KHAMENEI.ID— Ada satu penyakit yang hampir selalu muncul ketika manusia merasa memiliki kuasa: keinginan untuk lebih tinggi dari orang lain. Mula-mula ia tampak kecil, sekadar ingin dihormati, ingin diprioritaskan, ingin didengar lebih dulu. Tetapi perlahan, keinginan itu berubah menjadi rasa superioritas. Orang mulai menikmati jarak antara dirinya dan orang lain. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan tangga untuk meninggikan diri.
Di titik itulah kekuasaan berubah menjadi racun.
Kita bisa melihat gejalanya hampir di mana-mana. Seorang pejabat yang tak lagi bisa disentuh kritik. Pemimpin yang merasa dirinya identik dengan negara. Atau orang-orang kecil yang baru mendapat sedikit otoritas, lalu mendadak gemar merendahkan bawahan. Seolah-olah kekuasaan memberi hak untuk merasa lebih manusia daripada manusia lain.
Padahal dalam pandangan Islam, justru di situlah awal kehancuran seorang pemimpin.
Al-Qur’an memberi peringatan yang sangat tajam:
تِلكَ الدّارُ الآخِرَةُ نَجعَلُها لِلَّذينَ لا يُريدونَ عُلُوًّا فِي الأَرضِ وَلا فَسادًا ۚ وَالعاقِبَةُ لِلمُتَّقينَ
“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan dan kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Qashash: 83)
Ayat ini menarik karena tidak hanya mengutuk kerusakan, tetapi juga “keinginan untuk unggul dan meninggi di atas orang lain”. Dalam bahasa Arab digunakan kata ‘uluw rasa ingin berada di atas manusia lain, baik melalui kekuasaan, dominasi, maupun kesombongan sosial. Artinya, masalahnya bukan hanya tindakan zalim yang terlihat, tetapi juga hasrat batin untuk menguasai dan merasa lebih tinggi.
Dan justru karena itulah ayat ini terasa sangat relevan dengan dunia modern.
Hari ini, banyak orang tidak lagi mengejar kekuasaan demi pelayanan, melainkan demi validasi diri. Jabatan menjadi alat untuk membangun citra superior. Media sosial memperparah keadaan: kekuasaan dipertontonkan, kemewahan dipamerkan, kedekatan dengan elite dijadikan simbol status. Bahkan dalam ruang agama, kadang muncul kecenderungan yang sama; merasa lebih suci, lebih benar, lebih layak dihormati daripada orang lain.
Penyakit terbesar para pemegang kuasa bukan kelemahan, melainkan rasa terlalu tinggi. Menariknya, olehnya siapa pun yang memiliki “wilayah kekuasaan”, besar ataupun kecil tetap terancam oleh penyakit yang sama. Seorang menteri, kepala daerah, manajer kantor, pemimpin organisasi, bahkan kepala keluarga, semuanya memiliki potensi tergelincir ketika kekuasaan berubah menjadi alat dominasi.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar tentang politik negara. Ini tentang watak manusia ketika diberi kuasa.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil para ulama klasik, Ali bin Abi Thalib a.s digambarkan berjalan sendirian di pasar-pasar. Ia membantu orang lemah, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, dan berbicara dengan para pedagang biasa. Ketika melewati mereka, ia membaca ayat tadi:
تِلكَ الدّارُ الآخِرَةُ نَجعَلُها لِلَّذينَ لا يُريدونَ عُلُوًّا فِي الأَرضِ وَلا فَسادًا
Lalu ia berkata bahwa ayat itu turun tentang para penguasa yang adil dan rendah hati, juga tentang setiap orang yang memiliki kekuatan.
Pemandangan ini terasa sangat kontras dengan wajah kekuasaan modern. Hari ini, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin tebal pula lapisan yang memisahkannya dari rakyat biasa. Ada protokoler, pengawalan, pagar sosial, bahkan bahasa yang berbeda. Kekuasaan menciptakan dunia tersendiri yang perlahan membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa.
Ali a.s justru melakukan kebalikannya. Ia turun ke pasar, berjalan tanpa kemegahan, berbicara langsung dengan masyarakat kecil. Seolah ingin menunjukkan bahwa kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang tidak takut dekat dengan rakyat.
Sebab jarak sosial sering kali menjadi awal lahirnya kesombongan politik.
Dan sejarah memang berulang kali menunjukkan hal itu. Banyak penguasa jatuh bukan karena kekurangan kecerdasan, tetapi karena mabuk superioritas. Mereka mulai percaya bahwa dirinya tidak mungkin salah. Kritik dianggap ancaman. Rakyat dipandang objek yang harus tunduk, bukan manusia yang harus dihormati.
Di situlah kekuasaan berubah dari amanah menjadi alat penindasan.
Olehnya superioritas bagai “penyakit para penguasa”. Sebuah penyakit yang selalu mengancam orang-orang kuat sepanjang sejarah. Tidak ada manusia yang otomatis kebal darinya. Bahkan orang saleh sekalipun bisa tergelincir ketika terlalu lama dipuji dan terlalu sedikit dikoreksi.
Maka solusi yang ditawarkan bukan sekadar sistem politik, melainkan kesadaran spiritual: keterhubungan dengan sumber kekuatan yang lebih tinggi daripada diri sendiri. Dalam bahasa agama, manusia harus merasa kecil di hadapan Tuhan agar tidak merasa terlalu besar di hadapan manusia.
Tanpa itu, kekuasaan mudah berubah menjadi berhala baru.
Ayat tadi ditutup dengan kalimat yang sangat menenangkan sekaligus menggetarkan:
وَالعاقِبَةُ لِلمُتَّقينَ
“Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”
Sebagian ulama memahami “kesudahan” ini sebagai akhirat. Tetapi sebagian lain melihat bahwa ia juga berlaku di dunia: bahwa pada akhirnya, yang bertahan bukanlah mereka yang paling arogan, melainkan mereka yang menjaga integritas dan kerendahan hati.
Sebab sejarah memang sering memberi pelajaran yang sama. Nama-nama besar yang dibangun di atas kesombongan biasanya hanya bertahan sesaat. Mereka mungkin terlihat kuat untuk sementara, tetapi perlahan kehilangan kepercayaan, kehilangan cinta manusia, lalu runtuh bersama citra yang mereka bangun sendiri.
Sebaliknya, orang-orang yang rendah hati sering justru hidup lebih lama dalam ingatan masyarakat. Bukan karena mereka paling berkuasa, tetapi karena mereka tidak menggunakan kekuasaan untuk meninggikan diri.
Dan mungkin, di zaman yang begitu terobsesi pada pencitraan, itulah bentuk kekuatan yang paling langka: kemampuan untuk memiliki kuasa tanpa merasa lebih mulia daripada manusia lain.







