KHAMENEI.ID– Ada kelahiran yang hanya dikenang oleh keluarga. Ada pula kelahiran yang mengubah arah sejarah manusia. Kelahiran Nabi Muhammad saw. termasuk yang kedua. Ia bukan sekadar peristiwa biologis yang terjadi di sebuah kota kecil bernama Makkah pada abad ke-6. Dalam pandangan Islam, kelahirannya adalah awal dari sebuah fajar baru yang mengakhiri zaman kegelapan dan membuka lembaran peradaban yang berbeda.
Tak heran jika banyak riwayat menggambarkan malam kelahiran beliau sebagai malam yang penuh tanda-tanda besar. Seakan-akan alam semesta sedang mengumumkan bahwa sesuatu yang agung telah tiba. Istana-istana kekuasaan berguncang, simbol-simbol kesombongan runtuh, api yang selama berabad-abad disembah manusia padam, dan berhala-berhala yang selama ini dianggap suci mendadak tersungkur.
Apakah semua itu sekadar kisah simbolik? Atau memang sebuah pesan bahwa sejarah sedang berbelok ke arah baru?
Dalam tradisi Islam, kelahiran Nabi Muhammad saw dipandang sebagai pendahuluan dari misi besar yang akan datang: risalah kenabian. Dan risalah itu bukan hanya untuk satu bangsa, satu wilayah, atau satu zaman. Al-Qur’an menggambarkannya dengan kalimat yang sangat singkat tetapi mengandung makna yang luas:
وَما أَرسَلناكَ إِلّا رَحمَةً لِلعالَمينَ
“Kami tidak mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107)
Kata “seluruh alam” dalam ayat ini menarik untuk direnungkan. Ia tidak berbicara hanya tentang orang Arab, kaum Muslim, atau masyarakat tertentu. Rahmat yang dibawa Nabi Muhammad saw ditujukan kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh tatanan kehidupan.
Karena itu, ketika berbicara tentang pengaruh Nabi saw, kita tidak bisa membatasinya hanya pada aspek ritual keagamaan. Kehadirannya telah mengubah cara manusia memandang ilmu, keadilan, kemanusiaan, dan martabat individu. Dunia yang sebelumnya dibangun di atas hierarki suku, ras, dan kekuatan fisik perlahan diperkenalkan pada gagasan bahwa manusia memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan.
Malam kelahiran beliau digambarkan oleh sejumlah riwayat sebagai malam yang membuat kekuatan-kekuatan lama kehilangan wibawanya. Imam Ja’far al-Shadiq a.s meriwayatkan bahwa pada pagi hari setelah Nabi saw lahir, berhala-berhala yang memenuhi berbagai tempat pemujaan ditemukan terjungkal ke tanah. Istana Kisra, penguasa Persia yang melambangkan kemegahan kekaisaran dunia saat itu, retak dan sebagian menaranya runtuh. Dan api suci Persia yang konon telah menyala selama seribu tahun tiba-tiba padam.
Di balik kisah-kisah tersebut terdapat pesan yang lebih dalam daripada sekadar peristiwa fisik. Berhala tidak hanya berarti patung batu. Berhala adalah segala sesuatu yang menempatkan dirinya di posisi Tuhan: kekuasaan yang absolut, kesombongan yang tak terkendali, atau sistem yang menindas manusia atas nama apa pun. Maka runtuhnya berhala-berhala itu dapat dibaca sebagai simbol berakhirnya dominasi kebatilan yang selama ini menguasai kesadaran manusia.
Yang menarik, dampak kehadiran Nabi tidak saw berhenti pada zamannya sendiri. Banyak sejarawan modern mengakui bahwa lahirnya peradaban Islam menjadi salah satu mata rantai penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Di tengah Eropa yang masih berada dalam masa kegelapan intelektual, dunia Islam melahirkan tradisi ilmiah yang kuat. Astronomi, matematika, kedokteran, filsafat, hingga teknologi berkembang pesat di bawah semangat pencarian ilmu yang diajarkan Islam.
Dalam perspektif ini, ketika sebagian ulama mengatakan bahwa berbagai kemajuan ilmu pengetahuan manusia merupakan bagian dari berkah kehadiran Nabi Muhammad saw, pernyataan tersebut bukanlah hiperbola. Sebab Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun budaya membaca, berpikir, meneliti, dan memahami alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Namun rahmat terbesar yang dibawa Nabi saw mungkin bukanlah kemajuan material atau pencapaian intelektual. Rahmat terbesar itu adalah perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri.
Sebelum Islam datang, bayi perempuan dikubur hidup-hidup di sebagian wilayah Arab. Budak diperlakukan seperti barang dagangan. Yang kuat menelan yang lemah. Kehormatan manusia ditentukan oleh garis keturunan dan kekayaan. Nabi Muhammad saw. datang membawa gagasan yang revolusioner untuk zamannya: bahwa manusia dimuliakan bukan karena darah, warna kulit, atau status sosial, melainkan karena ketakwaannya.
Gagasan itu terdengar biasa bagi manusia modern. Tetapi pada abad ketujuh, ia adalah sebuah revolusi.
Karena itulah kelahiran Nabi saw bukan hanya peristiwa yang patut diperingati secara seremonial. Ia adalah momen untuk mengingat kembali pesan yang dibawanya. Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, ketimpangan, dan penyembahan terhadap berbagai “berhala modern” berupa kekuasaan, uang, popularitas, atau teknologi yang kehilangan arah moral, pesan kenabian tetap terasa relevan.
Barangkali inilah makna terdalam dari berbagai tanda yang menyertai kelahiran beliau. Alam semesta seolah ingin mengatakan bahwa ketika cahaya kebenaran hadir, kegelapan tidak lagi memiliki masa depan. Ketika rahmat datang, ketakutan mulai kehilangan kuasanya. Dan ketika seorang nabi lahir, sejarah manusia tidak akan pernah sama lagi.
Lebih dari empat belas abad telah berlalu sejak malam itu. Namun cahaya yang muncul dari jazirah Arab masih terus menjangkau berbagai penjuru dunia. Ia hadir dalam nilai-nilai keadilan, dalam semangat mencari ilmu, dalam penghormatan terhadap martabat manusia, dan dalam keyakinan bahwa kasih sayang lebih kuat daripada kebencian.
Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak menyebut Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi satu kaum atau satu kelompok. Ia disebut sebagai “rahmat bagi seluruh alam.” Sebuah rahmat yang tidak dibatasi ruang dan waktu, dan yang jejaknya masih dapat ditemukan hingga hari ini, setiap kali manusia memilih kebenaran di atas kesombongan, ilmu di atas kebodohan, dan kasih sayang di atas permusuhan.







