KHAMENEI.ID– Setiap kali sebuah bangsa, organisasi, atau komunitas menghadapi masa sulit, ada satu pola yang hampir selalu berulang. Orang-orang yang sebelumnya berjalan beriringan tiba-tiba saling menunjuk. Kritik berubah menjadi saling curiga. Perbedaan pendapat menjelma menjadi pertengkaran. Energi yang seharusnya digunakan untuk mencari jalan keluar justru habis dalam perang di dalam rumah sendiri.
Barangkali, inilah salah satu kelemahan manusia yang paling mudah muncul ketika tekanan datang. Kita lebih mudah menemukan kesalahan orang yang berdiri di samping kita daripada mengenali tangan yang diam-diam mendorong kekacauan dari luar.
Padahal, sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa sebuah kelompok jarang runtuh hanya karena tekanan eksternal. Yang lebih sering menghancurkannya adalah perpecahan dari dalam.
Dalam situasi seperti itulah muncul sebuah pesan yang sederhana, tetapi sangat mendalam: jangan sampai kesulitan membuat kita kehilangan arah. Jangan sampai emosi mengaburkan kemampuan membedakan siapa lawan sebenarnya dan siapa sekadar rekan yang sedang sama-sama berjuang.
Gagasan ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern. Di era media sosial, setiap peristiwa besar hampir selalu diikuti ledakan saling menyalahkan. Ketika ekonomi melemah, ketika konflik politik memanas, ketika organisasi mengalami kegagalan, perhatian publik sering kali habis untuk mencari kambing hitam. Seolah-olah menemukan orang yang harus dipersalahkan lebih penting daripada menemukan akar persoalan.
Akibatnya, konflik berkembang ke mana-mana. Perselisihan kecil membesar, sementara persoalan utama justru lolos dari perhatian.
Di titik ini, yang dibutuhkan bukanlah meniadakan kritik. Kritik tetap penting sebagai bagian dari perbaikan. Namun kritik yang kehilangan arah hanya akan melahirkan permusuhan baru. Ketika setiap orang sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar, ruang dialog perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah suara-suara keras yang saling menenggelamkan.
Karena itu, Imam Khomeini qs pernah mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi sangat dikenal di Iran: “Setiap teriakan yang kalian miliki, arahkan kepada Amerika.” Kalimat itu bukan semata-mata slogan politik, melainkan sebuah cara berpikir. Maksudnya adalah jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk bertengkar sesama sendiri ketika ancaman yang lebih besar berada di hadapan.
Pesan tersebut berbicara tentang kemampuan menetapkan prioritas. Dalam setiap konflik selalu ada persoalan utama dan persoalan sampingan. Orang yang bijaksana tidak membiarkan dirinya larut dalam persoalan kecil hingga lupa menghadapi sumber ancaman yang sesungguhnya.
Dalam konteks yang lebih luas, “musuh” tidak selalu harus dimaknai sebagai negara atau kelompok tertentu. Musuh dapat berupa apa saja yang secara nyata merusak kehidupan bersama: kebohongan yang sengaja disebarkan, ketidakadilan, korupsi, kemiskinan yang dipelihara, penjajahan dalam berbagai bentuk, atau bahkan hawa nafsu yang membuat manusia kehilangan kejernihan berpikir. Selama perhatian kita hanya tersedot pada pertengkaran internal, ancaman-ancaman itu bekerja tanpa banyak perlawanan.
Gagasan ini kemudian menemukan gaungnya dalam salah satu ucapan tajam Imam Ali a.s. Beliau berkata:
وَهَلُمَّ الْخَطْبَ فِي ابْنِ أَبِي سُفْيَانَ
“Marilah kita arahkan perhatian kepada persoalan yang sesungguhnya, yaitu menghadapi Ibnu Abi Sufyan”
Ucapan itu lahir dalam situasi politik yang penuh gejolak. Namun maknanya melampaui ruang dan waktu. Imam Ali a.s mengingatkan agar energi umat tidak habis untuk konflik kecil yang justru menguntungkan pihak yang ingin melihat mereka tercerai-berai.
Sejarah menunjukkan, hampir semua kekuatan besar memahami strategi ini. Mereka tahu bahwa sebuah masyarakat yang sibuk bertengkar akan lebih mudah dilemahkan daripada masyarakat yang bersatu menghadapi tantangan bersama. Karena itu, memecah perhatian lawan sering kali menjadi strategi yang jauh lebih efektif daripada menyerangnya secara langsung.
Ironisnya, masyarakat kerap membantu strategi tersebut tanpa sadar. Perbedaan kecil diperbesar, kesalahan individu digeneralisasi, lalu kepercayaan antaranggota perlahan terkikis. Ketika rasa saling percaya hilang, tidak diperlukan lagi tekanan besar dari luar. Keretakan itu akan berkembang dengan sendirinya.
Namun bukan berarti semua kritik harus dihentikan demi persatuan. Persatuan yang sehat bukanlah persatuan yang menutup mata terhadap kesalahan. Sebaliknya, ia adalah kemampuan memperbaiki diri tanpa kehilangan kesadaran tentang tantangan yang lebih besar. Kritik tetap diperlukan, tetapi dilakukan untuk membangun, bukan untuk menghancurkan. Perbedaan tetap ada, tetapi tidak berubah menjadi permusuhan.
Di sinilah kedewasaan sebuah masyarakat diuji. Mampukah mereka membedakan antara lawan dalam diskusi dan musuh yang benar-benar mengancam kehidupan bersama? Mampukah mereka menahan ego agar tidak setiap perbedaan berubah menjadi peperangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa semakin penting pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan. Banyak orang bereaksi sebelum memahami persoalan. Banyak pula yang terburu-buru memilih pihak sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang sedang diuntungkan oleh pertikaian tersebut.
Barangkali, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Kemenangan sejati justru terjadi ketika kita mampu menjaga persatuan tanpa mengorbankan kebenaran, serta mengarahkan seluruh tenaga untuk menghadapi ancaman yang benar-benar membahayakan masa depan bersama.
Sebab sebuah bangsa tidak menjadi kuat karena semua orang selalu sepakat. Ia menjadi kuat ketika mampu berbeda tanpa tercerai, mampu mengkritik tanpa saling menghancurkan, dan mampu mengenali musuh yang sesungguhnya tanpa kehilangan persaudaraan di antara sesamanya.







