KHAMENEI.ID –Perempuan telah menjadi salah satu komoditas paling mahal dalam ekonomi modern. Tubuhnya dijual melalui iklan, kecantikannya dikemas dalam industri hiburan, citranya diperdagangkan oleh media, dan hasrat terhadapnya menjadi bahan bakar bisnis yang nyaris tak pernah berhenti. Di balik bahasa tentang kebebasan dan pilihan individual, ada pasar yang terus menghitung: berapa banyak perhatian yang bisa diperoleh dari tubuh perempuan, berapa banyak produk yang bisa dijual melalui kecantikannya, dan berapa besar keuntungan yang bisa dipetik dari hasrat manusia.
Di titik inilah kritik Imam Ali Khamenei qs menemukan sasaran.
Imam Khamenei merangkum secara tajam apa yang ia lihat sebagai kecenderungan utama peradaban Barat dalam memandang perempuan: sudut pandang keuntungan dan kenikmatan. Bukan berarti seluruh perempuan Barat atau setiap institusi Barat dapat direduksi ke dalam dua kata itu. Yang sedang ia kritik adalah sebuah sistem budaya—sebuah cara pandang yang, menurutnya, dapat mengubah perempuan dari manusia yang bermartabat menjadi objek ekonomi dan objek seksual.
Kebebasan Perempuan dalam Pandangan Imam Khamenei
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar apakah perempuan bebas. Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: bebas untuk menjadi apa, dan bebas menurut kepentingan siapa?
Sebab kebebasan dapat terdengar indah ketika dibicarakan di podium. Tetapi di pasar, kebebasan bisa memiliki harga. Tubuh yang dianggap bebas dapat sekaligus menjadi tubuh yang paling agresif dieksploitasi oleh industri. Pilihan pribadi dapat berubah menjadi tekanan sosial untuk tampil dengan standar kecantikan tertentu. Dan kebebasan mengonsumsi dapat bertemu dengan mesin pemasaran yang setiap hari mengajari perempuan bagaimana seharusnya tubuhnya terlihat.
Imam Khamenei tidak melihat persoalan perempuan sebagai wilayah di mana Islam harus selalu berada di posisi terdakwa. Justru sebaliknya. Ia menyebut persoalan perempuan sebagai salah satu “titik kekuatan Islam”. Alasannya, Islam memiliki kerangka argumentasi sendiri tentang perempuan: tentang martabat, tanggung jawab, kebebasan, keluarga, hak, sekaligus posisi manusia di hadapan Tuhan.
Kuncinya ada pada satu hal yang sering luput dalam perdebatan modern: Islam tidak menjadikan jenis kelamin sebagai ukuran utama nilai manusia.
Al-Qur’an mengatakan:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70).
Perhatikan kata yang digunakan: Bani Adam. Bukan laki-laki saja, bukan perempuan saja. Manusia. Kemuliaan diletakkan pada kemanusiaan itu sendiri.
Prinsip tersebut kembali muncul ketika Al-Qur’an menggambarkan laki-laki dan perempuan beriman sebagai mitra dalam kehidupan moral:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71).
Ini bukan sekadar ayat tentang kesalehan. Ada konsekuensi sosial yang penting. Perempuan dalam Islam bukan penonton dalam kehidupan moral masyarakat. Ia adalah pelaku (subjek bukan objek). Ia mempunyai kehendak, tanggung jawab, suara, dan kapasitas untuk memengaruhi kehidupan bersama.
Lebih jauh lagi, Al-Qur’an menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan spiritual tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Dalam rangkaian ayat tentang orang-orang yang memperoleh ampunan dan pahala, laki-laki dan perempuan ditempatkan berdampingan.
Tetapi ada bagian yang jauh lebih mengusik asumsi tentang superioritas laki-laki.
Al-Qur’an menjadikan dua perempuan sebagai teladan bagi orang-orang beriman.
Pertama adalah istri Fir‘aun:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun.” (QS. At-Tahrim: 11).
Kemudian Maryam sa:
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا
“Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya.” (QS. At-Tahrim: 12).
Ada ironi yang sulit diabaikan. Fir‘aun adalah simbol kekuasaan laki-laki yang absolut. Namun justru istrinya diangkat Al-Qur’an menjadi contoh bagi orang-orang beriman. Maryam bukan seorang penguasa, bukan jenderal, bukan pemilik kerajaan. Tetapi namanya diabadikan sebagai teladan.
Imam Khamenei membaca pilihan ini sebagai bantahan terhadap anggapan bahwa kekuatan fisik otomatis melahirkan keunggulan manusia. Laki-laki mungkin secara fisik lebih kuat, lebih besar, atau lebih mampu menguasai ruang tertentu. Tetapi apa hubungannya dengan kemuliaan?
Tidak ada.
Seorang laki-laki tidak menjadi lebih mulia hanya karena suaranya lebih berat atau tubuhnya lebih besar. Dan seorang perempuan tidak menjadi lebih rendah karena tubuhnya berbeda.
Di sini kritik Imam Khamenei bergerak dari persoalan perempuan menuju persoalan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah peradaban menentukan harga manusia?
Jika harga manusia ditentukan oleh daya beli, maka yang kaya lebih bernilai. Jika ditentukan oleh kekuatan, yang kuat lebih tinggi. Jika ditentukan oleh daya tarik fisik, tubuh yang memenuhi standar pasar akan lebih dihargai. Tetapi jika ukuran itu adalah martabat manusia di hadapan Tuhan, maka seluruh logika tersebut runtuh.
Ada satu hadis yang dikutip Imam Khamenei untuk menggambarkan posisi perempuan dalam keluarga. Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad saw, kepada siapa ia harus berbuat baik. Nabi menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, lalu siapa? Jawabannya tetap, “Ibumu.” Pertanyaan yang sama diajukan untuk ketiga kalinya, dan Nabi kembali menyebut “ibumu”. Baru setelah itu ayah disebut.
Tiga kali ibu.
Hadis ini tidak sekadar memberikan penghormatan simbolik. Ia mengingatkan bahwa ada kerja manusia yang sering tidak masuk ke dalam neraca ekonomi: kehamilan, kelahiran, pengasuhan, kesabaran, dan pengorbanan. Semua itu memiliki nilai yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka gaji.
Di tengah ekonomi modern yang mengukur hampir segala sesuatu melalui produktivitas dan keuntungan, pertanyaan tersebut menjadi relevan. Apa yang terjadi ketika pekerjaan yang menghasilkan uang dianggap lebih bernilai daripada pekerjaan yang membentuk manusia?
Di situlah Islam, dalam pembacaan Imam Ali Khamenei qs, menawarkan ukuran yang berbeda.
Perempuan Bukan Komoditas
Perempuan bukan komoditas. Ia bukan sekadar tubuh yang dapat dipasarkan. Ia bukan pula sekadar instrumen keluarga. Ia adalah manusia yang memiliki kapasitas spiritual dan moral yang sama untuk mencapai kemuliaan.
Tentu, kritik terhadap Barat tidak boleh berhenti sebagai slogan. Dunia Barat sendiri bukan blok tunggal, dan pengalaman perempuan di dalamnya sangat beragam. Ada gerakan yang melawan eksploitasi seksual, memperjuangkan perlindungan perempuan, menuntut kesetaraan upah, dan mengkritik komersialisasi tubuh. Karena itu, persoalan yang lebih serius bukanlah menyederhanakan “Barat” sebagai satu wajah, melainkan menguji setiap sistem dengan pertanyaan yang sama: apakah manusia diperlakukan sebagai tujuan atau sebagai alat?
Pertanyaan itu justru membuat kritik Imam Khamenei lebih menarik untuk dibaca.
Sebab industri dapat berubah, teknologi dapat berubah, bahasa politik dapat berubah. Tetapi persoalan mendasarnya tetap sama: ketika tubuh manusia mempunyai nilai ekonomi, siapa yang menentukan harganya?
Islam menjawab dengan cara yang berbeda. Nilai manusia tidak dimulai dari pasar. Ia dimulai dari martabat.
Dan mungkin di situlah letak perdebatan yang sesungguhnya tentang perempuan: bukan antara Barat dan Islam semata, melainkan antara dua cara memandang manusia—sebagai komoditas yang dapat dimanfaatkan, atau sebagai makhluk bermartabat yang tidak pernah selesai hanya dengan harga yang bisa diberikan kepadanya.






