Ilmu adalah Kekuatan: Mengapa Bangsa yang Tertinggal Akan Selalu Rentan?

KHAMENEI.ID– Ada satu perlombaan yang tak pernah berhenti. Tak terdengar riuh sorak penonton, tak pula disiarkan langsung di layar televisi. Namun hasilnya menentukan siapa yang memimpin dunia dan siapa yang hanya menjadi penonton. Perlombaan itu adalah perlombaan ilmu pengetahuan. Di abad ke-21, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah, kekayaan alam, atau besarnya jumlah penduduk. Yang menentukan adalah siapa yang paling cepat melahirkan pengetahuan baru.

Di tengah persaingan global yang semakin sengit, ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan semata-mata kemiskinan atau krisis ekonomi. Ancaman yang jauh lebih berbahaya adalah ketika sebuah negara berhenti berinovasi. Ketika riset melambat, universitas kehilangan daya hidup, dan semangat menemukan hal-hal baru memudar, sesungguhnya saat itu bangsa tersebut sedang kehilangan daya tahannya.

Karena itulah, kemajuan ilmu pengetahuan tidak pernah boleh dianggap sebagai proyek sampingan. Ia adalah fondasi utama bagi masa depan. Dunia bergerak sangat cepat. Negara-negara yang dahulu tertinggal kini mampu mengejar ketertinggalannya melalui investasi besar pada pendidikan, penelitian, dan teknologi. Mereka belajar dari keberhasilan bangsa lain, memperbaiki sistemnya, lalu melompat lebih jauh.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah kita sedang berlari cukup cepat?

Pertanyaan itu bukan lahir dari rasa pesimistis, melainkan dari kesadaran bahwa perlombaan ilmu tidak mengenal garis akhir. Berhenti sejenak saja berarti memberi kesempatan kepada yang lain untuk menyalip. Bahkan negara-negara yang dulu berada di belakang kini mampu menunjukkan kemajuan luar biasa karena memiliki keberanian membangun ekosistem ilmu yang kreatif dan inovatif.

Dalam konteks inilah, kreativitas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kemajuan tidak lahir hanya dari bekerja lebih keras, tetapi juga dari kemampuan menemukan cara-cara baru. Lembaga pendidikan, pusat penelitian, dan seluruh perangkat yang menopang perkembangan ilmu harus mampu melahirkan terobosan. Menjalankan rutinitas semata tidak cukup ketika dunia berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga  Zainab al-Kubra dan Keberanian Menjaga Cahaya Asyura

Pandangan ini sesungguhnya telah lama ditegaskan dalam sebuah ungkapan yang sangat terkenal dalam khazanah Islam:

العِلمُ سُلطانٌ مَن وَجدَهُ صالَ بِهِ وَ مَن لَم يَجِدهُ صيلَ عَلَيه

“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu menyerang dan memenangkan persaingan. Sebaliknya, siapa yang tidak memilikinya akan menjadi sasaran serangan dan dikalahkan”

Ungkapan singkat ini menyimpan makna yang jauh melampaui persoalan individu. Ia berbicara tentang peradaban. Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi yang memenuhi rak-rak perpustakaan. Ia adalah sumber kekuatan yang menentukan posisi suatu masyarakat di hadapan masyarakat lain.

Menariknya, kata sulthan dalam hadis ini tidak hanya berarti kekuasaan dalam arti politik. Ia juga mengandung makna otoritas, pengaruh, kemampuan mengendalikan keadaan, dan kekuatan untuk menentukan arah. Dengan demikian, ilmu bukan sekadar alat untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Ia adalah modal agar sebuah bangsa mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain, menentukan nasibnya sendiri, dan tidak mudah didikte oleh kekuatan luar.

Namun jika ditarik lebih jauh, makna “serangan” dalam hadis tersebut juga tidak selalu berarti peperangan bersenjata. Pada zaman modern, serangan hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus. Ketergantungan teknologi, dominasi ekonomi, monopoli paten, penguasaan kecerdasan buatan, hingga kontrol atas data merupakan wajah baru dari persaingan global. Bangsa yang tidak menguasai ilmu akan terus membeli inovasi orang lain, menggunakan teknologi yang tidak mereka ciptakan, bahkan bergantung pada keputusan yang dibuat di luar batas negaranya.

Sebaliknya, bangsa yang menguasai ilmu mampu menciptakan teknologi sendiri, mengembangkan industri yang mandiri, menghasilkan solusi atas persoalan masyarakatnya, dan menjadi rujukan bagi dunia. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin.

Baca Juga  Syahadah Imam Ali: Ketika Kematian Menjadi Kabar Gembira

Di titik ini, ilmu bukan lagi sekadar urusan para akademisi atau peneliti. Ia menjadi tanggung jawab bersama. Budaya membaca, menghargai penelitian, mendukung inovasi, hingga memberi ruang kepada generasi muda untuk bereksperimen merupakan bagian dari investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sebuah bangsa.

Sayangnya, ada kecenderungan yang patut diwaspadai. Banyak masyarakat lebih mudah terpukau oleh hasil instan daripada proses panjang melahirkan pengetahuan. Padahal setiap teknologi yang hari ini memudahkan kehidupan merupakan buah dari penelitian bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Tidak ada lompatan kemajuan tanpa kesabaran membangun tradisi ilmu.

Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar mengejar ketertinggalan, melainkan menjaga agar semangat belajar tidak pernah padam. Dunia akan terus berubah. Bidang-bidang baru akan terus lahir. Kecerdasan buatan, bioteknologi, energi terbarukan, hingga komputasi kuantum hanyalah sebagian kecil dari gelombang perubahan yang sedang berlangsung. Bangsa yang terlambat beradaptasi akan semakin sulit mengejar.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari banyaknya sumber daya alam atau kekuatan militernya. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa pengetahuanlah yang mengubah arah peradaban. Ilmu melahirkan teknologi, teknologi menggerakkan ekonomi, dan ekonomi memperkuat kemandirian.

Karena itu, membangun budaya ilmu sesungguhnya adalah membangun benteng pertahanan paling kokoh. Sebab ketika ilmu menjadi milik sebuah bangsa, ia tidak hanya memperoleh kemampuan untuk bersaing, tetapi juga memiliki kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri. Dan di tengah dunia yang terus berubah, tidak ada kekuasaan yang lebih berharga daripada kekuasaan yang lahir dari pengetahuan.

Bagikan:
Terkait
Komentar