KHAMENEI.ID– Ada peristiwa-peristiwa yang tidak hanya dikenang karena terjadi, tetapi karena dampaknya terus bergema melampaui zaman. Ghadir Khum adalah salah satunya. Di tengah hamparan padang pasir yang panas, dalam perjalanan pulang dari haji terakhir Nabi Muhammad saw, sebuah pesan disampaikan yang kemudian menjadi salah satu titik paling penting dalam sejarah Islam. Bagi banyak ulama dan tradisi Islam, peristiwa itu bukan sekadar pengumuman, melainkan penentuan arah: siapa yang akan menjadi penuntun umat setelah Rasulullah saw.
Karena itulah Hari Raya Ghadir disebut sebagai Idullah al-Akbar, Hari Raya Allah yang paling agung. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Dalam tradisi yang dinukil dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s, bahkan puasa pada hari Ghadir disebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar. Ia digambarkan setara dengan pahala ibadah yang tak terbayangkan, hingga disamakan dengan seratus haji dan seratus umrah yang diterima setiap tahun. Di penghujung riwayat itu disebutkan: “Wa huwa ‘Idullahil Akbar” dan itulah hari raya Allah yang paling besar.
Mengapa sebuah peristiwa sejarah memperoleh kedudukan setinggi itu?
Jawabannya terletak pada satu persoalan yang selalu menentukan nasib sebuah masyarakat: kepemimpinan.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan arah. Sebuah bangsa dapat memiliki kekayaan, teknologi, bahkan kekuatan militer yang besar. Namun tanpa kepemimpinan yang mampu menjaga nilai, keadilan, dan tujuan bersama, semuanya perlahan akan tercerai-berai.
Dalam perspektif Ghadir, Islam tidak hanya datang membawa ajaran spiritual, tetapi juga memberikan jawaban tentang bagaimana masyarakat harus dipimpin. Di titik itulah nama Ali bin Abi Thalib a.s tampil sebagai figur sentral.
Ali a.s bukanlah sosok yang dibentuk oleh ambisi kekuasaan. Sejak muda ia dikenal sebagai sahabat terdekat Nabi saw, pejuang yang berani, ahli ilmu yang mendalam, dan pribadi yang hidup sederhana. Bahkan ketika kesempatan untuk berkuasa datang, ia tidak mengejarnya. Justru masyarakatlah yang mendatangi dan mendesaknya untuk memegang kendali pemerintahan setelah masa-masa penuh gejolak.
Namun ketika amanah itu akhirnya berada di pundaknya, Ali a.s tidak ragu mengambil tanggung jawab. Ia memasuki gelanggang politik dengan keberanian penuh. Sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengannya menggambarkan karakter itu dengan sangat jelas:
لا يخاف في الله لومة لائم
“Ia tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam menjalankan perintah Allah”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan salah satu kualitas paling langka dalam kepemimpinan: keberanian moral.
Di zaman modern, banyak pemimpin lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan prinsip. Keputusan sering diukur berdasarkan survei, tren media sosial, atau tekanan kelompok tertentu. Akibatnya, kebenaran menjadi relatif dan keadilan sering dikorbankan demi kenyamanan politik.
Ali a.s menawarkan model yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh dikendalikan oleh ketakutan terhadap kritik ketika yang dipertaruhkan adalah kebenaran dan keadilan.
Lebih dari itu, warisan kepemimpinan Ali a.s tidak berhenti pada keberanian. Dalam salah satu surat pemerintahannya yang terkenal, ia memberikan pedoman yang hingga hari ini terasa sangat relevan. Kepada pejabat yang diutusnya, Ali a.s berpesan agar masyarakat diajak kepada persatuan dan ketaatan pada nilai-nilai bersama. Menurutnya, di dalam kebersamaan terdapat keselamatan dan manfaat yang sering kali tidak disadari manusia.
Ia juga menegaskan pentingnya kelembutan dalam memimpin. Seorang penguasa, katanya, harus merendahkan sayapnya kepada rakyat. Ia harus memperlakukan semua orang secara setara dalam pertemuan maupun pelayanan. Orang dekat dan orang jauh, pendukung maupun lawan, tidak boleh dibedakan dalam urusan hak.
Pesan itu terasa seperti kritik yang melintasi abad. Sebab hingga hari ini, salah satu penyakit terbesar dalam pemerintahan adalah perlakuan yang berbeda terhadap warga berdasarkan kedekatan politik, status sosial, atau kekuatan ekonomi.
Ali a.s menolak cara pandang semacam itu.
Baginya, hukum harus berdiri di atas semua kepentingan. Keadilan tidak boleh mengenal keluarga, kelompok, ataupun jaringan kekuasaan. Karena itu ia menegaskan:
“Hendaklah ia mengadili manusia dengan adil, menegakkan pemerintahan di atas fondasi keadilan, tidak mengikuti hawa nafsu, dan tidak takut terhadap celaan para pencela dalam menjalankan jalan Allah.”
Di tengah krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang terjadi di banyak tempat saat ini, pesan tersebut terasa semakin hidup. Masyarakat modern sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang sering langka adalah figur yang mampu memadukan kecerdasan dengan integritas, kekuasaan dengan kerendahan hati, serta keberanian dengan keadilan.
Di sinilah makna Ghadir menjadi lebih luas daripada sekadar perdebatan sejarah. Ia berbicara tentang kebutuhan manusia akan kepemimpinan yang bermoral. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan amanah. Bahwa pemimpin terbaik bukan yang paling banyak dipuji, melainkan yang paling setia kepada kebenaran ketika pujian dan celaan sama-sama datang menghampiri.
Karena itu, mengenang Ghadir bukan hanya mengenang sebuah peristiwa di padang pasir lebih dari empat belas abad yang lalu. Ia adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: model kepemimpinan seperti apa yang sedang kita bangun hari ini?
Apakah kita sedang melahirkan pemimpin yang mengejar popularitas, atau pemimpin yang berani menegakkan keadilan meski harus menghadapi tekanan?
Pertanyaan itu tetap relevan dari generasi ke generasi. Dan mungkin itulah sebabnya Hari Ghadir disebut sebagai hari raya yang besar. Sebab yang dirayakan bukan sekadar sebuah pengangkatan, melainkan sebuah prinsip: bahwa masa depan umat selalu ditentukan oleh kualitas orang-orang yang memimpin mereka.







