Ketika Pertahanan Menjadi Cara Mencegah Perang

KHAMENEI.ID– Perang sering kali dimulai jauh sebelum peluru pertama ditembakkan. Ia bermula dari sebuah keyakinan: bahwa lawan tidak akan mampu membalas. Karena itu, sebuah negara yang ingin hidup damai tidak cukup hanya menyatakan bahwa ia tidak menghendaki perang. Ia juga harus memastikan bahwa siapa pun yang berniat menyerangnya berpikir berkali-kali sebelum menekan pelatuk.

Di situlah gagasan tentang kekuatan pertahanan memperoleh maknanya. Bukan semata-mata soal kapal perang, persenjataan, atau jumlah pasukan, melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kesan bahwa dirinya bukan sasaran yang mudah dipermainkan.

Dalam sebuah pertemuan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs dengan para komandan, personel Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, dan keluarga mereka, gagasan itu diletakkan dalam kerangka yang lebih luas: kekuatan sebagai cara menciptakan pencegahan. Kehadiran pasukan revolusioner di kawasan selatan Iran, terutama di wilayah pesisir, disebut telah mengubah perhitungan lawan. Laut yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai ruang terbuka bagi tekanan dan ancaman justru menjadi wilayah yang menuntut kehati-hatian.

Beberapa kapal, helikopter, dan kapal tanker mengalami kerusakan dalam berbagai konfrontasi. Tetapi yang dianggap penting bukan semata kerusakan material itu. Ada pesan yang lebih besar: Republik Islam Iran tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang nasibnya bisa ditentukan sesuka hati oleh kekuatan lain.

Pesan semacam itu berhubungan dengan apa yang disebut sebagai “kekuatan spiritual” kekuatan yang tidak seluruhnya dapat diukur dengan tonase kapal, jangkauan rudal, atau jumlah personel. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa sebuah bangsa memiliki kemauan untuk mempertahankan dirinya.

Di titik ini, teks keagamaan memasuki pembicaraan bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai dasar cara memandang ancaman. Al-Quran berkata:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

Baca Juga  Perang Tak Selalu dengan Senjata: Imam Khamenei tentang Terorisme, Strategi Geopolitik, dan Ketahanan Dunia Islam

“Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi dan pasukan berkuda yang dapat membuat gentar musuh Allah dan musuhmu” (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini kerap dibaca dalam konteks persiapan menghadapi ancaman. Namun gagasan yang muncul dari pembacaan tersebut tidak berhenti pada kemampuan menyerang. Ada dimensi pencegahan yang penting: kekuatan harus membuat agresor menyadari bahwa tindakan agresif memiliki konsekuensi.

Dengan kata lain, pertahanan yang kuat justru dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga perdamaian.

Dalam konteks hubungan antarnegara, logika itu bukan sesuatu yang asing. Negara yang pertahanannya rapuh lebih mudah dipaksa mengikuti kehendak pihak yang lebih kuat. Sebaliknya, kemampuan mempertahankan diri dapat mempersempit ruang bagi pihak luar untuk melakukan tekanan. Kekuatan, dalam pengertian ini, bukan hanya kemampuan untuk berperang, tetapi kemampuan untuk membuat perang tidak menjadi pilihan yang mudah bagi lawan.

Namun jika ditarik lebih jauh, ada persoalan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang disebut sebagai musuh?

Hal yang perlu diakui adalah ancaman tidak selalu datang dalam bentuk deklarasi perang. Ia bisa hadir sebagai upaya merangsek perlahan, menguji batas, membaca kelemahan, kemudian mengambil ruang yang tidak dijaga. Karena itu, mengenali sifat lawan menjadi bagian dari pertahanan. Sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki senjata; ia harus memiliki kesadaran.

Kesadaran semacam ini penting karena sejarah memperlihatkan bahwa agresi sering memanfaatkan kelengahan. Ketika sebuah “tanggul” dianggap mudah ditembus, tekanan akan terus diarahkan ke titik itu. Sebaliknya, ketika pertahanan menunjukkan keteguhan, kalkulasi lawan berubah.

Di sinilah keberadaan para prajurit muda di kawasan pesisir memperoleh makna simbolik. Mereka digambarkan sebagai generasi yang tidak terlalu terikat pada kenyamanan duniawi, memiliki keberanian, dan bersedia mengambil risiko demi mempertahankan wilayahnya. Kehadiran mereka bukan hanya persoalan militer, melainkan bagian dari pembentukan psikologi pertahanan sebuah negara.

Baca Juga  Di Mana Kemuliaan Menemukan Namanya: Fatimah 

Dalam konteks yang lebih luas, sebuah negara membutuhkan dua hal sekaligus: keinginan untuk berdamai dan kemampuan untuk mempertahankan perdamaian itu. Mengatakan “kami tidak akan memulai perang” adalah satu hal. Memastikan bahwa pihak lain tidak berani memulai perang adalah hal yang berbeda.

Perbedaan itu penting.

Sebab perdamaian yang hanya bergantung pada niat baik pihak lain adalah perdamaian yang rapuh. Ia membutuhkan bukan hanya diplomasi, tetapi juga kesiapan. Bukan hanya dialog, tetapi juga kemampuan menjaga batas. Bukan hanya seruan damai, tetapi juga kesanggupan menunjukkan bahwa agresi bukan pilihan tanpa biaya.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang relevan bagi banyak negara, kedaulatan tidak hanya dipertahankan ketika perang telah pecah. Ia dipertahankan setiap hari, melalui kesiapan, ketahanan, pengetahuan tentang lingkungan strategis, dan kemampuan membaca niat pihak lain.

Pertahanan pada akhirnya bukan tentang seberapa sering sebuah bangsa menggunakan kekuatannya. Justru ukuran yang lebih penting adalah seberapa efektif kekuatan itu membuat penggunaannya tidak diperlukan.

Barangkali di situlah paradoks pertahanan berada. Senjata yang paling berguna bukan selalu yang ditembakkan, melainkan yang membuat orang berpikir untuk tidak menembak. Kapal yang paling berhasil bukan selalu yang memenangkan pertempuran, melainkan yang membuat pertempuran batal terjadi.

Sebab perdamaian yang kokoh bukan lahir dari ketidakberdayaan, melainkan dari kemampuan untuk mengatakan: kami tidak mencari perang, tetapi kami juga tidak akan membiarkan orang lain menentukan nasib kami.

Dan kadang-kadang, agar perang tidak terjadi, sebuah bangsa memang harus terlebih dahulu membuat perang menjadi pilihan yang terlalu mahal bagi siapa pun yang hendak memulainya.

Bagikan:
Terkait
Komentar