Kebebasan Sejati Menurut Imam Ali Khamenei: Ketika Musuh Terbesar Bukan Negara, Melainkan Diri Sendiri

KHAMENEI.ID – Di zaman ketika kebebasan menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan, ironi justru muncul dari kenyataan bahwa semakin banyak orang merasa tidak bebas.

Mereka hidup di negara yang menjamin hak berbicara, memiliki akses tak terbatas pada informasi, dan dapat menyampaikan pendapat melalui berbagai platform. Namun di saat yang sama, banyak yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan, enggan menyampaikan kebenaran ketika berhadapan dengan kekuasaan, atau menyembunyikan keyakinannya karena takut kehilangan kenyamanan.

Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: apakah kebebasan hanya soal tidak adanya tekanan dari luar? Ataukah ada bentuk penjara lain yang justru berada di dalam diri manusia sendiri?

Dalam salah satu pembahasannya tentang konsep kebebasan, Imam Ali Khamenei qs menawarkan sudut pandang yang jarang dibicarakan dalam diskursus modern. Beliau memulai dengan sebuah klarifikasi penting. Ketika berbicara tentang kebebasan, yang dimaksud bukanlah semata-mata kebebasan spiritual dalam pengertian perjalanan mistik menuju Allah swt, sebagaimana dibahas dalam tradisi tasawuf dan irfan Islam.

Menurut beliau, kebebasan spiritual dalam makna mendekat kepada Allah swt, menempuh jalan tauhid, serta mencapai kecintaan dan kedekatan kepada-Nya merupakan salah satu puncak kesempurnaan manusia. Dari jalan inilah lahir tokoh-tokoh besar spiritual seperti almarhum Mulla Husainquli Hamadani, almarhum Ayatullah Muhammad Husain Qadhi, dan almarhum Ayatullah Muhammad Husain Thabathaba’i.

Namun, kata Imam Khamenei, itu bukan pokok pembahasan ketika dunia modern berbicara tentang kebebasan.

Yang menjadi perdebatan global saat ini adalah kebebasan sosial, kebebasan politik, kebebasan individu, dan hak-hak masyarakat dalam ruang publik. Inilah medan diskusi yang menurut beliau harus dihadapi secara serius oleh umat Islam dan para pemikir kontemporer.

Akan tetapi, di tengah pembahasan mengenai kebebasan sosial dan politik tersebut, Imam Khamenei mengingatkan bahwa terdapat lapisan persoalan yang lebih dalam. Seseorang bisa saja hidup dalam masyarakat yang relatif bebas, tetapi tetap tidak mampu bertindak merdeka.

Baca Juga  Iman yang Melahirkan Keberanian untuk Menolak Dominasi dalam Pandangan Imam Ali Khamenei qs

Mengapa?

Karena ada belenggu-belenggu yang tidak terlihat.

Belenggu itu tidak dibuat oleh pemerintah, tidak dipasang oleh hukum, dan tidak dipaksakan oleh orang lain. Ia lahir dari dalam diri manusia sendiri.

Imam Khamenei menyebutnya sebagai hambatan-hambatan internal yang menghalangi kebebasan berpikir dan kebebasan bertindak.

Yang pertama adalah rasa takut.

Takut kehilangan nyawa. Takut kehilangan penghasilan. Takut jatuh miskin. Takut menghadapi tekanan sosial. Takut terhadap ancaman yang mungkin muncul ketika seseorang menyampaikan kebenaran.

Dalam pandangan beliau, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh ketakutan semacam ini.

Allah swt berfirman:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Pada ayat lain disebutkan:

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)

Bahkan kepada Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an mengingatkan:

وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ

“Engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak untuk engkau takuti.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Bagi Imam Khamenei, pesan ayat-ayat tersebut bukan hanya persoalan ibadah personal. Ia berkaitan langsung dengan keberanian sosial. Seseorang yang dikuasai rasa takut akan kesulitan berbicara jujur, sulit mempertahankan prinsip, dan mudah berkompromi dengan kesalahan.

Selain rasa takut, ada pula hambatan lain yang lebih halus: ketergantungan pada privilese dan kepentingan pribadi.

Seseorang mungkin mengetahui sebuah keburukan, tetapi memilih diam karena khawatir kehilangan jabatan. Ia mungkin menyadari adanya penyimpangan, tetapi enggan mengkritiknya karena takut kehilangan fasilitas atau kedudukan yang selama ini dinikmati.

Dalam situasi seperti itu, yang membungkam kebebasan bukanlah kekuatan eksternal, melainkan keterikatan batin terhadap keuntungan duniawi.

Baca Juga  Netralitas yang Mematikan: Mengapa Ulama Tak Boleh Diam Menurut Imam Ali Khamenei

Lebih jauh lagi, Imam Khamenei menyebut keserakahan sebagai salah satu musuh besar kebebasan manusia. Ketika seseorang memiliki ambisi berlebihan terhadap kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh, ia akan kehilangan keberanian untuk berbicara secara jujur kepada mereka yang dapat memberinya keuntungan.

Ia tidak lagi berbicara berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan kalkulasi.

Lidahnya menjadi tawanan kepentingan.

Pikirannya menjadi tawanan harapan-harapan duniawi.

Tidak berhenti di situ, beliau juga menyebut penyakit lain yang sering dianggap sepele: iri hati, fanatisme yang tidak rasional, serta sikap jumud atau ketertutupan intelektual.

Ketiganya sama-sama mampu menghalangi seseorang untuk berpikir secara objektif. Orang yang dikuasai kedengkian tidak lagi melihat kebenaran sebagai kebenaran. Ia melihat segala sesuatu melalui kacamata kebencian. Demikian pula mereka yang terperangkap dalam fanatisme buta atau kekakuan berpikir. Mereka sulit menerima fakta baru karena telah membangun tembok-tembok psikologis di dalam dirinya sendiri.

Dalam konteks inilah Imam Khamenei memperkenalkan makna kedua dari kebebasan spiritual.

Bukan kebebasan spiritual dalam arti perjalanan menuju Tuhan sebagaimana dibahas para arif dan sufi.

Melainkan kebebasan spiritual sebagai pembebasan diri dari rantai-rantai batin yang menghalangi manusia untuk hidup secara jujur dan berani.

Kebebasan jenis ini memungkinkan seseorang mengatakan apa yang diyakininya benar. Memungkinkannya membela keadilan meski harus menghadapi risiko. Memungkinkannya menolak kemunafikan dan menjalani kehidupan yang selaras antara keyakinan dan tindakan.

Tanpa kebebasan semacam ini, kebebasan politik dan sosial sering kali hanya menjadi slogan. Sebab seseorang dapat hidup dalam sistem yang demokratis, tetapi tetap menjadi tawanan rasa takut, keserakahan, dan kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, pemikiran Imam Ali Khamenei tentang kebebasan mengajak kita melihat persoalan dari arah yang berbeda. Selama ini kita terbiasa mencari sumber penindasan di luar diri. Kita mengkritik struktur, sistem, dan berbagai bentuk tekanan sosial.

Baca Juga  Visi Besar Imam Ali Khamenei tentang Kemandirian Ilmu Pengetahuan

Semua itu memang penting.

Namun terkadang, tembok yang paling tinggi bukanlah yang dibangun oleh orang lain. Tembok itu berdiri di dalam hati manusia sendiri.

Dan mungkin di sanalah perjuangan kebebasan yang paling sulit sekaligus paling menentukan dimulai.

Bagikan:
Terkait
Komentar