KHAMENEI.ID– Di tengah kemajuan teknologi yang melesat nyaris tanpa jeda, manusia justru menghadapi paradoks yang menggelisahkan. Kita hidup pada zaman yang dipenuhi informasi, tetapi tidak selalu kaya kebijaksanaan. Kita mampu membangun mesin yang semakin cerdas, namun sering gagal membangun karakter yang semakin luhur. Dunia menjadi lebih terkoneksi, tetapi tidak otomatis lebih berbelas kasih.
Barangkali di sinilah letak persoalan paling mendasar peradaban modern: krisis cara berpikir dan krisis moral.
Jika ditelusuri lebih dalam, dua persoalan itu sesungguhnya telah lama menjadi perhatian para nabi. Misi kenabian bukan sekadar mengajarkan ritual atau memperkenalkan seperangkat hukum. Di balik seluruh ajaran yang mereka bawa, terdapat dua proyek besar kemanusiaan: membangunkan akal dan menyucikan jiwa.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”
Sabda itu sering dikutip, tetapi maknanya kerap berhenti di permukaan. Akhlak bukan sekadar sopan santun atau tata krama sosial. Akhlak adalah kualitas batin yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan, ilmu, kekayaan, dan kebebasannya. Tanpa akhlak, kecerdasan dapat berubah menjadi alat manipulasi. Tanpa akhlak, kekuatan dapat menjelma penindasan.
Karena itu Al-Qur’an menggambarkan tugas Rasulullah saw dengan urutan yang menarik:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan Kitab serta hikmah” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Menariknya, penyucian jiwa disebut lebih dahulu sebelum pengajaran hikmah. Seolah Al-Qur’an hendak mengatakan bahwa ilmu yang besar membutuhkan hati yang bersih. Pengetahuan tanpa pengendalian diri dapat menjadi bencana yang lebih besar daripada kebodohan itu sendiri.
Dalam konteks yang lebih luas, banyak problem dunia hari ini sesungguhnya bukan lahir karena kurangnya kemampuan teknis. Manusia sudah mampu mengirim wahana ke planet yang jauh, memetakan genom kehidupan, dan mengembangkan kecerdasan buatan yang menakjubkan. Namun peperangan tetap terjadi, ketimpangan sosial terus melebar, dan kerakusan ekonomi sering mengalahkan nurani.
Masalahnya bukan semata-mata pada apa yang diketahui manusia, melainkan pada siapa manusia itu sendiri.
Namun kisah kenabian tidak berhenti pada pembentukan akhlak. Ada sisi lain yang sama pentingnya: membangunkan daya pikir.
Dalam salah satu khutbah terkenal di Nahjul Balaghah, Imam Ali a.s menggambarkan tujuan para nabi dengan ungkapan yang sangat indah. Mereka diutus untuk membangkitkan kembali perjanjian fitrah manusia, mengingatkan nikmat yang terlupakan, dan menggali harta karun akal yang terpendam dalam diri manusia.
Ungkapan itu terasa sangat relevan pada zaman sekarang.
Sering kali kita mengira berpikir adalah aktivitas yang otomatis terjadi. Padahal tidak demikian. Banyak orang memiliki kemampuan berpikir, tetapi tidak pernah benar-benar menggunakannya. Mereka hidup dalam rutinitas, menerima informasi tanpa verifikasi, mengikuti arus tanpa refleksi, dan mengulang pendapat tanpa pernah mengujinya.
Akal yang tidak digunakan perlahan kehilangan ketajamannya.
Padahal manusia dianugerahi potensi luar biasa untuk merenung. Sejarah, pengalaman hidup, fenomena alam, bahkan kegagalan dan penderitaan, semuanya adalah bahan bakar bagi pertumbuhan kesadaran. Ketika seseorang berhenti bertanya, berhenti membaca, berhenti merenungkan sebab-akibat berbagai peristiwa, maka sesungguhnya ia sedang mengabaikan salah satu anugerah terbesar yang ditanamkan Tuhan dalam dirinya.
Di titik ini, misi para nabi tampak sebagai proyek pembebasan yang sangat mendalam. Mereka tidak datang untuk menggantikan akal manusia, melainkan untuk membangunkannya. Mereka tidak mengajak manusia menjadi pengikut yang pasif, tetapi menjadi pribadi yang sadar, berpikir, dan bertanggung jawab.
Karena itu sejarah kenabian selalu berhadapan dengan dua musuh yang sama: kebodohan dan hawa nafsu.
Kebodohan membuat manusia tidak mampu melihat kebenaran. Hawa nafsu membuat manusia menolak kebenaran meskipun telah melihatnya. Yang satu menggelapkan pikiran, yang lain mengeraskan hati. Maka perbaikan manusia selalu bergerak pada dua jalur sekaligus: pencerahan akal dan pemurnian jiwa.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih besar: masa depan peradaban.
Sering kali kita membayangkan kemajuan hanya dalam bentuk gedung yang menjulang, teknologi yang canggih, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Padahal peradaban sejati tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun manusia di luar dirinya, tetapi juga dari apa yang berhasil dibangun di dalam dirinya.
Sebuah masyarakat yang dipenuhi orang-orang berakhlak tetapi antiilmu akan mudah tertinggal. Sebaliknya, masyarakat yang dipenuhi orang-orang cerdas tetapi miskin moral akan mudah saling menghancurkan. Peradaban yang sehat membutuhkan keduanya sekaligus: kejernihan berpikir dan keluhuran karakter.
Mungkin inilah pesan yang paling mendesak bagi dunia hari ini. Ketika manusia semakin sibuk mengembangkan teknologi, jangan sampai ia melupakan pengembangan dirinya sendiri. Ketika informasi berlimpah, jangan sampai kebijaksanaan mengering. Ketika kemampuan semakin besar, jangan sampai tanggung jawab semakin kecil.
Pada akhirnya, kemajuan manusia tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia bergerak, melainkan oleh arah ke mana ia bergerak. Dan arah itu hanya dapat ditemukan ketika akal tetap hidup dan hati tetap bersih.
Sebab di sanalah dua warisan terbesar para nabi bertemu: kemampuan untuk berpikir dengan benar dan keberanian untuk hidup dengan benar.







