Takwa yang Terlupakan: Ketika Menegakkan Keadilan Lebih Mulia daripada Ibadah Panjang 

KHAMENEI.ID– Setiap kali kata takwa disebut, sebagian besar dari kita segera membayangkan ritual-ritual pribadi: salat yang khusyuk, puasa yang tertib, zikir yang panjang, atau kehati-hatian dalam menjauhi larangan agama. Takwa seolah menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya semata. Ia dipahami sebagai kesalehan yang berlangsung di ruang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sosial.

Namun, benarkah takwa hanya berhenti pada batas itu?

Di tengah masyarakat yang mudah tersulut konflik, dipenuhi pertengkaran politik, perang opini di media sosial, dan ketimpangan yang masih terasa di banyak bidang, mungkin kita perlu membuka kembali makna takwa yang lebih luas. Takwa bukan hanya soal hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.

Sebuah doa terkenal dalam Sahifah Sajjadiyah, yang dikenal sebagai Doa Makarimul Akhlak, menawarkan perspektif yang menarik. Dalam doa itu terdapat permohonan:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ، وَحَلِّنِي بِحِلْيَةِ الصَّالِحِينَ، وَأَلْبِسْنِي زِينَةَ الْمُتَّقِينَ، فِي بَسْطِ الْعَدْلِ، وَكَظْمِ الْغَيْظِ، وَإِطْفَاءِ النَّائِرَةِ، وَضَمِّ أَهْلِ الْفُرْقَةِ، وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ

“Ya Allah, hiasilah aku dengan perhiasan orang-orang saleh dan pakaikanlah kepadaku pakaian orang-orang bertakwa: dalam menegakkan keadilan, menahan amarah, memadamkan api permusuhan, merangkul mereka yang tercerai-berai, dan mendamaikan hubungan yang retak”

Menariknya, doa ini tidak langsung berbicara tentang shalat atau puasa. Ia justru berbicara tentang keadilan, pengendalian emosi, rekonsiliasi, dan persatuan sosial. Seolah ingin mengatakan bahwa ukuran takwa tidak hanya tampak di sajadah, tetapi juga di ruang publik.

Keadilan menjadi poin pertama yang disebut. Ini bukan kebetulan. Sebab keadilan adalah fondasi kehidupan bersama. Ketika hukum ditegakkan secara adil, ketika kesempatan ekonomi terbuka merata, ketika sumber daya dibagikan tanpa diskriminasi, di situlah takwa memperoleh bentuk nyatanya.

Baca Juga  Meneladani Akhlak Fatimah Az-Zahra as: Dari Doa untuk Tetangga hingga Etika Solidaritas Modern

Sering kali kita menganggap ibadah ritual sebagai puncak pengabdian. Padahal dalam tradisi Islam terdapat ungkapan yang sangat kuat: satu saat berlaku adil lebih baik daripada tujuh puluh tahun ibadah yang diisi dengan puasa di siang hari dan salat di malam hari. Pesan ini tidak sedang meremehkan ibadah ritual. Ia justru menegaskan bahwa dampak keadilan menjangkau kehidupan banyak orang, sementara ibadah personal terutama membentuk diri pelakunya.

Karena itu, seorang pemimpin yang mengambil keputusan adil, seorang hakim yang memutus perkara tanpa keberpihakan, seorang atasan yang memperlakukan bawahannya secara proporsional, bahkan seorang kepala keluarga yang tidak membeda-bedakan anak-anaknya, sedang menjalankan salah satu bentuk takwa yang paling tinggi.

Aspek kedua adalah kemampuan menahan amarah. Ini terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu ujian paling berat. Banyak keputusan buruk lahir bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ledakan emosi.

Kita hidup di zaman yang mendorong reaksi cepat. Satu unggahan cukup membuat seseorang marah. Satu komentar dapat memicu permusuhan panjang. Dalam situasi seperti ini, kemampuan menahan diri menjadi semakin berharga.

Menahan amarah bukan berarti kehilangan ketegasan. Ia adalah kemampuan menjaga akal tetap bekerja ketika emosi sedang memuncak. Sebab kemarahan sering kali mengaburkan penilaian dan mendorong seseorang melakukan hal-hal yang kelak disesalinya.

Lalu ada pesan yang terasa sangat relevan dengan kehidupan hari ini: memadamkan api permusuhan.

Tidak sulit menemukan orang yang gemar memperbesar konflik. Ada yang menyebarkan kabar tanpa verifikasi, ada yang sengaja mengadu domba, ada pula yang menikmati pertengkaran karena memperoleh keuntungan politik atau sosial darinya. Mereka seperti penyulut api yang terus menambahkan bahan bakar ke dalam bara yang sebenarnya hampir padam.

Baca Juga  Kejujuran yang Punah dan Manusia yang Dirindukan Nabi 

Padahal takwa justru bergerak ke arah yang berlawanan. Takwa adalah kemampuan menjadi pemadam api sosial. Ketika orang lain menyebarkan kebencian, ia menyebarkan ketenangan. Ketika orang lain memperuncing perbedaan, ia mencari titik temu. Ketika orang lain sibuk mencari lawan, ia berusaha menemukan saudara.

Di era digital, pesan ini terasa semakin mendesak. Sebuah masyarakat bisa terbelah bukan oleh perbedaan besar, melainkan oleh provokasi kecil yang terus-menerus dipelihara. Karena itu, memadamkan konflik bukan hanya tugas tokoh agama atau pemimpin negara. Ia adalah tanggung jawab setiap warga yang peduli pada masa depan komunitasnya.

Pesan berikutnya adalah merangkul mereka yang terpisah dan memperbaiki hubungan yang retak. Dalam kehidupan sosial, tidak semua orang berada pada tingkat pemahaman dan kedewasaan yang sama. Ada yang kuat keyakinannya, ada yang masih rapuh. Ada yang konsisten, ada pula yang tersandung kesalahan.

Sering kali kita lebih mudah menghakimi daripada merangkul. Lebih mudah mengeluarkan seseorang dari lingkaran daripada mengajaknya kembali masuk. Padahal membangun persatuan jauh lebih sulit dan jauh lebih mulia dibanding memperlebar jurang perbedaan.

Prinsip ini mengajarkan bahwa selama nilai-nilai dasar tetap terjaga, pintu dialog tidak boleh ditutup. Mereka yang tersesat perlu diarahkan, bukan sekadar dicela. Mereka yang menjauh perlu diajak kembali, bukan didorong semakin jauh.

Semua pesan itu menjadi semakin bermakna ketika dikaitkan dengan Ramadan, yang oleh Imam Sajjad a.s disebut sebagai bulan taubat dan bulan kembali kepada Allah. Menariknya, puasa bukanlah ibadah yang sepenuhnya individual. Ia adalah pengalaman kolektif. Jutaan orang menahan lapar pada waktu yang sama, berbuka pada waktu yang sama, dan merasakan ikatan spiritual yang sama.

Karena itu, Ramadan sejatinya bukan hanya momentum memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga kesempatan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Sebab tak ada gunanya memperpanjang doa-doa di malam hari jika pada siang harinya kita masih menebar permusuhan, memperuncing perpecahan, atau mengabaikan keadilan.

Baca Juga  Bertahan di Jalan yang Benar: Pelajaran Istiqamah dari Imam Ali a.s 

Mungkin di sinilah letak makna takwa yang sering terlupakan. Ia bukan hanya soal berapa banyak ibadah yang kita lakukan, melainkan juga tentang seberapa besar kedamaian, keadilan, dan persatuan yang kita hadirkan di sekitar kita. Dan boleh jadi, di tengah dunia yang semakin gaduh, orang yang paling bertakwa bukanlah mereka yang paling sering berbicara tentang agama, melainkan mereka yang paling banyak memadamkan api pertikaian.

Bagikan:
Terkait
Komentar