Imam Mahdi dan Keadilan yang Dinanti Dunia

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang terus menghantui peradaban modern. Manusia hidup di zaman paling maju sepanjang sejarah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang nyaris tak terbayangkan, ilmu pengetahuan menembus batas-batas yang dahulu dianggap mustahil, dan kehidupan menjadi semakin nyaman. Namun di balik semua pencapaian itu, kegelisahan justru tumbuh semakin dalam. Kita memiliki lebih banyak fasilitas, tetapi tidak selalu memiliki ketenangan. Dunia menjadi semakin pintar, tetapi belum tentu semakin adil.

Di berbagai penjuru bumi, miliaran manusia masih bergulat dengan kemiskinan, perang, diskriminasi, dan ketimpangan. Bahkan mereka yang hidup berkecukupan pun sering kali tidak terbebas dari rasa cemas dan kehilangan makna. Kemajuan ternyata mampu menyelesaikan banyak persoalan teknis, tetapi tidak otomatis menyembuhkan luka kemanusiaan.

Di titik inilah muncul sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa ilmu pengetahuan yang begitu canggih belum berhasil menghadirkan keadilan?

Ilmu adalah anugerah Tuhan. Akal manusia adalah karunia yang memungkinkan peradaban berkembang, penyakit disembuhkan, jarak dipendekkan, dan kehidupan menjadi lebih mudah. Pengalaman kolektif manusia juga melahirkan berbagai sistem politik, ekonomi, dan hukum yang semakin kompleks. Semua itu merupakan nikmat besar yang patut disyukuri.

Namun sejarah memperlihatkan bahwa ilmu tidak selalu berpihak kepada kebaikan. Pengetahuan dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga dapat berubah menjadi instrumen penindasan. Teknologi yang sama yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa juga dapat dipakai untuk menciptakan senjata yang memusnahkan kota-kota. Kecerdasan buatan dapat membantu pendidikan, tetapi juga digunakan untuk memanipulasi informasi. Kemajuan ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan sebagian orang, sementara pada saat yang sama memperlebar jurang ketimpangan.

Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada ilmu, melainkan pada manusia yang mengendalikannya.

Baca Juga  Pilar Kehidupan Manusia: Mengapa Al-Qur’an Menyebut Ka’bah sebagai “Qiyāman linnās”?

Dalam konteks yang lebih luas, ketidakadilan modern justru sering memperoleh tenaga dari kemajuan itu sendiri. Kekuatan ekonomi dipakai untuk menguasai pasar dan sumber daya. Teknologi dimanfaatkan untuk mengawasi, mengendalikan, bahkan menjajah bangsa lain dengan cara-cara baru. Kekuasaan politik sering kali berdiri di atas kepentingan segelintir orang, bukan demi kemaslahatan bersama.

Karena itulah, ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kecerdasan intelektual. Ada simpul kehidupan yang memerlukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan berpikir: hati yang lurus, jiwa yang bersih, dan kepemimpinan yang sepenuhnya tunduk kepada kehendak Ilahi.

Dalam tradisi Islam, harapan itu menemukan bentuknya pada sosok Imam Mahdi afs, atau Imam Zaman. Misi terbesar beliau bukan sekadar menghadirkan pemerintahan baru, bukan pula memenangkan suatu kelompok atas kelompok lain. Misinya jauh lebih besar: menegakkan keadilan secara menyeluruh.

Rasulullah saw bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَهْدِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ الَّذِي يَمْلَأُ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Mahdi dari umat ini adalah sosok yang melalui dirinya Allah akan memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman dan penindasan”

Hadis ini tidak sekadar menggambarkan datangnya seorang penyelamat. Ia juga menawarkan sebuah visi tentang dunia yang selama ini dirindukan manusia. Sebuah dunia yang tidak lagi dikuasai oleh kezaliman, melainkan ditopang oleh qisth dan ‘adl dua istilah yang sama-sama diterjemahkan sebagai keadilan, tetapi memiliki nuansa makna yang saling melengkapi.

‘Adl menunjuk pada penempatan segala sesuatu secara proporsional, sedangkan qisth menggambarkan keadilan yang benar-benar dirasakan dalam praktik kehidupan. Keadilan bukan sekadar konsep hukum yang tertulis di atas kertas, melainkan kenyataan yang dapat dialami setiap manusia.

Baca Juga  Pelajaran Imam Ali Menahan Luka Demi Kebenaran

Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang sering luput dari pembicaraan tentang keadilan. Yang dijanjikan bukan hanya keadilan di ruang pengadilan atau dalam pembagian harta. Keadilan yang dibawa Imam Mahdi afs meliputi seluruh dimensi kehidupan.

Keadilan dalam kekuasaan, sehingga jabatan tidak lagi menjadi alat penindasan.

Keadilan dalam distribusi kekayaan, sehingga kemakmuran tidak hanya berputar di sekitar kelompok tertentu.

Keadilan dalam akses kesehatan, agar setiap manusia memperoleh hak yang sama untuk hidup layak.

Keadilan dalam martabat kemanusiaan, sehingga tidak ada lagi manusia yang dipandang rendah karena ras, bangsa, warna kulit, atau status sosialnya.

Bahkan lebih jauh lagi, keadilan juga mencakup kesempatan bertumbuh secara spiritual. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan makanan bagi tubuhnya, tetapi juga ruang bagi jiwanya untuk berkembang.

Inilah yang membedakan konsep keadilan Ilahi dari sekadar pemerataan ekonomi atau reformasi politik. Keadilan bukan hanya soal siapa memperoleh apa, tetapi juga bagaimana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi yang lebih utuh.

Di tengah dunia yang dipenuhi konflik dan polarisasi, harapan akan Imam Mahdi afs bukanlah ajakan untuk pasif menunggu masa depan. Sebaliknya, ia menjadi kompas moral yang mengingatkan bahwa setiap bentuk kezaliman, sekecil apa pun, bertentangan dengan arah sejarah yang dikehendaki Tuhan.

Menanti Imam Mahdi afs berarti memelihara keyakinan bahwa keadilan bukan utopia. Bahwa sejarah tidak akan selamanya dikuasai oleh para penindas. Bahwa di balik segala kekacauan dunia, Tuhan tetap memiliki janji yang akan ditepati pada waktunya.

Mungkin itulah sebabnya harapan selalu menjadi bagian penting dari iman. Sebab manusia dapat bertahan menghadapi zaman yang gelap ketika ia percaya bahwa cahaya belum padam. Dan ketika dunia tampak semakin kehilangan keseimbangan, keyakinan akan datangnya pemimpin yang menegakkan keadilan menjadi pengingat bahwa pada akhirnya, yang akan menang bukanlah kekuatan, melainkan kebenaran.

Baca Juga  Menanti Dunia yang Adil di Tengah Zaman yang Menormalisasi Ketidakadilan 
Bagikan:
Terkait
Komentar