Ketika Diam Menjadi Dosa: Pelajaran Imam Husain Melawan Kezaliman

KHAMENEI.ID–  Lima puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, sesuatu yang nyaris tak terbayangkan terjadi. Kursi yang dahulu diduduki seorang nabi yang membawa risalah tauhid dan keadilan kini ditempati oleh penguasa yang, menurut banyak catatan sejarah Islam, tenggelam dalam kemewahan, penyimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Yang lebih mengejutkan bukanlah kemunculan penguasa itu, melainkan kenyataan bahwa banyak orang menganggapnya biasa.

Bahaya terbesar sebuah masyarakat ternyata bukan hanya hadirnya kezaliman. Bahaya yang lebih mengerikan adalah ketika kezaliman tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Ketika masyarakat kehilangan kepekaan moralnya, ketika yang salah tampak normal, dan ketika suara hati perlahan dibungkam oleh kenyamanan serta ketakutan.

Dalam situasi semacam itulah Imam Husain bin Ali a.s berdiri.

Ia bukan sekadar cucu Nabi saw. Dalam sebuah hadis yang terkenal, Rasulullah pernah bersabda:

حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا

“Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain”

Kalimat itu bukan hanya ungkapan kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Ia menunjukkan bahwa perjuangan Husain a.s merupakan kelanjutan dari misi kenabian itu sendiri. Karena itulah ketika nilai-nilai Islam mulai digeser oleh kekuasaan yang korup, Husain a.s tidak melihat dirinya memiliki pilihan untuk diam.

Banyak orang memahami peristiwa Karbala hanya sebagai respons terhadap undangan masyarakat Kufah yang meminta Imam Husain a.s memimpin mereka. Padahal, jika dicermati lebih dalam, undangan itu hanyalah bagian dari rangkaian peristiwa. Esensi gerakan Husain a.s jauh lebih besar daripada sekadar perebutan kekuasaan atau pergantian pemerintahan.

Yang ingin dilakukan Husain a.s adalah membangunkan kesadaran umat.

Ia ingin memberikan pelajaran yang akan terus hidup melampaui zamannya. Sebuah pedoman tentang apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika agama diperalat, ketika keadilan diinjak-injak, dan ketika kekuasaan berubah menjadi alat penindasan.

Baca Juga  Diam di Tengah Fitnah: Ketika Netralitas Justru Menjadi Bagian dari Masalah

Menariknya, Husain a.s tidak menulis pedoman itu dalam bentuk teori. Ia tidak sekadar berpidato dari mimbar atau menyusun nasihat panjang yang kemudian ditinggalkan. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh.

Ia berjalan di jalan yang ia yakini benar, meskipun jalan itu berakhir dengan pengorbanan.

Dalam salah satu suratnya, Imam Husain a.s mengingatkan sebuah sabda Nabi yang sangat keras bunyinya:

مَنْ رَأَى سُلْطَانًا جَائِرًا مُسْتَحِلًّا لِحُرُمِ اللَّهِ… ثُمَّ لَمْ يُغَيِّرْ بِقَوْلٍ وَلَا فِعْلٍ، كَانَ حَقِيقًا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ مَدْخَلَهُ

“Barang siapa melihat penguasa zalim yang melanggar aturan Allah, mengkhianati perjanjian-Nya, menentang ajaran Rasul-Nya, dan memperlakukan manusia dengan dosa serta permusuhan, lalu ia tidak berusaha mengubah keadaan itu melalui ucapan ataupun tindakan, maka Allah berhak menempatkannya bersama penguasa zalim tersebut.”

Pesan hadis ini sangat tajam. Ia tidak hanya mengutuk pelaku kezaliman. Ia juga menyoroti mereka yang memilih netral saat ketidakadilan berlangsung.

Dalam pandangan moral Islam, diam bukan selalu posisi aman. Dalam keadaan tertentu, diam justru merupakan bentuk keterlibatan.

Tentu saja tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk melawan. Tidak semua orang dituntut mengangkat senjata atau mengorbankan nyawa. Namun hadis tersebut mengingatkan bahwa membiarkan keburukan terus berlangsung tanpa sikap apa pun adalah persoalan yang serius.

Inilah inti dari kebangkitan Imam Husain a.s. Karbala bukan sekadar kisah tentang peperangan yang tidak seimbang. Karbala adalah peristiwa yang mengubah standar moral umat. Ia mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kemenangan politik, jumlah pasukan, atau kekuasaan yang diraih.

Di padang Karbala, Husain a.s kehilangan hampir segalanya. Ia kehilangan keluarga, sahabat, dan akhirnya nyawanya sendiri. Ia mengetahui bahwa setelah dirinya gugur, para perempuan dan anak-anak dari keluarga Nabi saw akan ditawan. Di antara mereka ada sosok agung seperti Sayyidah Zainab a.s yang harus menghadapi perjalanan panjang sebagai tawanan.

Baca Juga  Ikhlas dalam Perjuangan: Sebab Pertolongan Tuhan Hanya Datang kepada Mereka yang Tulus Berjuang

Namun bagi Husain a.s, semua pengorbanan itu bukan harga yang terlalu mahal dibanding tujuan yang hendak dicapai.

Sebab nilai sebuah pengorbanan tidak diukur dari besarnya biaya yang dikeluarkan, melainkan dari besarnya manfaat yang dihasilkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memahami logika ini dengan mudah. Mengeluarkan uang seratus ribu rupiah bisa menjadi pemborosan jika tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, mengeluarkan miliaran rupiah bisa dianggap wajar jika menyelamatkan sebuah bangsa dari kehancuran. Nilai pengorbanan selalu ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai.

Begitu pula dengan Karbala.

Dari sudut pandang material, Husain a.s kalah. Tetapi dari sudut pandang sejarah, ia menang dengan cara yang jauh lebih mendalam. Darah yang tertumpah di Karbala justru membangunkan kesadaran yang selama itu tertidur. Peristiwa tersebut menjadi simbol abadi bahwa legitimasi kekuasaan tidak dapat dibangun di atas ketidakadilan.

Lebih dari empat belas abad kemudian, pesan itu masih terasa relevan.

Kita hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya sering kali serupa. Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk tirani besar. Kadang ia muncul dalam bentuk korupsi yang dianggap biasa, kebohongan yang terus diulang, diskriminasi yang dibiarkan, atau penyalahgunaan wewenang yang diterima sebagai kewajaran.

Pada saat-saat seperti itulah Karbala kembali berbicara kepada kita.

Bukan untuk mengajak semua orang menjadi pahlawan besar, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada batas ketika diam tidak lagi netral. Ada titik ketika suara hati menuntut keberanian untuk bersikap.

Imam Husain a.s mengajarkan bahwa mempertahankan kebenaran memang memiliki harga. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa membiarkan kezaliman tanpa perlawanan sering kali menuntut harga yang jauh lebih mahal.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Karbala: bahwa manusia tidak selalu diukur dari seberapa lama ia hidup, melainkan dari keberanian yang ia tunjukkan ketika kebenaran membutuhkan suara.

Baca Juga  Akal dan Kebangkitan Peradaban: Misi Pertama Nabi yang Sering Dilupakan 
Bagikan:
Terkait
Komentar