Keadilan Imam Ali: Cinta Saja Tidak Cukup Tanpa Mengikuti Jejaknya

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara mencintai seorang tokoh. Sebagian cukup dengan mengingat namanya, mengagumi kisah hidupnya, atau merayakan hari-hari penting yang berkaitan dengannya. Namun, sejarah selalu menunjukkan bahwa cinta sejati tidak pernah berhenti pada rasa. Ia menuntut keberanian untuk berjalan di jalan yang sama, meski langkah itu berat dan penuh risiko.

Itulah pelajaran yang ditinggalkan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Kecintaan kepada beliau memang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Bahkan, sebuah hadis menyebutkan:

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ فِيكَ خَيْراً فَانْظُرْ إِلَى قَلْبِكَ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ أَهْلَ طَاعَةِ اللَّهِ وَيُبْغِضُ أَهْلَ مَعْصِيَتِهِ فَفِيكَ خَيْرٌ… وَالْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Jika engkau ingin mengetahui apakah dalam dirimu ada kebaikan, lihatlah hatimu. Jika ia mencintai orang-orang yang taat kepada Allah dan membenci kemaksiatan, maka ada kebaikan dalam dirimu. … Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai”

Hadis ini memberi harapan besar. Cinta kepada orang-orang saleh bukanlah perkara sepele. Ia adalah tanda hidupnya hati. Namun, pada saat yang sama, hadis ini juga mengandung tantangan. Sebab mencintai seseorang berarti bersedia menempuh arah yang ia pilih. Cinta tanpa kesediaan mengikuti hanya akan menjadi kekaguman yang berhenti di bibir.

Karena itu, makna menjadi pengikut Imam Ali a.s tidak cukup hanya dengan mengaku sebagai pecinta beliau. Kata “syiah” sendiri pada dasarnya berarti orang yang mengikuti dan berjalan di belakang pemimpinnya. Mengikuti bukan berarti menyamai. Tidak ada manusia biasa yang mampu mencapai derajat spiritual Imam Ali a.s. Tetapi arah perjalanan hidupnya itulah yang semestinya menjadi kompas.

Lalu, jika harus memilih satu ciri yang paling menonjol dari seluruh kehidupan Imam Ali a.s, apakah itu?

Baca Juga  Politik sebagai Ibadah: Mengapa Kekuasaan Bukan Soal Menang dan Kalah

Jawabannya adalah keadilan.

Di antara begitu banyak keutamaan beliau; keberanian, ilmu, kezuhudan, dan ketakwaan, keadilan tampil sebagai wajah yang paling terang. Hampir seluruh pidato, surat, dan petuah beliau dipenuhi seruan untuk membela orang yang tertindas dan menolak segala bentuk kezaliman. Dalam pandangan Imam Ali a.s, kekuasaan bukanlah alat untuk mengumpulkan keuntungan pribadi, melainkan amanah untuk memastikan tidak ada seorang pun kehilangan haknya.

Gagasan ini kemudian menyentuh inti dari moral kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya pembangunan yang ia lakukan atau besarnya kekuasaan yang ia genggam, melainkan dari keberaniannya berdiri di sisi mereka yang lemah. Sebab sejarah dipenuhi penguasa yang mampu membangun kota, tetapi sedikit yang sanggup membangun keadilan.

Sikap Imam Ali a.s terhadap kezaliman begitu tegas hingga tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Dalam salah satu ungkapan terkenalnya, beliau berkata:

وَاللَّهِ لَأَنْ أَبِيتَ عَلَى حَسَكِ السَّعْدَانِ مُسَهَّدًا أَوْ أُجَرَّ فِي الْأَغْلَالِ مُصَفَّدًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ ظَالِمًا لِبَعْضِ الْعِبَادِ وَغَاصِبًا لِشَيْءٍ مِنَ الْحُطَامِ

“Demi Allah, lebih aku sukai menghabiskan malam di atas duri yang tajam atau diseret dengan rantai sebagai tawanan daripada bertemu Allah dalam keadaan menzalimi seorang hamba atau merampas sedikit saja kenikmatan dunia”

Kalimat itu bukan sekadar retorika moral. Ia adalah prinsip hidup. Imam Ali a.s lebih rela menanggung penderitaan fisik daripada memperoleh keuntungan yang dibangun di atas penderitaan orang lain. Di dunia yang sering menghalalkan cara demi mencapai jabatan, keuntungan, atau pengaruh, ucapan ini terasa seperti suara dari langit yang mengingatkan bahwa tidak ada keberhasilan yang layak dibayar dengan ketidakadilan.

Dalam konteks yang lebih luas, keadilan menurut Imam Ali a.s bukan hanya persoalan pengadilan atau hukum negara. Ia dimulai dari cara seseorang memperlakukan sesama. Tidak mengambil hak orang lain, tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, tidak membiarkan orang lemah menjadi korban, dan tidak diam ketika melihat kezaliman. Semua itu adalah wajah-wajah kecil dari keadilan yang sering kali justru menentukan kualitas sebuah masyarakat.

Baca Juga  Menjaga Istiqomah di Tengah Arus Penyimpangan

Di titik ini, kita juga memahami mengapa dunia tidak pernah memiliki tempat istimewa di hati Imam Ali a.s. Dunia, bagi beliau, bukan sesuatu yang pantas diperebutkan dengan mengorbankan nilai-nilai. Dalam salah satu ungkapan yang sangat masyhur, beliau berkata:

غُرِّي غَيْرِي

“Wahai dunia, tipulah orang lain selain diriku”

Kalimat yang singkat itu mengandung kebebasan batin yang luar biasa. Dunia kehilangan daya pikatnya ketika hati seseorang dipenuhi oleh kejujuran dan tanggung jawab. Jabatan tidak lagi menjadi tujuan, harta tidak lagi menjadi ukuran kemuliaan, dan kekuasaan tidak lagi menjadi alasan untuk menginjak orang lain.

Justru karena itulah keadilan menjadi begitu mahal. Orang hanya bisa berlaku adil jika ia berhasil mengalahkan keserakahannya sendiri. Ketika kepentingan pribadi masih menjadi pusat segala keputusan, keadilan akan selalu dikalahkan oleh kompromi. Sebaliknya, ketika hati telah merdeka dari ambisi duniawi, seseorang lebih mudah membela kebenaran meskipun harus kehilangan banyak hal.

Pelajaran Imam Ali a.s tetap relevan hingga hari ini. Setiap masyarakat yang mengaku menjunjung nilai-nilai Islam akan selalu diuji bukan oleh seberapa sering nama beliau disebut, tetapi oleh seberapa jauh prinsip keadilannya diwujudkan. Sebab cinta kepada Imam Ali a.s tidak pernah diukur dari banyaknya pujian yang diucapkan, melainkan dari keberanian menolak kezaliman, membela yang tertindas, dan menjaga amanah meski harus membayar harga yang mahal.

Barangkali, di situlah makna terdalam mencintai Imam Ali a.s. Cinta bukan sekadar perasaan yang disimpan di dalam hati, melainkan arah perjalanan hidup. Dan selama keadilan masih diperjuangkan, selama hak orang lemah masih dibela, selama seseorang lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan integritasnya, pada saat itulah jejak Imam Ali a.s masih hidup di tengah manusia.

Baca Juga  Keindahan Dakwah: Saat Suara Indah Bertemu Isi yang Bermakna
Bagikan:
Terkait
Komentar