Kebangkitan Islam atau Perpecahan Umat? Pelajaran Besar dari Warisan Nabi untuk Dunia Modern

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang terus menghantui dunia Islam hingga hari ini. Di satu sisi, semakin banyak umat Muslim yang kembali mencari makna agamanya, mempelajari Al-Qur’an, dan menggali identitas Islam. Namun di sisi lain, perpecahan, konflik internal, dan saling curiga justru kerap muncul di tengah semangat kebangkitan tersebut.

Pertanyaan pentingnya: mengapa sebuah agama yang datang membawa rahmat dan persatuan sering kali justru dipersepsikan sebagai sumber konflik?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw., sosok yang tidak hanya mengubah sejarah Arab, tetapi juga mengubah arah perjalanan peradaban manusia. Bersamaan dengan itu, umat Islam juga mengenang kelahiran Imam Ja’far al-Shadiq, seorang tokoh besar yang mewariskan khazanah ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam yang sangat luas.

Peringatan semacam ini sesungguhnya bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah momen untuk mengingat kembali siapa sosok yang dilahirkan pada hari itu dan apa warisan yang ditinggalkannya bagi manusia.

Nabi Muhammad saw hadir di tengah dunia yang diliputi ketidakadilan, konflik suku, kesenjangan sosial, dan kekacauan moral. Yang beliau bawa bukan hanya seperangkat aturan agama, melainkan sebuah jalan hidup yang menawarkan keselamatan manusia. Karena itu Al-Qur’an menyebut beliau sebagai rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Islam.

Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan saat ini, kebutuhan manusia terhadap pesan kenabian justru tidak berkurang. Manusia modern berhasil menaklukkan jarak, tetapi belum mampu menaklukkan keserakahan. Kita menciptakan mesin yang semakin pintar, tetapi masih kesulitan menciptakan keadilan yang merata. Kita memiliki informasi tanpa batas, tetapi sering kehilangan kebijaksanaan.

Di sinilah relevansi risalah Nabi saw tetap hidup. Manusia tetap membutuhkan keadilan, bimbingan moral, kasih sayang sosial, dan arah hidup yang benar. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak otomatis menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Sebaliknya, tanpa fondasi etika yang kuat, kemajuan justru dapat memperbesar kerusakan.

Baca Juga  Manusia Sibuk Mengejar yang Jauh, Padahal Cahaya Itu Ada di Dekatnya 

Menurut ajaran Islam, jalan menuju perbaikan sebenarnya telah terbuka. Yang sering menjadi penghalang bukanlah kurangnya petunjuk, melainkan kelemahan manusia sendiri: ketidaktahuan, kemalasan berpikir, fanatisme, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Karena itu pertarungan terbesar manusia sesungguhnya bukan melawan orang lain, melainkan melawan kecenderungan-kecenderungan destruktif dalam dirinya.

Dalam konteks dunia Islam kontemporer, ada fenomena menarik yang sulit dibantah. Kesadaran keislaman mengalami kebangkitan di berbagai penjuru dunia. Gagasan tentang kembali kepada Al-Qur’an, memperkuat persaudaraan umat, dan membangun martabat dunia Islam yang dahulu hanya menjadi wacana kalangan intelektual, kini telah menjadi aspirasi masyarakat luas.

Generasi muda Muslim di berbagai negara semakin tertarik mempelajari agamanya. Mereka tidak lagi sekadar menerima identitas Islam sebagai warisan keluarga, tetapi berusaha memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa identitas Islam masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah arus globalisasi.

Namun kebangkitan itu berjalan beriringan dengan tantangan besar. Semakin kuat kesadaran identitas Islam, semakin besar pula upaya untuk menciptakan perpecahan di dalam tubuh umat. Sejarah menunjukkan bahwa strategi “pecah belah dan kuasai” merupakan salah satu metode paling efektif yang digunakan berbagai kekuatan politik untuk mempertahankan pengaruhnya.

Hari ini pola itu masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Konflik antara sesama Muslim, pertentangan mazhab, ketegangan etnis, hingga rivalitas politik sering kali diperbesar sehingga menutupi kepentingan yang jauh lebih besar. Akibatnya, energi umat habis untuk pertikaian internal, sementara tantangan utama justru tidak tersentuh.

Karena itulah persatuan menjadi tema sentral yang terus diulang dalam berbagai seruan pembaruan Islam. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang alami, bahkan dalam satu mazhab sekalipun. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Baca Juga  Shalat Tiang Agama: Mengapa Kehidupan Spiritual Bisa Runtuh Tanpa Shalat?

Al-Qur’an mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini mengajarkan bahwa titik temu harus lebih besar daripada titik perbedaan. Umat Islam memiliki banyak kesamaan: keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, penghormatan terhadap Al-Qur’an, dan komitmen terhadap nilai-nilai keadilan. Persamaan-persamaan inilah yang semestinya menjadi fondasi persaudaraan.

Masalahnya, sering kali perhatian justru tersedot pada persoalan-persoalan cabang. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan intelektual berubah menjadi alat untuk saling menyesatkan. Di era media sosial, situasi ini bahkan menjadi lebih berbahaya. Sebuah pernyataan provokatif dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, dan emosi sering kali mengalahkan akal sehat.

Padahal Islam tidak datang untuk menciptakan permusuhan dengan bangsa atau agama lain. Al-Qur’an bahkan mengajak pemeluk agama lain untuk mencari titik temu bersama:

تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

“Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian” (QS. Ali Imran: 64)

Pesan ini menunjukkan bahwa Islam berdiri di atas dialog, bukan dominasi; di atas keadilan, bukan penindasan. Yang ditentang Islam bukanlah keberagaman manusia, melainkan kezaliman, keserakahan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, tantangan terbesar dunia Islam saat ini bukan sekadar bagaimana menjadi kuat secara politik atau maju secara ekonomi. Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun kembali kepercayaan, solidaritas, dan visi bersama di tengah keragaman yang ada.

Kelahiran Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pembenahan manusia. Dari akhlak sebelum kekuasaan. Dari persaudaraan sebelum kemenangan. Dari ilmu sebelum slogan.

Mungkin inilah pelajaran paling penting yang perlu direnungkan pada setiap peringatan kelahiran Nabi saw: bahwa kebangkitan Islam tidak akan lahir dari kemarahan, melainkan dari persatuan; tidak dari saling mengkafirkan, melainkan dari saling memahami; tidak dari kebencian, melainkan dari keberanian untuk kembali kepada nilai-nilai rahmat yang menjadi inti risalah kenabian.

Baca Juga  Ketika Ali Menangisi Sahabat-Sahabatnya: Kesepian Seorang Pemimpin di Tengah Umat yang Lelah

Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik identitas, pesan itu terasa lebih relevan daripada sebelumnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar