Bukan Pembantu, Melainkan Bunga – Hak Mendasar Perempuan dalam Pandangan Islam yang Menggetarkan (Bag2)

Cinta Bukan Kekerasan – Mengapa Rumah Tangga Islam Melarang “Kebebasan” Gaya Barat?

Pernahkah Anda membayangkan bahwa mengucapkan “aku mencintaimu” kepada istri adalah sebuah kewajiban syariat? Di sebuah peradaban angka perceraian dan kekerasan rumah tangganya meledak, seorang pemimpin agama justru mengajarkan bahwa hak pertama seorang istri di rumah bukanlah uang atau jabatan, melainkan kasih sayang yang diucapkan.

Jika artikel pertama membahas hak-hak publik perempuan—keadilan, kemuliaan, dan kesetaraan upah—maka artikel kedua ini akan masuk ke ruang paling privat sekaligus paling krusial: keluarga. Karena bagi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, rumah adalah benteng terakhir martabat perempuan. Dan di benteng itu, ada dua hak besar yang sering dilupakan dunia modern: kasih sayang dan ketiadaan kekerasan.

Kasih Sayang sebagai Hak Pertama di Rumah

Ada riwayat yang menakjubkan: Para suami dianjurkan (bahkan dalam beberapa literasi dianggap sebagai bagian dari hak istri) untuk mengatakan kepada istri mereka “inni uhibbuki” (aku mencintaimu) secara jelas, meskipun istri sudah mengetahuinya. Mengapa? Karena perempuan tidak cukup hanya merasa dicintai. Dia perlu mendengar dan disapa dengan cinta. Itulah hak pertama seorang istri di rumah.

Coba bandingkan dengan budaya modern yang sibuk dengan karier, status media sosial, dan ambisi material. Suami pulang kerja, makan, lalu tenggelam dalam ponsel. Atau lebih parah: melampiaskan kekesalan kepada istri. Islam membalik logika itu. Nabi menjadikan ucapan cinta sebagai sesuatu yang bernilai ibadah.

Nol Toleransi terhadap Kekerasan

Hak penting berikutnya adalah ketiadaan kekerasan. Ayatollah Khamenei dengan tegas menyatakan bahwa budaya Barat yang dekaden penuh dengan kasus laki-laki memukul dan membunuh perempuan. Bukan pengecualian, melainkan pola. Sebuah cerita dari Amerika menggambarkan seorang laki-laki yang pulang ke rumah dan memukuli istrinya dengan keras karena alasan sepele. Ketika budaya permisif dan individualisme berlebihan merajalela, kekerasan menjadi hal yang “normal”.

Baca Juga  Bukan Pembantu, Melainkan Bunga – Hak Mendasar Perempuan dalam Pandangan Islam yang Menggetarkan (Bag1)

Islam menolak kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap perempuan. Bahkan kekerasan verbal dan tekanan psikologis pun tidak dibenarkan. Rumah tangga Islam adalah tempat di mana manajemen rumah berada di tangan istri. Istrilah yang menjadi manager dan kepala rumah tangga (dalam urusan domestik), sementara suami adalah provider yang membantu istri, terutama dalam kesulitan pascamelahirkan. Suami tidak boleh memaksakan pekerjaan rumah kepada istri. Pemaksaan adalah pelanggaran.

Menghargai “Keterampilan Tak Terlihat”

Satu poin yang jarang dibahas: menghargai kemampuan istri dalam mengatur rumah tangga meskipun penghasilan suami tidak mencukupi. Harga barang naik, gaji tetap, namun tepat tengah hari makanan sudah tersedia di meja. Rumah tetap bersih, anak-anak tetap terurus. Siapa yang melakukan ini? Itu adalah keterampilan, kepandaian, dan keikhlasan seorang istri. Sayangnya, kita kurang memperhatikan poin ini.

Hak lain yang tidak boleh dilupakan adalah membiarkan sarana kemajuan dan perkembangan terbuka bagi perempuan. Menuntut ilmu, menekuni profesi yang sesuai, dan berperan dalam masyarakat adalah hak yang diberikan Islam, bukan pemberian dari Barat.

Perbandingan dengan Logika Kapitalis: Titik Kebalikannya

Semua yang telah disebutkan—kasih sayang, anti kekerasan, penghargaan, dan kemandirian—bertolak belakang secara harfiah dengan pandangan kapitalisme Barat. Dalam Islam, perempuan memiliki independensi, kemampuan, kedudukan, dan identitas sendiri. Di Barat? Identitas perempuan larut ke dalam nama keluarga suami. Setelah menikah, nama gadisnya hilang, digantikan nama suami. Itu adalah simbol “kalah” oleh identitas laki-laki.

Lebih parah: perempuan dipandang sebagai alat material dan alat pemuasan nafsu. Geng-geng pemburu gadis muda di Amerika, promosi pergaulan bebas atas nama kebebasan, serta industri pornografi yang meledak—semua itu adalah buah dari logika yang memandang perempuan sebagai instrumen. Yang tragis, perempuan itu sendiri sering tidak sadar. Mereka malah bangga telah ketika diperalat.

Baca Juga  Menelusuri Cinta, Rahasia, dan Keteladanan dalam Islam dalam Diri Fathimah

Penghancuran Pondasi Keluarga

Ayatollah Khamenei menyebutkan bahwa salah satu dosa terbesar peradaban kapitalis adalah penghancuran pondasi keluarga. Ia membaca sebuah buku asing yang menggambarkan sebuah keluarga modern: suami dan istri membuat janjian untuk minum teh bersama jam 4 sore selama satu jam. Anak-anak tahu bahwa pada jam itu ayah-ibu ada di rumah. Tapi setelah jam itu, masing-masing pergi ke urusan sendiri—pekerjaan, teman, klub, atau sekadar menyendiri. Kebersamaan menjadi barang langka. Anak-anak tidak mengenal ayah. Hubungan kekerabatan berkurang. Keluarga bukan lagi benteng kasih, tapi sekadar tempat singgah.

Lalu semua kerusakan ini dinamakan “kebebasan”. Inilah tipuan terbesar: membelenggu tetapi menamakannya membebaskan. Memperdaya dengan kata-kata indah, padahal yang terjadi adalah perbudakan hawa nafsu.

Republik Islam sebagai Kontra-Narasi yang Berhasil

Namun, Republik Islam Iran telah membuktikan bahwa pandangan Islam itu praktis dan unggul. Kaum Barat berargumen bahwa jika seorang perempuan berjilbab dan menetapkan batasan-batasan syar’i, dia akan terhambat kemajuannya. Fakta membantah. Setelah Revolusi, perempuan Iran maju di segala bidang:

  • Statistik pendidikan melonjak. Jumlah wanita ilmuwan dan intelektual di Iran hari ini tidak ada presedennya dalam sejarah—bahkan seperseratusnya pun tidak pernah ada sebelumnya.
  • Bidang kesehatan, harapan hidup, olahraga, dan dukungan jihad menjadi bukti nyata. Para ibu dan istri syuhada dengan sabar menanggung kesulitan, mendampingi suami mereka berjuang hingga mencapai puncak kemuliaan: syahadat.
  • Di pusat-pusat penelitian dan pemikiran, perempuan Iran memberikan solusi dinamis dan pemikiran yang setara dengan laki-laki.

 

Pesan Terakhir untuk Media dan Kita Semua

Ayatollah Khamenei menutup dengan rekomendasi tajam untuk media: Jangan menjadi faktor penyebaran pemikiran salah kaum Barat. Media dalam negeri Republik Islam jangan mengulang-ulang dan membesar-besarkan ucapan mereka tentang jilbab dan hubungan laki-laki-perempuan. Sebarkanlah Islam, sampaikan pandangan Islam yang membanggakan.

Baca Juga  Ketika Barat Membicarakan Perempuan, Mengapa Keluarga Selalu Hilang?

Jika pandangan ini diusung di forum global, banyak orang di dunia—khususnya para perempuan—akan cenderung kepada Islam. Bukan karena terpaksa, tetapi karena mereka menemukan alternatif nyata dari logika kapitalis yang telah membuat mereka menjadi komoditas. Inilah dakwah terbaik: menunjukkan bahwa seorang perempuan bisa menjadi bunga yang dirawat, bukan algojo yang dipaksa bebas.

Semoga Allah mengaruniakan kesuksesan bagi siapa saja yang berani menyuarakan kebenaran ini.

 

Bagikan:
Terkait
Komentar