Maedeh Zaman Fashami, Jurnalis dan Peneliti
Saat meninjau transformasi sosial dan politik besar, salah satu indikator terpenting adalah tingkat dan kualitas partisipasi perempuan. Revolusi Islam Iran tidak terkecuali. Meskipun banyak catatan resmi cenderung berfokus pada tokoh laki-laki dan aksi politik yang terlihat, pengamatan lebih dekat menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah berada di pinggiran. Mereka berdiri di jantung perkembangan ini. Kehadiran mereka bukan sekadar pendukung—dalam banyak kasus, kehadiran itu bersifat mendorong, menstabilkan, bahkan menentukan.
Pemimpin Revolusi Islam yang gugur syahid, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dengan menekankan sosok-sosok seperti Sayyidah Fatimah az-Zahra (as), menyajikan sebuah model di mana seorang perempuan Muslim dapat memenuhi tanggung jawab keluarganya sekaligus memainkan peran aktif dalam masyarakat. Perspektif ini, dalam banyak hal, membentuk landasan intelektual bagi partisipasi perempuan dalam Revolusi Islam. Bahkan sebelum Revolusi Islam, perempuan Iran memainkan peran kunci dalam membangun landasan intelektual, mengorganisir jaringan, dan mempertahankan gerakan revolusioner. Melalui posisi mereka di dalam keluarga dan masyarakat, mereka menjadi pusat dalam menyebarkan pesan Revolusi.
Rumah, sebagai ruang utama koneksi, sering kali dikelola oleh perempuan. Pertemuan keagamaan, lingkaran budaya, dan pertemuan sosial menjadi tempat di mana ide-ide revolusioner didiskusikan dan dijelaskan, dan perempuan memainkan peran sentral dalam memelihara serta memperluas ruang-ruang tersebut. Ini adalah salah satu faktor penting di balik keberhasilan Revolusi.
Pemimpin yang syahid berulang kali menekankan poin ini, menggambarkan kehadiran perempuan dalam pembentukan dan kemenangan Revolusi sebagai hal yang nyata dan menentukan. Beliau pernah berkata: “Perempuan yang aktif di garis depan Revolusi, sebelum kemenangannya, pada tahun-tahun awal, dan selama 8 Tahun Perang yang Dipaksakan, memainkan peran yang sangat menonjol. Mereka memiliki kehadiran yang nyata dan efektif. Kehadiran perempuan yang aktif dan nyata ini tidak boleh dibiarkan memudar. Para penentang Revolusi Islam mencoba memanfaatkan perempuan yang cakap untuk jalan mereka sendiri. Front Revolusi memiliki banyak perempuan yang cakap, aktif, pandai berbicara, pemikir, dan berorientasi pada tindakan. Bidang pertahanan Revolusi tidak boleh dibiarkan kosong.”
Namun, partisipasi perempuan tidak terbatas pada ranah budaya dan sosial. Banyak yang hadir di bidang yang jauh lebih sulit dan berbahaya—mulai dari menanggung penjara dan penyiksaan hingga terlibat dalam kegiatan keamanan dan bahkan militer. Ini menandai pergeseran penting dalam peran perempuan—dari “kehadiran pendukung” menjadi “kehadiran pemimpin.”
Peran mereka tidak berakhir dengan kemenangan Revolusi; ia memasuki fase baru. Pada tahap ini, perempuan memainkan peran krusial dalam mengonsolidasikan dan melembagakan pencapaiannya. Kehadiran mereka dalam institusi budaya, pendidikan, sosial, dan bahkan politik menunjukkan kontinuitas peran aktif mereka.
Selama delapan tahun Perang yang Dipaksakan, perempuan kembali memainkan peran yang efektif dan aktif—baik dalam posisi pendukung maupun dalam kapasitas yang lebih langsung, mulai dari bekerja sebagai jurnalis, dokter, dan perawat hingga memberikan dukungan luas di belakang garis depan. Contoh-contoh seperti perempuan yang bertugas di Majelis Permusyawaratan Islam (Parlemen), pekerjaan mereka di sekolah dan universitas, serta keterlibatan mereka dalam institusi sosial semuanya menunjukkan bahwa perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sistem baru.
Dalam perkembangan yang lebih baru—termasuk Perang 12 Hari dan Perang Ketiga yang Dipaksakan—perempuan sekali lagi menunjukkan kehadiran aktif dan revolusioner mereka. Dari bekerja di bidang sensitif seperti kedokteran dan media hingga berpartisipasi dalam masjid dan jaringan pendukung, sama seperti selama tahun-tahun perang, mereka terus memainkan peran penting.
Perang-perang ini juga memiliki dimensi perempuan yang jelas: kehadiran nyata perempuan di ruang publik dan partisipasi aktif mereka dalam membela negara. Salah satu contoh dari hal ini dalam perang ketiga yang dipaksakan adalah kehadiran perempuan sebagai peserta kunci dalam pertemuan malam hari. Perempuan yang hadir dalam segala situasi. Selama hampir lima puluh malam pertemuan tersebut, berbagai bentuk kehadiran perempuan telah terlihat di seluruh negeri—mulai dari perempuan hamil hingga mereka yang membawa bayi dan anak kecil, hingga dokter dan guru yang melangkah maju untuk mendukung sesama warga.
Pemimpin Revolusi Islam yang syahid berbicara tentang apa yang beliau sebut sebagai “Model Perempuan Ketiga”—sebuah model yang “bukan Timur maupun Barat.” Beliau berkata: “Dalam pandangan umum Timur, perempuan dipandang sebagai sosok marginal, tanpa peran dalam membentuk sejarah; dan dalam pandangan umum Barat, ia direduksi menjadi makhluk yang gendernya melebihi kemanusiaannya, diubah menjadi objek seksual yang melayani laki-laki dan kapitalisme modern. Perempuan pemberani dari Revolusi Islam dan Pertahanan Suci menunjukkan bahwa ada model ketiga: seorang perempuan yang bukan Timur maupun Barat. Perempuan Muslim Iran membuka jalan baru di hadapan perempuan dunia dan membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi perempuan—bersahaja, bermartabat, dan berhijab—sekaligus hadir di pusat. Seseorang dapat menjaga benteng keluarga dan pada saat yang sama membangun benteng baru di arena politik dan sosial, mencapai prestasi besar.”
Pada akhirnya, meninjau peran perempuan dalam Revolusi Islam Iran memperjelas satu hal: Kontribusi mereka tidaklah marginal—melainkan mendasar dan menentukan. Melalui kehadiran mereka dalam keluarga, masyarakat, perjuangan, dan pemerintahan, perempuan memainkan peran penting dalam kemenangan maupun konsolidasi Revolusi.
Pandangan pemimpin umat yang syahid, dengan penekanan pada martabat, identitas, dan kemampuan perempuan, memberikan kerangka kerja penting untuk memahami peran ini. Dalam kerangka ini, perempuan bukan sekadar aktor sosial, melainkan salah satu pilar utama dalam membentuk masyarakat dan peradaban Islam.
Dari sebelum Revolusi Islam hingga hari ini, perempuan Muslim Iran tidak berdiri di pinggiran sejarah, melainkan di pusat transformasi besar—memainkan peran yang menentukan dalam membentuk masa depan masyarakat mereka.
Baca Juga:
Hukum Tanpa Empati? Pesan Etika Peradilan dalam Pemikiran Imam Ali Khamenei qs
Revolusi Iran dan Modal Sosial Ulama: Warisan Seribu Tahun yang Mengubah Sejarah
Mengenal Konsep Wilayat Faqih (1): Dari Ide yang Menggerakkan Iran, ke Istilah yang Kita Abaikan







