KHAMENEI.ID – Tidak banyak bangsa yang dijajah hanya karena kalah perang. Sebagian besar justru kehilangan kemandiriannya jauh sebelum peluru pertama ditembakkan. Mereka tertinggal dalam ilmu pengetahuan, bergantung pada teknologi asing, dan perlahan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri.
Dalam dunia modern, kekuasaan tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tentara atau luas wilayah. Kekuasaan lahir dari laboratorium, pusat riset, universitas, dan inovasi teknologi. Negara yang menguasai ilmu pengetahuan memiliki kemampuan untuk memengaruhi arah ekonomi, politik, bahkan budaya dunia. Sebaliknya, mereka yang tertinggal dalam sains sering kali hanya menjadi pasar, konsumen, atau pengikut.
Pandangan inilah yang menjadi salah satu tema penting dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs ketika berbicara tentang masa depan dunia Islam. Menurut beliau, jika negara-negara Barat dan Amerika Serikat mampu mendominasi banyak kawasan dunia selama beberapa abad terakhir, salah satu faktor terbesarnya adalah penguasaan ilmu dan teknologi.
Memang, beliau mengakui bahwa sebagian kekayaan dan kekuatan politik Barat diperoleh melalui kolonialisme, manipulasi politik, dan berbagai bentuk eksploitasi. Namun demikian, ada satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: mereka berhasil membangun kekuatan karena memiliki keunggulan ilmiah.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, dunia Islam tidak memiliki pilihan lain selain menjadikan ilmu pengetahuan sebagai prioritas utama.
Beliau mengutip sebuah hadis yang sangat terkenal:
«العِلمُ سُلطانٌ، مَن وَجَدَهُ صالَ وَمَن لَم يَجِدهُ صيلَ عَلَيه»
“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu menguasai, dan siapa yang tidak memilikinya akan dikuasai.”
Hadis singkat ini, dalam pandangan Imam Khamenei, menjelaskan realitas dunia modern dengan sangat tepat. Ilmu bukan sekadar alat untuk memperoleh gelar akademik atau prestise intelektual. Ilmu adalah instrumen kekuatan.
Bangsa yang memiliki ilmu akan memiliki “tangan yang kuat”. Mereka mampu mengembangkan teknologi sendiri, memenuhi kebutuhan strategisnya, serta mengambil keputusan secara mandiri. Sebaliknya, bangsa yang tidak menguasai ilmu akan terus bergantung kepada pihak lain. Ketergantungan itu pada akhirnya membuat mereka mudah ditekan dan diarahkan sesuai kepentingan pihak yang lebih kuat.
Di sinilah Imam Khamenei melihat pentingnya peran generasi muda. Menurut beliau, investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah sumber daya alam atau cadangan energi, melainkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir, meneliti, dan menciptakan inovasi.
Karena itu beliau berulang kali menyerukan agar anak-anak muda didorong untuk mencintai ilmu pengetahuan.
Menariknya, beliau tidak berbicara dari posisi yang sepenuhnya teoritis. Dalam ceramah tersebut, Imam Khamenei menunjuk pengalaman Iran sebagai contoh bagaimana sebuah negara dapat bergerak dari ketertinggalan menuju kemajuan ilmiah.
Menurut beliau, sebelum Revolusi Islam, Iran berada di posisi yang sangat rendah dalam peta ilmu pengetahuan dunia. Kehadiran ilmiah negara itu hampir tidak diperhitungkan dalam berbagai indikator internasional. Namun setelah revolusi, dengan segala tantangan politik dan ekonomi yang dihadapi, Iran mampu meningkatkan kapasitas ilmiahnya secara signifikan.
Imam Khamenei merujuk pada berbagai laporan internasional yang menempatkan Iran pada jajaran negara dengan pertumbuhan ilmiah yang cepat. Bahkan, menurut beliau, sejumlah lembaga internasional pernah memprediksi bahwa Iran berpotensi mencapai posisi yang lebih tinggi dalam peringkat ilmu pengetahuan global apabila tren pertumbuhan tersebut terus berlanjut.
Namun yang menarik, beliau tidak menjadikan capaian itu sebagai alasan untuk berpuas diri.
Sebaliknya, Imam Khamenei menegaskan bahwa dunia Islam secara keseluruhan masih tertinggal dibandingkan banyak pusat ilmu pengetahuan dunia. Meski laju pertumbuhan ilmiah meningkat, jarak yang harus ditempuh masih panjang.
Pandangan ini mengandung sebuah pelajaran penting: kemajuan tidak boleh melahirkan kesombongan, tetapi juga tidak boleh membuat bangsa kehilangan kepercayaan diri.
Dalam konteks dunia Islam, beliau mengajak umat untuk melihat sejarah secara lebih jernih. Ada masa ketika ilmu pengetahuan dunia berada di tangan kaum Muslim.
Pada abad-abad pertengahan, kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Nishapur, hingga Cordoba menjadi pusat intelektual dunia. Para ilmuwan Muslim mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, kimia, filsafat, dan berbagai disiplin ilmu lainnya ketika sebagian besar wilayah Eropa masih berada dalam masa yang sering disebut sebagai “Abad Kegelapan”.
Warisan itu bukan sekadar nostalgia sejarah. Bagi Imam Khamenei, sejarah tersebut adalah bukti bahwa kemampuan ilmiah dunia Islam bukanlah sesuatu yang mustahil.
Karena itu beliau mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah: jika pada masa lalu umat Islam pernah menjadi rujukan ilmu pengetahuan dunia, mengapa hal itu tidak bisa terjadi lagi?
Mengapa dunia Islam tidak berani membayangkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang universitas-universitas Muslim dapat menjadi tujuan utama para peneliti dunia?
Mengapa tidak memiliki ambisi bahwa negara-negara Islam suatu hari akan menjadi pusat referensi ilmiah global?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan bagi generasi muda Muslim hari ini. Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak negara berkembang masih terjebak dalam posisi sebagai pengguna teknologi, bukan pencipta teknologi. Mereka membeli inovasi dari luar, tetapi jarang menjadi sumber inovasi itu sendiri.
Dalam situasi seperti ini, pemikiran Imam Khamenei mengandung pesan yang lebih luas daripada sekadar soal sains. Ia berbicara tentang mentalitas peradaban.
Tentang keberanian untuk berpikir besar.
Tentang keyakinan bahwa kemajuan bukan monopoli bangsa tertentu.
Tentang pentingnya membangun masa depan dengan kerja keras, pendidikan, dan penelitian.
Pada akhirnya, inti dari gagasan Imam Ali Khamenei bukanlah sekadar mengejar angka peringkat universitas atau jumlah publikasi ilmiah. Yang beliau perjuangkan adalah lahirnya sebuah peradaban yang berdiri di atas fondasi ilmu pengetahuan.
Sebab dalam dunia yang semakin kompetitif, kekayaan dapat habis, sumber daya alam dapat menipis, dan kekuatan politik dapat berubah. Namun ilmu pengetahuan memiliki sifat yang berbeda. Ia menciptakan kemampuan untuk terus bangkit, berinovasi, dan membangun masa depan.
Dan mungkin karena itulah hadis yang dikutip Imam Khamenei tetap terdengar relevan hingga hari ini: ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan menentukan arah zaman. Siapa yang mengabaikannya, cepat atau lambat akan ditentukan oleh orang lain.







