Imam Mahdi dan Jejak Para Nabi: Mengapa Manusia Modern Masih Membutuhkan Seruan Ilahi?

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin canggih, ada satu pertanyaan yang terus menghantui manusia: apakah kemajuan teknologi benar-benar membuat manusia tidak lagi membutuhkan petunjuk langit?

Kita hidup di zaman ketika kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, ilmu pengetahuan menembus batas-batas yang dulu dianggap mustahil, dan peradaban modern menawarkan kenyamanan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Namun di saat yang sama, manusia justru menghadapi krisis makna yang semakin dalam. Angka depresi meningkat, konflik sosial tak kunjung usai, dan pencarian akan tujuan hidup menjadi semakin mendesak.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sebab kebutuhan manusia terhadap bimbingan ilahi tidak pernah berakhir. Di sinilah konsep Imam Mahdi afs atau Imam Zaman memperoleh maknanya yang paling mendalam: bukan sekadar sosok yang akan muncul di akhir zaman, melainkan kelanjutan dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak awal sejarah manusia.

Dalam Doa Nudbah, sebuah doa yang populer dalam tradisi Syiah, terdapat ungkapan yang menggambarkan kesinambungan itu:

فَبَعْضٌ أَسْكَنْتَهُ جَنَّتَكَ إِلَى أَنْ أَخْرَجْتَهُ مِنْهَا

“Sebagian dari mereka Engkau tempatkan di surga-Mu hingga kemudian Engkau keluarkan darinya

Kalimat ini merujuk kepada Nabi Adam  a.s, manusia pertama yang menjadi awal dari rangkaian panjang para utusan Tuhan. Doa tersebut kemudian menyinggung Nabi Nuh a.s yang diselamatkan melalui bahtera, Nabi Ibrahim a.s yang dijadikan kekasih Allah, hingga akhirnya perjalanan itu mencapai Nabi Muhammad saw sebagai penutup para nabi.

Namun kisah itu tidak berhenti di sana.

Rantai bimbingan ilahi terus berlanjut melalui para penerus spiritual Nabi hingga mencapai sosok yang dalam tradisi Islam disebut sebagai Imam Mahdi afs. Dengan kata lain, sejarah kenabian bukan kumpulan episode yang terpisah-pisah, melainkan satu narasi besar yang saling terhubung dari generasi ke generasi.

Baca Juga  Menjaga Kesucian Ulama di Tengah Godaan Dunia: Mengapa Kesederhanaan Masih Penting?

Gagasan ini mengandung pesan yang sangat penting. Selama ini banyak orang memandang para nabi sebagai tokoh-tokoh sejarah yang hidup dalam konteks zamannya masing-masing. Nabi Adam a.s untuk masa awal manusia, Nabi Musa a.s untuk Bani Israil, Nabi Isa a.s untuk suatu periode tertentu, dan Nabi Muhammad saw untuk masyarakat Arab abad ketujuh.

Padahal hakikatnya, semua nabi membawa pesan yang sama: mengajak manusia menuju keadilan, kebebasan, martabat, dan penghambaan kepada Tuhan.

Menariknya, nilai-nilai yang kini dianggap sebagai pencapaian modern justru merupakan inti ajaran para nabi sejak ribuan tahun lalu.

Ketika dunia hari ini berbicara tentang hak asasi manusia, para nabi telah lebih dahulu mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia. Saat masyarakat modern mengagungkan kebebasan, para nabi telah menyerukan pembebasan manusia dari perbudakan, penindasan, dan penyembahan terhadap sesama manusia. Ketika isu keadilan menjadi tema global, kitab-kitab suci sejak lama telah menempatkan keadilan sebagai fondasi kehidupan bersama.

Perbedaannya hanya satu: dahulu banyak manusia belum siap memahami kedalaman pesan tersebut.

Karena itulah para nabi datang silih berganti. Setiap generasi menerima sebagian pelajaran, lalu generasi berikutnya melanjutkannya. Sedikit demi sedikit, nilai-nilai ilahi tertanam dalam kesadaran kolektif umat manusia. Apa yang dulu terasa asing, kini menjadi tuntutan universal.

Jika hari ini masyarakat dunia menganggap keadilan sebagai sesuatu yang mulia, itu bukan lahir secara tiba-tiba. Ada sejarah panjang pendidikan spiritual yang diwariskan para nabi sepanjang berabad-abad.

Dalam konteks itu, Imam Mahdi afs dipandang sebagai pewaris seluruh misi kenabian tersebut.

Dalam Ziarah Al-Yasin terdapat salam yang sangat menarik:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا دَاعِيَ اللَّهِ وَرَبَّانِيَّ آيَاتِهِ

“Salam atasmu, wahai penyeru menuju Allah dan orang yang memahami ayat-ayat-Nya.”

Baca Juga  Bertahan di Tengah Dunia yang Mengajarkan Ketamakan 

Ungkapan “penyeru menuju Allah” bukan sekadar gelar kehormatan. Ia menunjukkan bahwa tugas mengajak manusia kepada kebenaran tidak pernah terputus. Seruan yang dahulu disampaikan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad tetap hidup dalam satu mata rantai yang sama.

Karena itu, dalam pandangan keagamaan, Imam Mahdi afs bukan membawa agama baru. Ia juga bukan membawa pesan yang berbeda dari para nabi sebelumnya. Yang ia warisi adalah misi yang sama: menegakkan keadilan, menghidupkan nilai kemanusiaan, dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

Di sinilah relevansi konsep Imam Mahdi afs bagi manusia modern menjadi sangat menarik.

Banyak orang membayangkan masa depan hanya sebagai persoalan teknologi yang lebih maju atau ekonomi yang lebih kuat. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu diikuti kematangan moral. Dunia modern memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun kota, tetapi belum tentu mampu membangun hati manusia. Kita bisa menciptakan jaringan komunikasi global, tetapi masih kesulitan menciptakan rasa saling percaya.

Kemajuan ternyata tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Karena itu, harapan akan hadirnya seorang pembaharu ilahi sesungguhnya mencerminkan kerinduan manusia terhadap sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar kemajuan teknologi: kerinduan akan makna, keadilan, dan arah hidup.

Di tengah kebisingan dunia modern, pesan para nabi tetap terdengar relevan. Manusia masih membutuhkan suara yang mengingatkan bahwa kekuatan tanpa moral dapat berubah menjadi tirani, kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan, dan kemajuan tanpa spiritualitas dapat berubah menjadi kehampaan.

Mungkin inilah alasan mengapa rantai dakwah ilahi tidak pernah dianggap putus. Sebab persoalan dasar manusia sejak zaman Adam hingga abad ke-21 sebenarnya tidak banyak berubah. Bentuknya boleh berbeda, tetapi kegelisahannya tetap sama: bagaimana hidup yang benar, adil, dan bermakna.

Baca Juga  Ahlul Bait dalam Islam: Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup?

Dan selama pertanyaan itu masih ada, selama manusia masih mencari arah di tengah kompleksitas dunia, seruan para nabi akan tetap menemukan relevansinya. Dalam keyakinan umat beriman, Imam Mahdi adalah kelanjutan dari seruan panjang tersebut, sebuah pengingat bahwa perjalanan menuju keadilan dan kemanusiaan yang utuh belum berakhir.

Bagikan:
Terkait
Komentar