Harta yang Menggoda: Mengapa Imam Sajjad Menyebut Kekayaan sebagai Sumber Fitnah

KHAMENEI.ID– Ada banyak hal yang membuat manusia jatuh. Kekuasaan, pujian, amarah, bahkan cinta. Namun dalam sejarah panjang peradaban, satu hal tampaknya paling sering menggoyahkan manusia justru sesuatu yang tampak biasa: uang.

Orang bisa bertahan dari ancaman musuh, tetapi kalah oleh isi dompetnya sendiri. Banyak tokoh besar tumbang bukan ketika mereka miskin, melainkan ketika mereka mulai merasa aman oleh harta. Di situlah barangkali letak mengapa Imam Sajjad a.s, dalam salah satu doa paling terkenal di Shahifah Sajjadiyah, memberi perhatian khusus pada sesuatu yang disebutnya sebagai al-māl al-fatūn, harta yang menimbulkan fitnah, harta yang menggoda, harta yang menyesatkan.

Menariknya, doa itu bukan ditujukan untuk pedagang kaya atau pejabat istana. Doa itu dipanjatkan untuk para penjaga perbatasan, orang-orang yang berada di garis depan mempertahankan masyarakat. Seolah Imam Sajjad a.s ingin mengatakan: ancaman terbesar manusia tidak selalu datang dari luar, tetapi dari dalam dirinya sendiri.

Dalam doa itu, Imam a.s Sajjad memohon:

“Ya Allah, hilangkan dari hati mereka bisikan tentang harta yang penuh godaan itu…”

Kalimat itu muncul di tengah doa panjang tentang keberanian, keteguhan, dan pertahanan umat. Imam Sajjad a.s lebih dulu meminta agar para penjaga perbatasan diberi kekuatan, persatuan, ketajaman senjata, dan kesabaran. Namun setelah semua itu, beliau justru menyentuh sesuatu yang lebih halus: hati manusia.

Karena peperangan paling sulit memang bukan perang fisik. Yang paling sulit adalah perang melawan kerakusan.

Imam Sajjad a.s melanjutkan doanya dengan ungkapan yang sangat puitis sekaligus mengguncang:

“Ya Allah, ketika mereka berhadapan dengan musuh, lupakanlah mereka dari dunia yang menipu dan memperdaya…”

Dalam bahasa Arabnya disebut: ad-dunyā al-khaddā‘ah al-ghurūr dunia yang licik dan penuh ilusi. Dunia, dalam pengertian ini, bukan bumi atau kehidupan itu sendiri. Yang dimaksud adalah keterikatan berlebihan pada kenikmatan sementara sampai manusia kehilangan arah moralnya.

Baca Juga  Pahala di Balik Penderitaan: Mengapa Kesulitan Hidup Tidak Pernah Sia-Sia

Hari ini manusia hidup dalam peradaban yang hampir menjadikan uang sebagai ukuran utama kehormatan. Nilai seseorang sering diukur dari apa yang ia miliki, bukan siapa dirinya. Media sosial memperlihatkan kemewahan tanpa henti. Anak muda tumbuh dengan ketakutan terbesar: terlihat gagal secara finansial.

Akibatnya, banyak orang rela menggadaikan integritas demi mempertahankan gaya hidup. Korupsi bukan lagi sekadar kejahatan hukum, tetapi gejala psikologis dari ketakutan kehilangan kenyamanan. Orang mulai sulit membedakan kebutuhan dan keserakahan. Semua terasa kurang.

Di sinilah kata “fitnah” menjadi penting untuk dipahami. Dalam tradisi Islam, fitnah bukan hanya berarti kekacauan sosial. Fitnah juga berarti ujian yang membuat manusia tersesat karena daya tariknya begitu memikat. Harta disebut fitnah justru karena ia tampak baik, berguna, bahkan diperlukan. Tidak ada yang salah dengan uang. Yang berbahaya adalah ketika uang perlahan menjadi pusat gravitasi hidup manusia.

Imam Sajjad a.s tampaknya memahami betul watak dasar jiwa manusia: selalu ingin lebih.

Karena itu, konsep takwa dalam Al-Qur’an sesungguhnya bukan sekadar ritual ibadah, melainkan kesadaran untuk terus menjaga diri. Takwa adalah kewaspadaan batin. Sejenis rem moral agar manusia tidak tergelincir saat nafsunya mulai membesar.

Menariknya, sejarah menunjukkan bahwa banyak kejatuhan besar memang lahir dari ketidakmampuan mengendalikan hasrat terhadap harta. Ada pejabat yang awalnya idealis lalu berubah setelah mengenal fasilitas. Ada ulama yang kehilangan keberanian setelah terlalu dekat dengan kekuasaan dan kekayaan. Ada aktivis yang dahulu lantang membela rakyat kecil, tetapi perlahan diam setelah hidupnya nyaman.

Semua itu jarang terjadi secara tiba-tiba. Keruntuhan moral biasanya dimulai dari kompromi kecil yang terus diulang.

Sebab harta jarang datang sambil mengancam. Ia datang sambil menawarkan rasa aman.

Baca Juga  Krisis Akuntabilitas: Ketika Manusia Modern Tak Lagi Merasa Harus Bertanggung Jawab

Dan manusia paling mudah tertipu oleh sesuatu yang membuatnya merasa aman.

Itulah sebabnya Imam Sajjad a.s tidak meminta agar manusia dijauhkan dari harta, tetapi dijauhkan dari “bisikan” harta. Dalam doanya digunakan ungkapan yang sangat psikologis: wa imhu ‘an qulūbihim khaṭarāt al-māl al-fatūn  “hapuslah dari hati mereka lintasan-lintasan tentang harta yang menggoda itu”.

Yang berbahaya ternyata bukan uang di tangan, melainkan uang di kepala.

Seseorang bisa hidup sederhana tetapi pikirannya dipenuhi kecemasan finansial tanpa akhir. Sebaliknya, ada orang kaya yang tetap tenang karena hartanya tidak menguasai jiwanya. Maka masalah utamanya bukan kepemilikan, tetapi keterikatan.

Dalam konteks modern, doa Imam Sajjad a.s terasa seperti kritik diam terhadap budaya materialisme. Kita hidup di era ketika hampir semua hal diukur dengan nilai ekonomi. Pendidikan dipilih hanya karena prospek gaji. Pertemanan dibangun berdasarkan manfaat. Bahkan spiritualitas kadang dipasarkan sebagai citra.

Akibatnya, manusia mudah lelah. Karena keinginan tidak pernah selesai.

Di tengah budaya seperti itu, doa Imam Sajjad a.s menghadirkan semacam jeda batin. Ia mengingatkan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar angka di rekening. Karena tanpa orientasi moral dan spiritual, kekayaan justru bisa berubah menjadi sumber kecemasan baru.

Mungkin itu sebabnya Imam Sajjad dalam doa yang sama meminta agar surga selalu hadir di depan mata para pejuang. Bukan semata gambaran tentang kenikmatan akhirat, tetapi simbol tentang tujuan hidup yang lebih tinggi daripada keuntungan sesaat.

Manusia yang hanya mengejar dunia akan mudah takut kehilangan. Tetapi manusia yang memiliki tujuan lebih besar akan lebih sulit dibeli.

Dan di zaman ketika hampir segala sesuatu memiliki harga, barangkali kemewahan paling langka memang bukan kekayaan, melainkan hati yang tidak diperbudak oleh kekayaan itu sendiri.

Baca Juga  Shalat dan Krisis Manusia Modern: Mengapa Dunia yang Maju Justru Semakin Gelisah? 
Bagikan:
Terkait
Komentar