Palestina dan Hilangnya Inisiatif Dunia Islam

KHAMENEI.ID– Ada satu pola yang berulang dalam sejarah: mereka yang kehilangan inisiatif, lambat laun kehilangan lebih dari sekadar wilayah. Mereka kehilangan kemampuan menentukan arah masa depan. Dalam konflik Palestina, pelajaran itu tampak begitu nyata. Selama puluhan tahun, perubahan demi perubahan justru lebih sering digerakkan oleh pihak yang menduduki tanah itu, sementara dunia Islam berkali-kali hanya berada pada posisi bereaksi, mengutuk, dan mengeluh.

Sejarah Palestina bukanlah kisah yang berubah dalam semalam. Ia bergerak melalui langkah-langkah kecil yang dirancang dengan cermat. Pada mulanya, tanah-tanah Palestina dibeli sedikit demi sedikit. Setelah itu, kelompok-kelompok Zionis memperkuat diri dengan persenjataan dan organisasi yang semakin kokoh. Ketika situasi menjadi semakin tegang, konflik internal pecah, lalu lahirlah rencana pembagian wilayah yang mengubah peta politik kawasan. Dari sana, pendudukan terus meluas hingga akhirnya sebagian besar Palestina berada di bawah kendali Israel. Bahkan wilayah dari negara-negara tetangga seperti Mesir, Suriah, dan Yordania pun pernah ikut terseret ke dalam ekspansi tersebut.

Jika ditarik lebih jauh, rangkaian peristiwa itu memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Pendudukan tidak selalu dimulai dengan dentuman meriam. Ia sering kali diawali oleh strategi, kesabaran, dan kemampuan membaca peluang. Perubahan besar lahir dari akumulasi langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Sebaliknya, banyak negara Muslim justru lebih sibuk merespons setiap perkembangan daripada menyusun arah baru. Setiap kali muncul fakta baru di lapangan, reaksi datang belakangan. Setiap kali peta berubah, dunia Islam kembali dipaksa menerima kenyataan yang sudah telanjur terjadi. Politik pun akhirnya berjalan mengikuti irama yang ditentukan pihak lain.

Dalam hubungan internasional, inisiatif memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan pertempuran. Siapa yang mampu menentukan agenda, memilih waktu, dan menetapkan arah pembicaraan, dialah yang sesungguhnya sedang memegang kendali. Ketika satu pihak terus bergerak sementara pihak lain hanya mengikuti, hasil akhirnya hampir selalu dapat diperkirakan.

Baca Juga  Mengapa Negara Islam Membutuhkan Ulama, Bukan Kekuasaan Ulama?

Di tengah sejarah panjang itu, hanya ada sedikit momen ketika keadaan sempat berbalik. Salah satunya adalah Perang Ramadan atau Perang Oktober 1973. Saat itu, Mesir dan Suriah melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Israel. Meski pada akhirnya perang tersebut tidak menghasilkan seluruh tujuan yang diharapkan, antara lain karena dukungan besar Amerika Serikat kepada Israel serta belum solidnya negara-negara Islam, serangan itu tetap dikenang sebagai salah satu titik balik penting. Sebagian wilayah Arab berhasil dibebaskan, dan yang lebih penting lagi, dunia Arab menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan mengambil langkah strategis, bukan sekadar bertahan.

Momen itu menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu berpihak kepada mereka yang lebih kuat secara militer. Kadang-kadang, sejarah berubah karena keberanian mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Inisiatif mampu mengubah psikologi sebuah konflik. Ia membangkitkan harapan, memulihkan kepercayaan diri, sekaligus mengingatkan bahwa masa depan tidak harus selalu ditentukan oleh pihak yang lebih dahulu bergerak.

Namun setelah itu, keadaan kembali berubah. Gagasan-gagasan tentang kompromi dan proses perdamaian lebih sering lahir dari pihak yang menguasai medan. Istilah-istilah seperti “perdamaian”, “normalisasi”, dan “rekonsiliasi” berkali-kali muncul dalam forum internasional, tetapi sering kali berlangsung dalam kerangka yang tetap mempertahankan realitas pendudukan. Akibatnya, pembicaraan mengenai solusi justru bergerak di atas fondasi yang telah dibentuk oleh pihak yang lebih dahulu menciptakan fakta di lapangan.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan Palestina sebenarnya mengajarkan pelajaran yang berlaku untuk banyak bidang kehidupan. Bangsa, organisasi, bahkan individu yang kehilangan inisiatif perlahan akan kehilangan ruang untuk menentukan pilihan. Mereka tidak lagi menyusun masa depan, melainkan sekadar menyesuaikan diri terhadap keputusan orang lain.

Baca Juga  Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Ketika Kesantunan Menjadi Bentuk Keadilan

Karena itu, dukungan terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada pidato, resolusi, atau ungkapan simpati. Solidaritas membutuhkan strategi, koordinasi, dan kesungguhan politik yang nyata. Negara-negara Muslim, terutama yang memiliki posisi strategis di kawasan, memerlukan kerja sama yang lebih erat untuk memperkuat negara-negara yang berada di garis depan. Tanpa langkah nyata, setiap kecaman hanya akan menjadi gema yang segera hilang setelah pertemuan-pertemuan diplomatik berakhir.

Lebih dari itu, Palestina adalah ujian mengenai kemampuan dunia Islam membangun visi bersama. Selama masing-masing bergerak sendiri-sendiri, kekuatan besar yang memiliki strategi jangka panjang akan selalu selangkah di depan. Sebaliknya, ketika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan sesaat, peluang untuk mengubah arah sejarah akan terbuka lebih lebar.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari perjalanan panjang Palestina bukan hanya tentang pendudukan sebuah negeri, melainkan tentang pentingnya memegang kendali atas arah sejarah. Sebab sejarah jarang menunggu mereka yang hanya bereaksi. Ia lebih sering berpihak kepada mereka yang berani mengambil langkah pertama, menyusun strategi, dan mempertahankan komitmennya dalam jangka panjang. Di sanalah masa depan mulai dibentuk, bukan ketika kita sekadar menyesali apa yang telah terjadi, melainkan ketika kita memutuskan untuk menjadi penentu, bukan sekadar penonton, dalam perjalanan sejarah.

Bagikan:
Terkait
Komentar