KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang jatuh bukan karena kekurangan sumber daya alam, melainkan karena kehilangan kemampuan menciptakan pengetahuan. Di zaman ketika teknologi mengendalikan ekonomi, informasi, bahkan arah politik dunia, ukuran kekuatan sebuah negara tidak lagi semata dihitung dari jumlah tentaranya atau luas wilayahnya. Kekuatan sejati semakin bergeser ke laboratorium, kampus, pusat riset, dan pikiran orang-orang yang mampu melahirkan penemuan baru.
Di situlah ilmu pengetahuan menjadi lebih dari sekadar sarana belajar. Ia berubah menjadi benteng peradaban.
Kemajuan ilmu bukanlah kemewahan yang hanya layak dikejar negara-negara maju. Bagi bangsa yang ingin berdiri tegak di tengah persaingan global, ilmu adalah kebutuhan yang tak bisa ditawar. Tanpa kemajuan sains dan teknologi, sebuah negara akan terus berada dalam posisi rentan. Ketergantungan terhadap produk, teknologi, bahkan cara berpikir bangsa lain akan membuka celah bagi berbagai bentuk tekanan ekonomi, budaya, politik, hingga keamanan.
Ancaman semacam ini sering kali tidak hadir dalam bentuk invasi militer. Ia datang lebih halus: melalui dominasi teknologi, monopoli informasi, ketergantungan energi, atau penguasaan kecerdasan buatan. Negara yang hanya menjadi konsumen ilmu akan selalu mengikuti arah yang ditentukan pihak lain.
Karena itu, pembangunan ilmu pengetahuan bukan sekadar proyek pendidikan. Ia adalah strategi mempertahankan kemerdekaan.
Dalam konteks inilah sebuah ungkapan dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s terasa tetap relevan meski telah berusia lebih dari seribu tahun.
العِلمُ سُلطانٌ مَن وَجدَهُ صالَ بِهِ وَمَن لَم يَجِدهُ صيلَ عَلَيهِ
“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu mengalahkan dengan kekuatan itu. Dan siapa yang tidak memilikinya, akan menjadi pihak yang dikalahkan”
Kalimat yang singkat itu terasa seperti membaca peta dunia hari ini. Kekuasaan tidak selalu diwujudkan melalui senjata. Ia lahir dari kemampuan menciptakan vaksin ketika dunia dilanda pandemi, mengembangkan satelit sendiri, membangun mesin pencari, menguasai kecerdasan buatan, atau menemukan teknologi energi masa depan.
Ilmu melahirkan kemandirian. Sebaliknya, ketertinggalan ilmu menciptakan ketergantungan.
Namun jika ditarik lebih jauh, makna “ilmu adalah kekuasaan” bukanlah ajakan untuk mendominasi bangsa lain. Kekuasaan yang lahir dari ilmu pertama-tama adalah kemampuan menentukan nasib sendiri. Bangsa yang menguasai ilmu memiliki kebebasan memilih jalannya, sementara bangsa yang tertinggal sering kali hanya memiliki pilihan-pilihan yang ditentukan pihak lain.
Di titik ini, peran kaum intelektual dan para ilmuwan menjadi sangat menentukan. Mereka bukan sekadar kelompok akademisi yang sibuk dengan penelitian di balik meja laboratorium. Mereka adalah fondasi masa depan sebuah negara.
Setiap inovasi yang lahir dari tangan mereka sesungguhnya sedang memperkuat kedaulatan bangsa. Setiap publikasi ilmiah yang berkembang menjadi teknologi baru adalah tambahan bata bagi benteng nasional. Dan setiap generasi muda yang memilih menekuni dunia riset sedang memperluas ruang kebebasan negaranya di masa depan.
Sayangnya, masyarakat sering kali lebih mudah mengagumi tokoh yang tampil di layar dibanding peneliti yang menghabiskan bertahun-tahun mencari jawaban atas satu persoalan. Padahal, kemajuan sebuah bangsa hampir selalu dimulai dari kerja sunyi orang-orang yang berpikir, bereksperimen, lalu gagal berkali-kali sebelum akhirnya berhasil.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak lahir karena keberuntungan. Ia tumbuh dari penghargaan terhadap ilmu.
Peradaban Islam pada masa keemasannya menjadi pusat dunia bukan semata karena kekuatan politik, melainkan karena keberanian menjadikan ilmu sebagai jantung kehidupan. Perpustakaan dibangun, karya-karya diterjemahkan, astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat berkembang pesat. Dari sanalah lahir pengaruh yang melampaui batas wilayah kekuasaan.
Begitu pula dalam dunia modern. Negara-negara yang kini menjadi pemain utama hampir semuanya memiliki satu kesamaan: investasi besar pada pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi. Mereka memahami bahwa kekayaan alam suatu saat akan habis, tetapi pengetahuan justru terus berkembang ketika dibagikan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kemajuan ilmu bukan hanya urusan pemerintah atau universitas. Ia membutuhkan budaya masyarakat yang menghargai proses berpikir, menghormati kejujuran ilmiah, mencintai membaca, dan tidak mudah puas dengan jawaban sederhana atas persoalan yang rumit.
Bangsa yang gemar belajar akan lebih sulit diprovokasi. Masyarakat yang terbiasa berpikir kritis tidak mudah menjadi korban hoaks ataupun manipulasi. Dengan demikian, ilmu tidak hanya memperkuat negara dari luar, tetapi juga memperkokoh masyarakat dari dalam.
Dalam konteks yang lebih luas, ancaman terbesar terhadap sebuah bangsa bukan selalu serangan musuh dari luar. Ancaman itu bisa berupa kemalasan berpikir, hilangnya budaya membaca, rendahnya kualitas pendidikan, dan pudarnya semangat mencari pengetahuan. Ketika itu terjadi, kelemahan lahir dari dalam sebelum musuh sempat mengetuk pintu.
Karena itulah membangun laboratorium sama pentingnya dengan membangun benteng. Mengembangkan universitas sama strategisnya dengan memperkuat pertahanan negara. Memberi ruang kepada para peneliti untuk berkarya bukan sekadar investasi pendidikan, melainkan investasi bagi masa depan sebuah bangsa.
Pada akhirnya, sebuah negara akan dihormati bukan hanya karena besarnya kekuatan yang dimilikinya, tetapi karena kemampuan melahirkan solusi bagi dunia. Dan kemampuan itu selalu berawal dari satu hal yang tampak sederhana: kesediaan untuk terus belajar.
Ilmu memang tidak selalu terdengar gaduh seperti dentuman senjata. Ia bekerja dalam keheningan ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium. Namun justru dari tempat-tempat sunyi itulah lahir kekuatan yang paling tahan lama, kekuatan yang mengurangi kerentanan, menjaga martabat, dan memungkinkan sebuah bangsa berdiri tegak tanpa harus bergantung kepada siapa pun.







