Sifat Allah dan Dzat-Nya: Mengapa Tuhan Tidak Pernah Terbagi?

KHAMENEI.ID– Ketika seseorang menyebut Allah sebagai Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, dan Yang Maha Kuasa, mungkin terlintas sebuah gambaran sederhana: seolah-olah Tuhan memiliki sekumpulan sifat yang melekat pada-Nya sebagaimana manusia memiliki kecerdasan, kekuatan, atau kemampuan mendengar. Cara berpikir seperti ini terasa wajar karena bahasa manusia memang bekerja dengan memisahkan antara subjek dan sifatnya.

Namun justru di titik inilah para pemikir Islam sejak masa awal mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Jika ilmu, kuasa, dan kehidupan adalah sesuatu yang berbeda dari Dzat Allah, bukankah berarti di dalam Tuhan terdapat banyak unsur yang menyusun-Nya? Jika demikian, bagaimana mungkin keesaan Allah tetap utuh?

Perdebatan ini pernah menjadi salah satu diskusi paling penting dalam sejarah teologi Islam. Kaum Mu’tazilah menempuh perjalanan intelektual yang panjang. Dari gagasan awal yang cenderung menafikan sifat-sifat Allah agar keesaan-Nya tetap terjaga, mereka kemudian sampai pada sebuah kesimpulan yang lebih matang: sifat-sifat Allah bukanlah sesuatu yang menambah Dzat-Nya. Ilmu, kuasa, kehidupan, dan sifat-sifat kesempurnaan lainnya bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan identik dengan keberadaan-Nya. Dengan kata lain, sifat Allah adalah Dzat-Nya sendiri.

Menariknya, dalam khazanah Ahlul Bait, gagasan ini tidak lahir semata-mata dari spekulasi filsafat. Para ulama Syiah, seperti Syekh al-Mufid, menjelaskan bahwa pemahaman tersebut bertumpu pada riwayat-riwayat para Imam, termasuk yang termuat dalam Nahjul Balaghah, Al-Kafi, dan Kitab at-Tauhid karya Syekh ash-Shaduq. Bahkan riwayat-riwayat itu menunjukkan bahwa persoalan ini telah menjadi bahan dialog di kalangan para sahabat Imam a.s sejak masa awal Islam.

Salah satu riwayat yang paling terkenal berasal dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. Abu Bashir meriwayatkan bahwa ia mendengar Imam bersabda:

Baca Juga  Jihad Nabi Muhammad: Perjuangan Mengubah Dunia yang Tenggelam dalam Kegelapan

لَمْ يَزَلِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَبَّنَا وَالْعِلْمُ ذَاتُهُ… وَالسَّمْعُ ذَاتُهُ… وَالْبَصَرُ ذَاتُهُ… وَالْقُدْرَةُ ذَاتُهُ

Artinya:

“Allah Yang Mahamulia senantiasa ada. Ilmu adalah Dzat-Nya ketika belum ada sesuatu yang diketahui. Pendengaran adalah Dzat-Nya ketika belum ada sesuatu yang didengar. Penglihatan adalah Dzat-Nya ketika belum ada sesuatu yang dilihat. Kekuasaan adalah Dzat-Nya ketika belum ada sesuatu yang berada dalam kuasa-Nya. Ketika Allah menciptakan segala sesuatu, barulah ilmu berhubungan dengan yang diketahui, pendengaran dengan yang didengar, penglihatan dengan yang dilihat, dan kekuasaan dengan yang dikuasai.”

Riwayat ini menggeser cara pandang kita terhadap sifat-sifat Ilahi. Allah tidak menjadi mengetahui karena ada objek yang diketahui. Sebelum alam semesta tercipta pun Dia telah Maha Mengetahui. Pengetahuan-Nya tidak menunggu adanya manusia, bintang, atau galaksi. Demikian pula pendengaran, penglihatan, dan kekuasaan-Nya. Semua itu bukan kemampuan yang muncul karena adanya objek, melainkan kesempurnaan yang melekat pada keberadaan-Nya sendiri.

Di sinilah letak perbedaan paling mendasar antara Tuhan dan makhluk.

Manusia memperoleh pengetahuan melalui proses. Kita belajar, mengingat, lalu perlahan memahami. Pendengaran kita bergantung pada telinga, penglihatan bergantung pada mata, sedangkan kekuatan kita bergantung pada kondisi tubuh. Semua kemampuan itu dapat bertambah, berkurang, bahkan hilang. Artinya, sifat-sifat manusia adalah sesuatu yang datang kemudian dan tidak identik dengan dirinya.

Allah sama sekali tidak demikian. Jika ilmu Allah merupakan sesuatu yang terpisah dari Dzat-Nya, berarti ada dua realitas yang sama-sama azali: Dzat dan ilmu. Jika kuasa-Nya juga berbeda, berarti ada tiga. Semakin banyak sifat dipahami sebagai entitas yang berdiri sendiri, semakin banyak pula unsur yang harus diandaikan ada dalam Tuhan. Padahal tauhid menolak segala bentuk komposisi semacam itu. Tuhan Yang Mahasempurna tidak tersusun dari bagian-bagian.

Baca Juga  Jangan Menjadi Bani Israil: Pelajaran tentang Kesabaran dan Optimisme dari Nabi Musa Menurut Imam Ali Khamenei

Karena itu para Imam menegaskan bahwa sifat-sifat kesempurnaan Allah adalah identik dengan Dzat-Nya. Bukan berarti ilmu berubah menjadi kuasa atau kuasa berubah menjadi kehidupan, melainkan seluruh kesempurnaan itu merupakan satu realitas Ilahi yang tidak dapat dipisah-pisahkan sebagaimana manusia memisahkan konsep-konsep dalam pikirannya.

Riwayat yang sama juga memuat dialog menarik. Abu Bashir bertanya apakah Allah sejak dahulu selalu bergerak. Imam a.s menjawab bahwa Allah Mahasuci dari anggapan itu, sebab gerak merupakan sifat yang muncul karena suatu perbuatan. Ia bukan sifat azali.

Pertanyaan lain menyusul: apakah Allah sejak dahulu selalu berbicara?

Jawabannya pun mengejutkan. Imam a.s menjelaskan bahwa kalam atau ucapan adalah sifat yang bersifat baru, bukan sifat azali. Allah telah ada sebelum adanya ucapan. Ini menunjukkan bahwa tindakan berbicara berbeda dengan ilmu atau kuasa. Berbicara berkaitan dengan kehendak dan tindakan Allah terhadap makhluk, sehingga ia muncul ketika Allah menghendakinya, bukan sebagai sesuatu yang melekat secara azali pada Dzat-Nya.

Pembedaan ini sangat penting dalam tradisi teologi Islam. Para ulama membedakan antara sifat-sifat Dzat dan sifat-sifat perbuatan. Ilmu, kehidupan, dan kekuasaan termasuk sifat Dzat yang identik dengan keberadaan Allah. Adapun mencipta, memberi rezeki, berbicara, atau menghidupkan termasuk sifat perbuatan yang berkaitan dengan relasi Allah dengan makhluk dan tampak ketika makhluk itu ada.

Dalam konteks yang lebih luas, pembahasan ini mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya keyakinan bahwa Tuhan itu satu. Tauhid juga berarti memahami bahwa kesempurnaan Allah tidak tersusun dari bagian-bagian sebagaimana makhluk. Semua keterbatasan yang melekat pada manusia; bergantung pada alat, waktu, perubahan dan proses,tidak dapat disandarkan kepada-Nya.

Pada akhirnya, pembicaraan tentang sifat-sifat Allah bukanlah sekadar latihan intelektual yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia mengajak manusia menyadari betapa bahasa selalu memiliki batas ketika berbicara tentang Tuhan. Kata “mengetahui”, “mendengar”, atau “melihat” memang digunakan untuk Allah, tetapi maknanya tidak sama dengan pengalaman manusia. Semua istilah itu hanyalah jembatan agar akal dapat mendekati sebuah hakikat yang jauh melampaui jangkauan pikiran.

Baca Juga  Iman yang Mengubah Peta Dunia: Mengapa Kekuatan Besar Tersendat di Asia Barat?

Di hadapan keagungan itu, yang tersisa bukanlah kesombongan karena merasa telah memahami Tuhan, melainkan kerendahan hati. Sebab semakin dalam seseorang mengenal tauhid, semakin ia menyadari bahwa Allah bukan sekadar memiliki kesempurnaan. Dia adalah Kesempurnaan itu sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar