KHAMENEI.ID – Ada banyak peristiwa besar di dunia yang lahir dari perencanaan matang, anggaran promosi yang fantastis, dan kampanye media yang masif. Stadion dipenuhi melalui iklan, konser disesaki melalui pemasaran digital, dan agenda politik digerakkan oleh mesin propaganda. Namun ada sebuah fenomena yang terus berulang setiap tahun tanpa bergantung pada semua itu: jutaan manusia berjalan kaki menuju Karbala dalam peringatan Arbain.
Bagaimana mungkin jutaan orang meninggalkan rumah, pekerjaan, dan kenyamanan hidup hanya untuk menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki? Apa yang menggerakkan mereka?
Imam Ali Khamenei qs memandang fenomena Arbain bukan sekadar peristiwa sosial atau tradisi keagamaan. Menurut beliau, Arbain adalah sebuah tanda yang memperlihatkan campur tangan dan kehendak Ilahi dalam kehidupan manusia.
“Pada fenomena-fenomena seperti ini, ketika tidak ada propaganda besar, tidak ada upaya pemasaran yang masif, tetapi tiba-tiba sebuah peristiwa muncul dengan kekuatan luar biasa, di sanalah tangan Allah swt terlihat lebih jelas daripada di tempat-tempat lain,” Uja Imam Ali Khamenei.
Pandangan itu lahir dari sebuah kenyataan yang sulit dibantah. Di berbagai belahan dunia, untuk mengumpulkan puluhan ribu orang dalam satu acara dibutuhkan biaya promosi yang tidak sedikit. Bahkan setelah berbagai iklan dilakukan, hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Sebaliknya, Arbain berlangsung tanpa pola semacam itu. Dari Iran saja, jutaan peziarah berangkat menuju Karbala. Belum lagi jutaan lainnya dari Irak dan berbagai negara lain. Mereka tidak datang untuk menikmati kemewahan, bukan pula untuk berlibur di hotel-hotel berbintang. Mereka memilih berjalan kaki puluhan kilometer, menghadapi panas, debu, kelelahan, dan berbagai keterbatasan, demi mencapai makam Imam Husain as.
Bagi Imam Khamenei, fenomena ini tidak dapat dijelaskan hanya melalui analisis sosiologi atau psikologi massa. Ada kekuatan lain yang bekerja: kekuatan cinta yang berakar pada iman.
Namun cinta yang beliau maksud bukanlah cinta yang membutakan akal.
“Ini adalah jalan cinta, tetapi bukan cinta yang kehilangan kesadaran. Ini adalah cinta yang disertai dengan bashirah (kejernihan pandangan),” tegas beliau.
Untuk menjelaskan makna cinta tersebut, beliau mengutip sebuah doa yang sangat dikenal dalam khazanah Islam:
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوصِلُنِي إِلَى قُرْبِكَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal yang mendekatkanku kepada-Mu.”
Doa itu menunjukkan bahwa cinta dalam Islam bukan sekadar luapan emosi. Ia selalu memiliki arah, tujuan, dan kesadaran. Cinta menjadi magnet yang menggerakkan seseorang menuju kebaikan karena didasari oleh pemahaman, bukan sekadar perasaan sesaat.
Karena itulah, menurut Imam Khamenei, perjalanan Arbain adalah perpaduan antara iman dan cinta. Kedua unsur itu saling menguatkan. Keyakinan memberikan arah, sementara cinta memberikan tenaga untuk terus melangkah.
Beliau juga menyampaikan penghormatan kepada mereka yang memperoleh kesempatan mengikuti perjalanan tersebut. Dengan penuh kerendahan hati, Imam Khamenei mengungkapkan rasa iri dalam makna yang positif kepada para peziarah yang dapat hadir di Karbala, sementara beliau sendiri tidak memperoleh kesempatan itu.
Di saat yang sama, beliau memberikan apresiasi kepada masyarakat Irak yang setiap tahun membuka rumah, dapur, dan hati mereka untuk melayani jutaan tamu.
Pelayanan yang diberikan rakyat Irak memang telah menjadi salah satu keajaiban sosial Arbain. Dalam waktu singkat, jutaan orang memperoleh makanan, tempat beristirahat, layanan kesehatan, hingga bantuan transportasi tanpa transaksi komersial yang mendominasi. Sebuah bentuk gotong royong lintas bangsa yang sulit ditemukan dalam peristiwa lain dengan skala yang sama.
Lebih jauh, Imam Ali Khamenei menilai perjalanan menuju Karbala sebagai bagian dari syiar-syiar Allah. Beliau mengaitkannya dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ
“Janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah.” (QS. Al-Ma’idah: 2,).
Menurut beliau, Arbain merupakan salah satu manifestasi nyata dari syiar tersebut, karena ia menjaga hidupnya nilai-nilai pengorbanan, keadilan, kesetiaan, dan perjuangan yang diwariskan Imam Husain as.
Beliau bahkan mengutip ungkapan yang biasa dibaca dalam ziarah Karbala:
يَا لَيْتَنَا كُنَّا مَعَكُمْ فَنَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Alangkah baiknya jika kami bersama kalian, sehingga kami memperoleh kemenangan yang agung.”
Ungkapan itu, menurut beliau, bukan sekadar kalimat emosional. Ia mencerminkan kerinduan untuk ikut mengambil bagian dalam perjuangan menegakkan kebenaran yang menjadi pesan utama tragedi Karbala.
Menariknya, Imam AKhamenei melihat bahwa kekuatan mazhab Ahlul Bait terletak pada kemampuannya memadukan dua unsur yang sering dipisahkan: akal dan perasaan. Dalam pandangan beliau, tradisi Ahlul Bait dibangun di atas keseimbangan antara rasionalitas dan cinta, antara keyakinan intelektual dan kedekatan spiritual.
Hubungan para pecinta Ahlul Bait dengan para Imam bukan hanya hubungan historis, melainkan hubungan batin yang hidup melalui doa, ziarah, salam, dan dialog spiritual. Tradisi ziarah tidak sekadar menghadirkan kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang pendidikan ruhani yang dipenuhi nilai-nilai tauhid, keadilan, pengorbanan, dan kemanusiaan.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, warisan ziarah para Imam merupakan nikmat besar yang dimiliki para pengikut Ahlul Bait. Di dalamnya terdapat khazanah doa dan ziarah yang sarat dengan makna luhur, membimbing manusia untuk memperkuat hubungan dengan Allah swt sekaligus menumbuhkan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, Arbain bukan hanya tentang jutaan langkah menuju Karbala. Ia adalah perjalanan menuju kesadaran. Di sepanjang jalan itu, manusia belajar bahwa cinta sejati tidak memisahkan akal dari hati, tidak menjauhkan ibadah dari kepedulian sosial, dan tidak menjadikan agama sekadar ritual. Barangkali itulah sebabnya jutaan orang terus datang setiap tahun. Mereka tidak hanya berjalan menuju sebuah kota, tetapi sedang menempuh perjalanan panjang menuju makna.






