Taqwa Penentu Arah Hidup: Mengapa Sebagian Orang Bertahan, Sebagian Lagi Tersesat?

KHAMENEI.ID– Ada orang yang memulai perjalanan dengan semangat membara, tetapi mengakhirinya dalam kelelahan, bahkan berbalik arah. Sebaliknya, ada pula yang tampak berjalan perlahan, nyaris tanpa sorotan, tetapi tetap teguh hingga akhir. Perbedaannya sering kali bukan terletak pada kecerdasan, keberanian, atau banyaknya slogan yang diucapkan. Yang membedakan adalah satu hal yang lebih sunyi: taqwa.

Dalam pandangan Islam, taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Tuhan atau daftar larangan yang harus dipatuhi. Taqwa adalah kemampuan menjaga arah hidup ketika godaan, ambisi, dan gejolak zaman berusaha menarik manusia keluar dari jalannya. Ia menjadi kompas batin yang membuat seseorang tetap mampu membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar tampak benar.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah menggambarkan taqwa melalui sebuah perumpamaan yang sangat hidup. Menurut beliau, taqwa ibarat seekor kuda jinak yang kuat dan terlatih. Penunggangnya memegang kendali, mengarahkan langkahnya, dan sang kuda membawanya dengan tenang menuju tujuan yang benar. Sebaliknya, dosa dan ketidakbertaqwaan diibaratkan sebagai kuda liar yang membangkang. Ketika seseorang menaikinya, kendali justru lepas dari tangannya. Bukan lagi manusia yang mengatur arah perjalanan, melainkan hawa nafsu yang menyeretnya ke tempat yang tidak pernah ia kehendaki.

Perumpamaan itu terasa sangat relevan di tengah kehidupan modern. Banyak orang mengira dirinya bebas memilih jalan hidup, padahal perlahan ia telah kehilangan kendali. Keinginan untuk dipuji berubah menjadi kecanduan popularitas. Ambisi mencari penghidupan berubah menjadi kerakusan. Keinginan memperoleh pengaruh bergeser menjadi hasrat menguasai orang lain. Semua bermula dari langkah-langkah kecil yang tampak biasa, tetapi akhirnya menjauhkan seseorang dari arah yang semula ingin ia tuju.

Di titik inilah taqwa bekerja. Ia bukan sekadar rem yang menghentikan seseorang dari kesalahan, melainkan juga kemudi yang menjaga arah perjalanan. Orang yang bertaqwa mungkin tetap menghadapi badai, tetapi ia tidak kehilangan orientasi. Ia tahu kapan harus maju, kapan harus berhenti, dan kapan harus mengoreksi dirinya sendiri.

Baca Juga  Ketika Tuhan Memuliakan Amal Kecil: Rahasia Rahmat dalam Ibadah

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa taqwa adalah pintu menuju petunjuk. Firman Allah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 2)

Ayat ini memberi isyarat bahwa petunjuk Ilahi bukan sekadar informasi yang dapat dipahami dengan akal. Ia membutuhkan kesiapan hati. Tanpa taqwa, manusia mungkin membaca kebenaran, tetapi belum tentu mampu menerimanya. Sebaliknya, ketika hati telah dipenuhi ketaqwaan, petunjuk menjadi cahaya yang membimbing setiap langkah kehidupan.

Namun jika ditarik lebih jauh, perjalanan manusia bukan hanya tentang menghadapi godaan pribadi. Ia juga berkaitan dengan dinamika masyarakat dan perjuangan bersama. Sejarah menunjukkan bahwa setiap gerakan besar selalu mengalami proses penyaringan. Orang-orang datang dengan motivasi yang beragam. Ada yang tertarik oleh gagasan yang mendalam, ada pula yang sekadar terpikat oleh semangat, simbol, atau euforia perjuangan.

Pada awal sebuah revolusi atau gerakan perubahan, semua tampak berjalan dalam barisan yang sama. Mereka meneriakkan slogan yang sama, menghadiri pertemuan yang sama, bahkan rela berkorban di medan yang sama. Akan tetapi, waktu memiliki cara sendiri untuk menguji ketulusan.

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs, pernah menggambarkan bahwa setiap gerakan akan mengalami proses “penyaringan”. Beliau mengutip ungkapan Imam Ali a.s, “wa latugharbalunna gharbalah”, bahwa manusia akan diayak sebagaimana butiran dipisahkan melalui ayakan. Proses itu membuat siapa yang benar-benar kokoh tetap bertahan, sementara mereka yang hanya digerakkan oleh emosi perlahan meninggalkan barisan.

Penyaringan itu bukan semata-mata terjadi karena tekanan dari luar. Justru lebih sering disebabkan oleh rapuhnya fondasi keyakinan di dalam diri. Ada orang yang menyukai semangat perjuangan, tetapi tidak pernah mendalami nilai-nilai yang melahirkannya. Ada yang berani ketika suasana ramai, tetapi kehilangan arah ketika harus berjalan sendirian. Ada pula yang begitu lantang berbicara tentang perubahan, namun tidak pernah membangun perubahan di dalam dirinya sendiri.

Baca Juga  Ketika Doa Imam Ali Dikabulkan: Awal Derita Umat yang Kehilangan Pemimpinnya

Di sinilah taqwa kembali menjadi pembeda. Taqwa membuat seseorang tidak hanya bersemangat ketika keadaan menguntungkan, tetapi juga tetap teguh ketika pujian menghilang, ketika tantangan datang, bahkan ketika ia harus mempertahankan prinsip seorang diri.

Dalam konteks yang lebih luas, penyaringan semacam ini tidak hanya terjadi dalam revolusi politik atau gerakan sosial. Ia berlangsung setiap hari dalam kehidupan kita. Dunia modern menawarkan begitu banyak pilihan, informasi, dan godaan. Tidak semua yang tampak menarik membawa manusia menuju kebaikan. Tidak semua yang ramai diperbincangkan layak diikuti. Setiap keputusan kecil sesungguhnya sedang menentukan apakah kita tetap memegang kendali atas “kuda” kehidupan, atau justru membiarkan diri diseret ke arah yang tidak kita sadari.

Taqwa bukanlah sesuatu yang selesai dimiliki sekali untuk selamanya. Ia harus dirawat melalui ilmu, kejujuran kepada diri sendiri, keberanian mengakui kesalahan, dan kesediaan terus belajar. Semakin kuat hubungan seseorang dengan nilai-nilai kebenaran, semakin kokoh pula langkahnya menghadapi perubahan zaman.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat memulai perjalanan, melainkan siapa yang mampu tetap berada di jalan yang benar hingga akhir. Sejarah selalu mencatat bahwa banyak orang hadir di garis awal, tetapi hanya sedikit yang sampai di tujuan. Dan mereka yang bertahan bukanlah orang-orang yang paling lantang bersuara, melainkan mereka yang menjaga taqwa sebagai kendali hidupnya. Sebab ketika hati tetap berada dalam genggaman nilai-nilai Ilahi, arah perjalanan tidak mudah dipermainkan oleh arus zaman.

Bagikan:
Terkait
Komentar