KHAMENEI.ID –
Dalam tafsir Surah Al-Fatihah, Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah kekuasaan atau kecerdasan, melainkan hubungan yang terus hidup dengan Allah.
Mengapa ada orang yang tetap teguh memegang prinsip meski dunia di sekelilingnya berubah, sementara yang lain perlahan kehilangan arah ketika kekuasaan, popularitas, atau kenyamanan menghampiri? Pertanyaan itu bukan hanya menyangkut karakter manusia, tetapi juga menyentuh inti dari doa yang setiap hari diulang oleh seorang Muslim: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Dalam rangkaian tafsir Surah Al-Fatihah, Imam Ali Khamenei qs mengajak pembaca melihat bahwa ṣirāṭ al-mustaqīm bukan sekadar konsep tentang jalan yang benar, melainkan jalan yang harus dipertahankan sepanjang hidup. Kuncinya bukan semata pengetahuan atau keteguhan pribadi, melainkan ikatan batin yang terus diperbarui dengan Allah.
Karena itu, menurut beliau, manusia membutuhkan ruang di dalam dirinya yang hanya dipenuhi oleh hubungan dengan Sang Pencipta. Hubungan itulah yang menjadi bekal dalam seluruh perjalanan hidup: ketika mengelola urusan pribadi, menjalankan tanggung jawab sosial, menghadapi kekuasaan, menyongsong kematian, hingga kelak berdiri di hadapan Allah swt pada Hari Perhitungan.
Dalam pandangan ini, ibadah bukan sekadar rangkaian ritual, melainkan proses menjaga hati agar tidak berpindah pusat gravitasi. Dunia boleh digenggam, tetapi tidak boleh menguasai hati. Harta, jabatan, rumah, dan berbagai fasilitas kehidupan hanyalah sarana. Semuanya memiliki fungsi, tetapi tidak layak menjadi tujuan akhir.
Karena itu Imam Khamenei mengutip doa indah dari Munajat al-Muhibbin karya Imam Zainal Abidin as:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوصِلُنِي إِلَى قُرْبِكَ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal yang dapat mendekatkanku kepada-Mu.”
Doa itu menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah swt tidak berhenti pada keyakinan intelektual. Ia tumbuh menjadi cinta, dan cinta itulah yang mengarahkan seluruh pilihan hidup manusia. Ketika hati telah dipenuhi kecintaan kepada Allah swt, segala sesuatu di dunia menemukan proporsinya. Dunia tidak lagi menjadi tujuan, tetapi menjadi kendaraan menuju tujuan yang lebih tinggi.
Dalam perspektif Imam Khamenei, inilah mutiara paling berharga yang harus dijaga, terutama oleh generasi muda. Masa muda adalah saat ketika hati masih bersih, semangat masih utuh, dan cita-cita masih terbuka lebar. Beliau mengingatkan agar hati yang masih jernih itu tidak dipenuhi oleh kecintaan yang berlebihan kepada dunia, melainkan oleh zikir, kedekatan, dan cinta kepada Allah swt.
Pandangan ini kemudian beliau hubungkan dengan sosok Imam Ruhullah Khomeini. Menurut Imam Khamenei, salah satu rahasia mengapa Imam Khomeini mampu tetap berada di jalan yang sama sepanjang hidupnya adalah kekuatan hubungan spiritualnya dengan Allah swt.
Beliau mengajak melihat perjalanan panjang Imam Khomeini. Sejak masa penindasan pada era Reza Shah, melewati berbagai tekanan politik, menghadapi pengasingan, memimpin revolusi, hingga mencapai kedudukan yang membuat namanya dikenal di seluruh dunia, arah hidupnya tidak berubah. Situasi boleh berganti, tetapi kompasnya tetap menunjuk ke arah yang sama.
Dalam sudut pandang tafsir ini, keteguhan tersebut bukan semata hasil kecerdasan politik atau kekuatan kepemimpinan. Akar utamanya adalah hubungan yang terus dipelihara dengan Allah. Karena pusat orientasinya tidak pernah berpindah, perubahan keadaan tidak berhasil mengubah jalan hidupnya.
Di sinilah Imam Khamenei menghubungkan pengalaman itu dengan ayat yang setiap hari dibaca dalam Surah Al-Fatihah:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 7)
Menurut beliau, nikmat terbesar yang dimaksud ayat ini bukan hanya berupa kelapangan hidup atau keberhasilan lahiriah, melainkan nikmat istiqamah—tetap berada di jalan Allah hingga akhir perjalanan. Dan nikmat itu lahir dari hubungan yang terus dijaga dengan Sang Pemberi Nikmat.
Dalam kehidupan modern, manusia menghadapi perubahan yang jauh lebih cepat daripada generasi-generasi sebelumnya. Teknologi berubah, nilai sosial bergeser, popularitas datang dan pergi, tekanan hidup semakin kompleks. Semua perubahan itu dapat menggeser arah hidup seseorang apabila ia kehilangan titik pijaknya.
Karena itu, doa “ihdinash-shirāthal-mustaqīm” bukan sekadar permohonan agar mengetahui jalan yang benar. Ia juga merupakan permohonan agar hati tetap memiliki orientasi yang benar ketika keadaan berubah.
Boleh jadi seseorang memiliki ilmu, kedudukan, bahkan pengaruh besar, tetapi tanpa hubungan yang kokoh dengan Allah, semua itu tidak menjamin ia tetap berada di jalan lurus. Sebaliknya, ketika hubungan itu terus dipelihara melalui doa, ibadah, keikhlasan, dan zikir, perubahan zaman tidak akan mudah mengubah arah hidupnya.
Itulah sebabnya, dalam pemikiran Imam Ali Khamenei, hubungan dengan Allah swt bukan sekadar salah satu unsur kehidupan beragama. Ia adalah sumber kekuatan yang menjaga manusia tetap berada di ṣirāṭ al-mustaqīm. Sebab istiqamah bukan hanya persoalan mengetahui jalan yang benar, melainkan memiliki ikatan yang terus-menerus dengan Tuhan yang menunjukkan jalan itu.







