Istighfar Setiap Hari: Mengapa Nabi yang Ma’shum Pun Memohon Ampunan?

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia modern sering kali merasa tidak punya waktu untuk berhenti sejenak. Jadwal yang padat, notifikasi yang tak henti berbunyi, dan tuntutan hidup yang terus bertambah membuat kita terbiasa berlari tanpa sempat menoleh ke dalam diri. Padahal, justru di tengah kesibukan itulah manusia paling rentan kehilangan kejernihan hati. Karena itu, tradisi istighfar; memohon ampun kepada Allah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kebutuhan eksistensial yang semakin relevan di zaman sekarang.

Sering kali ada anggapan bahwa istighfar hanya diperlukan oleh mereka yang melakukan kesalahan besar. Mereka yang merasa hidupnya baik-baik saja cenderung menganggap dirinya tidak terlalu membutuhkan permohonan ampun. Padahal, pandangan semacam itu justru menunjukkan betapa manusia sering tidak menyadari keterbatasan dirinya sendiri.

Dalam sebuah hadis yang terkenal, Nabi Muhammad saw bersabda:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Sungguh, ada semacam debu yang menutupi hatiku, dan aku memohon ampun kepada Allah setiap hari sebanyak tujuh puluh kali.”

Pernyataan ini mengundang perenungan yang mendalam. Jika Nabi Muhammadsaw yang dalam keyakinan Islam terjaga dari dosa dan kesalahan besar masih beristighfar hingga puluhan kali setiap hari, lalu bagaimana dengan manusia biasa yang setiap hari bergulat dengan berbagai kelemahan, kelalaian, dan godaan?

Tentu yang dimaksud Nabi saw bukanlah dosa sebagaimana yang dipahami kebanyakan orang. Para ulama menjelaskan bahwa hati manusia, bahkan hati seorang nabi saw, bisa mengalami apa yang diibaratkan sebagai “ghain”, yakni lapisan tipis yang membuat kejernihan spiritual sedikit berkurang. Bukan kegelapan, melainkan seperti debu halus yang menempel pada kaca jendela. Cahaya masih masuk, tetapi tidak secerah sebelumnya.

Baca Juga  Hakikat Wilayah dalam Islam: Makna Maula, Kedekatan, dan Kepemimpinan yang Menyatu dengan Rakyat

Analogi ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Hari-hari kita mungkin tidak dipenuhi oleh pelanggaran besar. Namun berapa banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal sia-sia? Berapa banyak kesempatan berbuat baik yang terlewat? Berapa sering hati menjadi keras karena terlalu sibuk mengejar urusan dunia?

Kita hidup dalam peradaban yang memberi ruang sangat besar bagi aktivitas material. Sejak bangun tidur hingga kembali terlelap, pikiran dipenuhi target pekerjaan, urusan ekonomi, persaingan sosial, dan berbagai kecemasan masa depan. Tanpa disadari, lapisan demi lapisan debu itu menempel pada hati. Tidak selalu terlihat, tetapi perlahan mengurangi sensitivitas batin.

Di sinilah makna istighfar menjadi sangat penting. Istighfar bukan hanya permohonan agar dosa dihapuskan. Ia juga merupakan proses membersihkan hati dari residu kehidupan sehari-hari. Sebagaimana tubuh membutuhkan mandi untuk menghilangkan kotoran yang menempel, jiwa membutuhkan istighfar untuk membersihkan debu yang mengaburkan nurani.

Menariknya, Nabi saw tidak mengajarkan istighfar sebagai respons sesaat setelah berbuat salah. Beliau menjadikannya kebiasaan harian. Dengan kata lain, istighfar bukan tindakan darurat, melainkan gaya hidup spiritual. Ia dilakukan secara terus-menerus karena manusia selalu berpotensi lalai.

Kesadaran ini mengajarkan kerendahan hati yang mendalam. Semakin tinggi kualitas spiritual seseorang, semakin besar pula kesadarannya akan kebutuhan untuk kembali kepada Allah. Sebaliknya, merasa tidak membutuhkan istighfar sering kali menjadi tanda bahwa seseorang mulai kehilangan kepekaan terhadap keadaan dirinya sendiri.

Di tengah budaya yang mendorong manusia untuk selalu tampak sempurna, istighfar mengajarkan keberanian untuk mengakui keterbatasan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus menjadi sempurna untuk mendekat kepada Tuhan. Justru kesadaran akan ketidaksempurnaan itulah yang membuka jalan menuju kedekatan tersebut.

Istighfar sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan bertanya kepada diri sendiri: sudah seberapa bersih hati yang kita bawa selama ini?

Baca Juga  Ketika Ketakutan Gagal Menguasai: Rahasia Keteguhan Hati dalam Doa Sahifah Sajadiyah

Mungkin kita tidak mampu beristighfar tujuh puluh kali sehari sebagaimana dicontohkan Nabi saw. Namun setidaknya kita bisa memulai dengan menyadari bahwa hati juga membutuhkan perawatan. Sebab kerusakan hati tidak selalu datang melalui dosa besar. Kadang ia hadir melalui kelalaian-kelalaian kecil yang terus menumpuk hingga menjadi dinding tebal antara manusia dan Tuhannya.

Pada akhirnya, istighfar bukan sekadar ucapan yang berulang di bibir. Ia adalah pengakuan bahwa manusia selalu membutuhkan rahmat. Ia adalah kesadaran bahwa perjalanan spiritual tidak pernah selesai. Dan di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tidak ada kalimat yang lebih menenangkan selain pengakuan sederhana seorang hamba yang berkata: Astaghfirullah; aku memohon ampun kepada Allah.

Bagikan:
Terkait
Komentar