KHAMENEI.ID– Kekuasaan besar sering jatuh bukan karena ia kekurangan senjata, uang, atau sekutu. Ia jatuh karena keliru membaca manusia.
Dalam pidatonya pada peringatan wafat Ayatollah Ruhollah Khomeini qs, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyoroti satu hal yang menurutnya menjadi kesalahan mendasar Israel: salah menghitung kemampuan front perlawanan di kawasan. Dalam pidato lain, ia menyampaikan kritik serupa terhadap Amerika Serikat dalam menyikapi perang Gaza. Menurutnya, Washington keliru memahami masyarakat Timur Tengah dan menganggap setiap gerakan perlawanan sebagai perpanjangan tangan Iran.
Di balik pernyataan yang terdengar seperti kritik geopolitik itu terdapat satu gagasan yang lebih tua dan lebih sederhana: kekuasaan dapat menjadi rapuh ketika ia mengira manusia hanya bergerak karena perintah.
Sayyid Ali Khamenei qs menyebut kawasan itu kini memiliki sebuah “front perlawanan” yang terdiri dari kekuatan-kekuatan yang menurutnya memiliki kemampuan dan kehendak sendiri. Karena itu, katanya, kesalahan Israel bukan sekadar salah membaca kekuatan militer lawan. Kesalahannya adalah salah memahami sumber daya yang membuat perlawanan bertahan: manusia, keyakinan, pengalaman, dan kemauan untuk bertindak.
Di titik ini, perang tidak lagi hanya berbicara tentang peta, rudal, atau jumlah tentara. Ia memasuki wilayah yang lebih sulit dihitung: daya tahan.
Sebuah negara dapat menghitung berapa banyak pesawat yang dimiliki lawannya. Ia dapat memperkirakan jumlah rudal, kendaraan tempur, pangkalan, bahkan kemampuan ekonomi. Tetapi bagaimana menghitung kemarahan sebuah masyarakat? Bagaimana mengukur rasa kehilangan sebuah keluarga? Bagaimana memasukkan ingatan tentang tanah, rumah, dan orang-orang yang telah mati ke dalam tabel strategi?
Itulah ruang yang, dalam pembacaan Imam Ali Khamenei qs, gagal dipahami oleh Israel dan Amerika Serikat.
Ia menggambarkan Israel sebagai pihak yang justru masuk ke dalam lorong buntu yang dibuatnya sendiri. Kekalahan, menurut dia, akan datang berturut-turut hingga negara itu tidak menemukan jalan keluar. Bahkan ia menggunakan gambaran yang dramatis: Israel, katanya, sedang “meleleh” di depan mata dunia.
Pernyataan tersebut tentu merupakan pembacaan politik dari pihak Iran terhadap konflik yang sangat kompleks. Namun metafora tentang lorong buntu menarik untuk diperhatikan. Sebab sebuah perang memang dapat menjadi perangkap ketika tujuan politik tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus ditanggung.
Di Gaza, persoalan itu menjadi semakin jelas. Perang yang semula dapat dibaca melalui logika keamanan perlahan berkembang menjadi persoalan legitimasi, kemanusiaan, dan persepsi global. Ketika gambar-gambar kehancuran Gaza beredar melampaui batas negara, perang tidak lagi berlangsung hanya di medan tempur. Ia juga berlangsung di ruang publik dunia.
Imam Ali Khamenei qs menilai Amerika Serikat memilih posisi yang membuatnya semakin tidak populer. Ia menunjuk demonstrasi pro-Palestina di London, Paris, Amerika Serikat, dan berbagai tempat lain sebagai tanda bahwa dukungan terhadap Palestina sekaligus berubah menjadi ekspresi penolakan terhadap kebijakan Washington.
Ada ironi di sana. Sebuah negara adidaya dapat memenangkan pertempuran diplomatik di satu meja, tetapi kehilangan simpati di jalan-jalan kotanya sendiri. Ia dapat memiliki jaringan aliansi yang luas, tetapi kesulitan menjelaskan kebijakannya kepada generasi muda yang menyaksikan perang melalui layar telepon.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah salah satu perubahan penting dalam politik abad ke-21: monopoli informasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan negara.
Dulu, negara kuat dapat menentukan gambar apa yang sampai kepada rakyat. Kini, satu rekaman dari sebuah rumah sakit, satu foto dari reruntuhan, atau satu kesaksian dari seorang warga dapat berkeliling dunia dalam hitungan menit. Perang kemudian memperoleh penonton yang jauh lebih besar daripada para kombatan yang berada di medan tempur.
Namun Imam Ali Khamenei qs tidak berhenti pada kritik terhadap propaganda dan perhitungan strategis. Ia juga menolak anggapan bahwa setiap tindakan kelompok perlawanan di Yaman, Irak, Suriah, atau Lebanon harus secara otomatis dibaca sebagai perintah dari Iran.
Menurutnya, pandangan semacam itu justru merendahkan masyarakat yang bersangkutan. Mereka, katanya, memiliki pikiran, kehendak, keberanian, dan keteguhan sendiri.
Gagasan ini penting, terlepas dari apakah seseorang menerima seluruh analisis geopolitiknya atau tidak. Dalam setiap konflik, ada kecenderungan negara besar menyederhanakan lawan menjadi satu pusat komando. Dengan cara itu, dunia yang rumit menjadi lebih mudah dipahami: ada satu aktor yang dianggap mengendalikan semuanya, lalu setiap gerakan di lapangan dibaca sebagai pantulan kehendaknya.
Masalahnya, manusia tidak selalu sesederhana peta komando.
Gerakan sosial, perlawanan, nasionalisme, agama, kemarahan publik, dan kepentingan lokal dapat bertemu dalam satu medan tanpa sepenuhnya dikendalikan oleh satu pihak. Mengabaikan kenyataan itu bisa menghasilkan apa yang oleh Imam Ali Khamenei qs disebut sebagai “kesalahan perhitungan”.
Pada akhirnya, perang Gaza dan konflik Timur Tengah memperlihatkan paradoks lama kekuasaan. Semakin besar kemampuan seseorang untuk menghitung, semakin besar pula godaan untuk menganggap segala sesuatu dapat dihitung.
Padahal sejarah sering bergerak melalui hal-hal yang tidak masuk tabel: keberanian seseorang untuk bertahan, ingatan sebuah bangsa, rasa kehilangan, atau keyakinan bahwa sebuah perjuangan belum selesai.
Di situlah front perlawanan, sebagaimana dibaca Imam Ali Khamenei qs, memperoleh maknanya. Ia bukan hanya istilah militer. Ia adalah gambaran tentang kekuatan yang lahir ketika manusia merasa dirinya memiliki alasan untuk terus bertahan.
Dan mungkin, di tengah puing-puing Palestina, pelajaran paling penting bukanlah siapa yang memiliki senjata paling banyak. Melainkan siapa yang paling keliru membaca manusia.
Sebab kekuasaan yang salah menghitung jumlah senjata mungkin masih dapat memperbaiki strateginya. Tetapi kekuasaan yang salah memahami manusia bisa saja tidak pernah menemukan jalan keluar dari lorong yang telah dibuatnya sendiri.






