja kesempurnaan. Media sosial dipenuhi citra orang-orang yang tampak selalu berhasil, selalu bahagia, selalu kuat. Kegagalan dianggap aib. Kesedihan disembunyikan. Akibatnya, banyak orang merasa dirinya hancur hanya karena sekali gagal. Mereka mengira hidup selesai ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Padahal tradisi spiritual justru mengajarkan hal berbeda. Kehidupan manusia memang tidak dirancang tanpa guncangan. Yang penting bukan apakah seseorang pernah rebah, melainkan apakah ia masih punya akar untuk kembali berdiri.
Al-Qur’an menggambarkan manusia beriman dengan metafora lain yang tak kalah indah:
أَلَم تَرَ كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُها ثابِتٌ وَفَرعُها فِي السَّماءِ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhan membuat perumpamaan tentang kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya kuat menancap dan cabangnya menjulang ke langit” (QS. Ibrahim 24)
Lalu ayat berikutnya melanjutkan:
تُؤتي أُكُلَها كُلَّ حينٍ بِإِذنِ رَبِّها
“Pohon itu terus-menerus menghasilkan buah dengan izin Tuhannya” (QS. Ibrahim 25)
Ada pesan psikologis sekaligus spiritual di sana. Pohon yang baik tidak diukur dari seberapa tinggi cabangnya semata, tetapi seberapa dalam akarnya menghujam tanah. Manusia modern sering sibuk mempercantik “cabang”: citra, status sosial, pengakuan publik, pencapaian materi. Tetapi lupa merawat akar: iman, makna hidup, ketenangan batin, dan hubungan dengan Tuhan.
Karena itu banyak orang tampak sukses, tetapi mudah runtuh ketika krisis datang. Sedikit hinaan membuatnya marah besar. Sedikit kegagalan membuatnya depresi. Sedikit kehilangan membuat hidup terasa gelap. Cabangnya mungkin tinggi, tetapi akarnya rapuh.
Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang hidupnya penuh ujian, tetapi tetap tenang. Mereka menangis, tetapi tidak putus asa. Mereka jatuh, tetapi tidak kehilangan harapan. Mereka terluka, tetapi tidak berubah menjadi pahit. Dalam bahasa agama, mereka memiliki istiqamah, keteguhan untuk tetap berjalan meski tertatih.
Istiqamah sering disalahpahami sebagai kesempurnaan tanpa cela. Padahal hakikatnya lebih mirip ketahanan panjang. Ia seperti seseorang yang terus melangkah meski pelan, terus menjaga arah meski berkali-kali tersandung. Dalam dunia yang serba instan, istiqamah terasa seperti sesuatu yang langka. Orang ingin hasil cepat, perubahan cepat, kesuksesan cepat. Sedikit saja proses terasa berat, mereka berhenti di tengah jalan.
Padahal hampir semua hal besar dalam hidup tumbuh perlahan. Pohon tidak berbuah dalam semalam. Gandum tidak menguning sehari setelah ditanam. Bahkan luka batin manusia pun membutuhkan waktu untuk sembuh.
Karena itu, mungkin ukuran kekuatan bukanlah kerasnya seseorang menghadapi hidup, tetapi kedalaman akarnya saat diterpa badai. Orang yang akarnya kuat tidak mudah tercerabut oleh pujian ataupun hinaan. Ia tidak mabuk ketika berhasil dan tidak hancur ketika gagal. Ia memahami bahwa hidup memang bergerak antara jatuh dan bangkit.
Menariknya, Nabi menggunakan simbol gandum tanaman yang justru menjadi sumber pangan manusia. Seakan-akan ada pesan tersembunyi: sesuatu yang paling memberi manfaat sering kali adalah sesuatu yang pernah ditempa angin dan cuaca buruk. Manusia yang tidak pernah diuji biasanya rapuh menghadapi kenyataan. Sebaliknya, mereka yang pernah dihantam kehidupan sering justru memiliki empati lebih dalam, hati lebih lembut, dan jiwa lebih matang.
Mungkin itu sebabnya banyak orang besar lahir bukan dari kehidupan yang nyaman, melainkan dari rentetan kesulitan panjang. Mereka belajar bahwa badai tidak selalu datang untuk menghancurkan. Kadang ia datang untuk memperdalam akar.
Dan di tengah dunia yang mudah membuat manusia merasa kalah, pesan itu terasa menenangkan: tidak apa-apa jika hari ini kita sedang rebah. Tidak apa-apa jika hidup belum sesuai harapan. Bahkan bulir gandum pun kadang jatuh ke tanah. Yang penting jangan sampai kehilangan akar.
Sebab selama akar itu masih ada, iman, harapan, dan keyakinan bahwa hidup selalu punya kemungkinan untuk dimulai kembali juga masih ada, manusia selalu punya peluang untuk bangkit sekali lagi.







