KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang memiliki banyak universitas, tetapi tidak memiliki cukup pengetahuan yang lahir dari universitasnya sendiri. Gedung-gedung kampus berdiri megah, ruang kuliah dipenuhi mahasiswa, gelar akademik terus diproduksi. Namun ketika hendak menjawab persoalan penting, mata masih diarahkan ke luar: menunggu penelitian dari negeri lain, membaca teori yang dibuat di tempat lain, lalu mengajarkannya kembali di ruang-ruang kuliah sendiri.
Di situlah sebuah persoalan yang lebih dalam bermula. Bukan semata soal kualitas pendidikan, melainkan soal kemandirian ilmu pengetahuan.
Pendidikan pada akhirnya hanya akan tumbuh sejauh penelitian menyuplai bahan bakarnya. Tanpa penelitian, pendidikan mudah berubah menjadi kegiatan memindahkan pengetahuan lama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Universitas menjadi tempat mengulang, bukan menemukan. Dosen menjadi penyampai kesimpulan, bukan pencari jawaban. Mahasiswa belajar mengetahui apa yang sudah ditemukan orang lain, tetapi tidak cukup dilatih untuk bertanya apa yang belum ditemukan.
Gagasan itu terasa sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Penelitian bukan aksesori akademik yang ditempelkan pada universitas agar tampak modern. Ia adalah sumber kehidupan ilmu itu sendiri.
Dalam sebuah pertemuan dengan para profesor dan pimpinan universitas, gagasan tersebut dirumuskan dengan tajam: jika penelitian tidak dianggap serius, sebuah negara akan terus-menerus menunggu hasil penelitian dari tempat lain. Ketika seseorang di sudut dunia menemukan sesuatu, kita baru bergerak untuk mempelajarinya, menerjemahkannya, menyusun buku berdasarkan temuan itu, kemudian mengajarkannya di kampus.
Siklus semacam ini tampak produktif karena kegiatan akademik tetap berjalan. Padahal di dalamnya tersimpan ketergantungan.
Masalahnya bukan pada menerjemahkan karya asing. Bukan pula pada belajar dari universitas terkemuka di dunia. Justru pertukaran pengetahuan adalah bagian penting dari kehidupan ilmiah. Tidak ada universitas besar yang tumbuh dalam ruang tertutup. Ilmu pengetahuan sejak awal berkembang melalui perjumpaan, perdebatan, koreksi, dan pertukaran lintas batas.
Yang menjadi persoalan adalah ketika pertukaran itu berlangsung hanya dalam satu arah.
Kita menerima, tetapi jarang memberi. Kita membaca, tetapi tidak cukup banyak menghasilkan. Kita mengutip, tetapi tidak cukup sering dikutip. Kita menjadi pengguna pengetahuan dunia, tetapi belum menjadi salah satu sumber pengetahuan yang diperhitungkan dunia.
Di titik ini, perbedaan antara belajar dan selamanya menjadi murid menjadi penting.
Belajar dari orang lain bukan sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, kerendahan hati intelektual justru merupakan syarat kemajuan. Seorang ilmuwan yang merasa tidak perlu belajar dari siapa pun mungkin sedang menutup pintu bagi perkembangan dirinya sendiri. Sebuah universitas yang menolak pengetahuan dari luar juga akan segera menjadi pulau kecil yang tertinggal.
Tetapi ada keadaan yang jauh lebih problematis: ketika seseorang atau sebuah bangsa tidak pernah keluar dari posisi sebagai murid.
Kita bisa belajar dari guru terbaik, tetapi pada suatu titik harus mampu mengajukan pertanyaan yang belum diajukan guru. Kita boleh menggunakan teori yang dirumuskan orang lain, tetapi pada saat tertentu harus mampu menguji, mengoreksi, bahkan melampauinya. Sebab ilmu tidak berkembang karena manusia terus-menerus menghafal jawaban. Ilmu berkembang karena manusia berani mempertanyakan jawaban yang dianggap selesai.
Dalam konteks universitas, penelitian menjadi ruang untuk keberanian itu.
Penelitian membuat kampus tidak hanya bertanya, “Apa yang telah diketahui manusia?” tetapi juga, “Apa yang belum kita ketahui?” Perubahan pertanyaan ini tampaknya kecil, tetapi justru di sanalah watak sebuah institusi ilmiah ditentukan.
Universitas yang hidup bukan sekadar gudang buku. Ia adalah tempat pengetahuan diproduksi, diuji, dibantah, diperbaiki, dan dilahirkan kembali. Karena itu, kekuatan sebuah universitas tidak cukup diukur dari jumlah gedung, mahasiswa, profesor, atau program studinya. Ada ukuran lain yang lebih sunyi: berapa banyak pertanyaan baru yang mampu ia lahirkan, dan berapa banyak jawaban baru yang dapat ia persembahkan kepada masyarakat.
Gagasan ini juga relevan bagi negara yang sedang membangun. Ketergantungan intelektual sering kali tidak tampak seperti ketergantungan ekonomi. Tidak ada kapal yang datang membawa barang impor. Tidak ada transaksi yang terlihat kasatmata. Yang datang mungkin hanya buku, jurnal, teori, perangkat metodologi, atau hasil penelitian.
Namun jika hampir seluruh fondasi berpikir selalu berasal dari luar, ketergantungan tetaplah ketergantungan.
Karena itu, kemandirian ilmu bukan berarti menutup pintu terhadap dunia. Justru sebaliknya. Semakin kuat fondasi penelitian sendiri, semakin percaya diri sebuah bangsa memasuki percakapan ilmiah global. Ia datang bukan hanya sebagai pendengar, melainkan sebagai peserta. Bukan sekadar membawa daftar pertanyaan, tetapi juga membawa temuan. Bukan hanya mencari pengetahuan, tetapi ikut menentukan arah pembicaraan tentang pengetahuan.
Di sinilah pertukaran ilmiah memperoleh maknanya yang sebenarnya. Pertukaran bukan antara pihak yang selalu memberi dan pihak yang selalu menerima. Ia mestinya berlangsung di antara mereka yang sama-sama memiliki sesuatu untuk dibagikan.
Universitas yang mandiri bukan universitas yang tidak membutuhkan dunia. Ia justru universitas yang cukup kuat untuk berhubungan dengan dunia tanpa kehilangan pijakannya sendiri.
Pada akhirnya, persoalan penelitian bukan hanya persoalan laboratorium, anggaran riset, atau jumlah publikasi. Ia menyangkut martabat intelektual sebuah bangsa. Sebab bangsa yang tidak memproduksi pengetahuan sendiri akan selalu menunggu dunia menjelaskan dirinya.
Dan mungkin di situlah pertanyaan paling penting bagi sebuah universitas: apakah ia sedang mendidik manusia untuk mengetahui apa yang telah ditemukan, atau sedang menyiapkan mereka untuk menemukan sesuatu yang belum diketahui?
Perbedaan keduanya adalah jarak antara menjadi murid yang baik dan menjadi bangsa yang mampu berdiri dengan pengetahuannya sendiri.






