Kebangkitan Islam Dimulai Saat Umat Berhenti Menjadi Bayangan Kekuatan Lain 

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur di tengah hiruk-pikuk dunia Islam hari ini: mengapa umat dengan jumlah lebih dari satu miliar manusia justru terus tampak terpecah, mudah ditekan, dan kehilangan arah? Padahal sejarah pernah mencatat, dari rahim peradaban Islam lahir ilmu pengetahuan, tata sosial, hingga kekuatan politik yang mengubah wajah dunia. Namun kini, banyak negeri Muslim justru berdiri di antara reruntuhan konflik, ketergantungan, dan krisis identitas.

Barangkali masalahnya bukan karena umat Islam kekurangan sumber daya atau jumlah pengikut. Persoalan yang lebih dalam adalah hilangnya ruh Islam itu sendiri. Yang tersisa sering kali hanya simbol, slogan, dan identitas kosong.

Terdapat satu gagasan yang terdengar sederhana tetapi sangat radikal: satu-satunya jalan penyembuhan umat Islam adalah kembali kepada Islam yang asli, Islam yang murni, bukan Islam yang sudah dicampur kepentingan politik, fanatisme sempit, atau selera kekuasaan global.

Di sinilah letak persoalan besar itu. Selama beberapa dekade, dunia Islam seperti dipaksa memilih antara dua wajah ekstrem. Di satu sisi ada Islam yang keras, kaku, penuh takhayul, dan memusuhi akal sehat. Islam jenis ini sering ditampilkan media global sebagai representasi tunggal umat Muslim. Seolah Islam identik dengan kemarahan, keterbelakangan, dan kekerasan. Padahal wajah seperti itu justru membuat agama kehilangan daya hidupnya.

Di sisi lain, muncul Islam yang terlalu tunduk pada standar kekuatan Barat dan kepentingan politik global. Agama direduksi sekadar menjadi urusan privat, kehilangan keberanian moral untuk berbicara tentang keadilan, kemandirian, dan martabat manusia. Islam semacam ini tampak modern di permukaan, tetapi pelan-pelan tercerabut dari akarnya sendiri.

Kedua bentuk itu disebut sebagai “Islam Amerika” yakni Islam yang tidak lagi berdiri di atas nilai-nilai profetik, melainkan di atas kepentingan kekuasaan. Lawannya adalah “Islam Muhammadi yang murni”: Islam tauhid, persatuan, kemerdekaan manusia, dan keberpihakan kepada kaum tertindas.

Baca Juga  Dunia Memuji Imam Ali Setelah Wafat, Tapi Menolaknya Saat Berkuasa 

Karena itu, gagasan “kembali kepada Islam” bukan nostalgia romantis kepada masa lalu. Ia bukan ajakan mundur dari modernitas. Yang dimaksud justru kembali kepada inti moral Islam yang paling mendasar: keadilan, keberanian, persatuan umat, dan kebebasan dari dominasi.

Al-Qur’an menggambarkan prinsip itu dengan kalimat yang sangat kuat:

وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman” (QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini sering dipahami secara sempit sebagai slogan permusuhan. Padahal maknanya jauh lebih dalam. Ia berbicara tentang martabat. Tentang larangan hidup dalam ketergantungan total, mental terjajah, dan kehilangan kepercayaan diri sebagai umat. Sebab penjajahan paling berbahaya bukanlah penjajahan wilayah, melainkan penjajahan cara berpikir.

Dalam konteks modern, dominasi itu bisa hadir lewat ekonomi, media, budaya konsumsi, bahkan cara pandang terhadap diri sendiri. Banyak negeri Muslim kaya sumber daya tetapi miskin kemandirian. Mereka membeli teknologi, impor narasi, bahkan kadang mengimpor standar moral dari luar dirinya sendiri. Akibatnya, umat kehilangan keberanian menentukan masa depannya.

Padahal Islam sejak awal datang membawa visi pembebasan manusia. Nabi Muhammad saw membangun masyarakat bukan hanya dengan ritual, tetapi juga dengan solidaritas sosial dan keberanian melawan ketidakadilan. Karena itu, ketika Islam direduksi sekadar simbol ibadah tanpa kesadaran sosial, agama kehilangan daya transformasinya.

Perlu diketahui bahwa kebangkitan umat tidak akan lahir hanya dari kemarahan politik atau nostalgia sejarah. Kebangkitan memerlukan fondasi moral. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Baca Juga  Haji dan Persatuan Umat Islam: Ritual Spiritual atau Manifesto Perlawanan Global?

Ayat ini menarik karena menghubungkan iman dengan kesejahteraan sosial. Spiritualitas dalam Islam tidak dipisahkan dari kehidupan nyata. Kejujuran, amanah, keadilan ekonomi, dan kepedulian sosial bukan sekadar nilai moral pribadi, melainkan fondasi sebuah peradaban.

Di sinilah sebuah kritik terasa sangat relevan bagi dunia modern bahwa banyak masyarakat hari ini mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi dan kemegahan infrastruktur, tetapi melupakan dimensi moral manusia. Akibatnya lahirlah masyarakat yang maju secara teknologi tetapi rapuh secara batin. Manusia semakin terkoneksi, tetapi semakin kesepian. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menghilang.

Dunia Islam pun tidak kebal dari krisis itu. Kadang umat terlalu sibuk memperdebatkan simbol-simbol kecil, tetapi gagal membangun solidaritas besar. Energi habis untuk pertikaian internal, sementara ketimpangan sosial, kemiskinan, dan ketergantungan global terus membesar.

Namun tidak berarti bahwa kita berhenti pada pesimistis. Ada optimisme yang kuat di dalamnya: umat Islam sedang bangkit. Dari Timur hingga Barat dunia Islam, muncul kesadaran baru tentang identitas dan martabat. Kebangkitan itu mungkin belum sempurna, bahkan sering tampak kacau, tetapi ia sedang bergerak.

Karena itulah hendaknya kaum intelektual, ulama, dan pemimpin politik tidak sekadar menjadi penonton. Mereka memiliki tanggung jawab mempercepat lahirnya masa depan yang lebih bermartabat. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari cara manusia membayangkan dirinya sendiri.

Dan mungkin di situlah pelajaran dapat dipahami bahwa kebangkitan Islam bukan pertama-tama soal merebut kekuasaan, melainkan merebut kembali kesadaran. Kesadaran bahwa agama bukan alat ketakutan, bukan pula aksesori politik, tetapi sumber keberanian moral untuk membangun dunia yang lebih adil.

Di zaman ketika manusia mudah kehilangan arah di tengah propaganda, krisis identitas, dan hiruk-pikuk kekuasaan global, gagasan “kembali kepada Islam murni” terdengar seperti panggilan untuk pulang. Bukan pulang ke masa lalu, melainkan pulang kepada nilai-nilai yang membuat manusia tetap bermartabat di tengah dunia yang terus berubah.

Baca Juga  Kebangkitan Islam dan Politik Perlawanan: Saat Dunia Muslim Menemukan Kembali Jati Dirinya

 

Bagikan:
Terkait
Komentar