KHAMENEI.ID– Ada masa ketika menjadi revolusioner terasa mudah. Suasana sedang bergolak, perubahan menjadi bahasa sehari-hari, dan keberanian mendapat tepuk tangan. Orang-orang muda berdiri dengan keyakinan, mengucapkan kalimat-kalimat yang menyala, menentang kemapanan dan merasa berada di sisi sejarah.
Namun sejarah memiliki ujian yang jauh lebih panjang daripada keberanian sesaat: bertahan.
Di sinilah persoalan tentang tetap revolusioner menjadi lebih rumit daripada sekadar memiliki pandangan revolusioner. Banyak orang pernah berada di barisan perubahan. Tidak sedikit yang dahulu berbicara paling keras, bersikap paling tegas, bahkan tampak jauh lebih berani daripada orang-orang di sekelilingnya. Tetapi waktu berjalan. Sebagian dari mereka kemudian meninggalkan jalan yang pernah mereka bela.
Bukan selalu karena mereka tiba-tiba menemukan gagasan yang lebih baik. Ada kalanya karena mereka tidak sanggup menanggung beban perjalanan.
Kenangan semacam itu muncul dalam sebuah pidato Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs di hadapan para anggota parlemen pada masa awal republik. Diingat kembali bagaimana pada sekitar 1979, ketika revolusi masih sangat muda, sejumlah orang datang dengan semangat yang begitu menyala. Mereka memiliki pengalaman perjuangan dan berbicara dengan nada yang begitu keras hingga membuat orang lain tertegun. Dalam istilah yang lebih modern, mereka bisa disebut sebagai orang-orang yang “super-revolusioner”.
Tetapi sebagian dari mereka tidak bertahan sebagai orang revolusioner.
Ada ironi yang dalam di sana. Seseorang bisa begitu berani ketika perubahan sedang menjadi gelombang, tetapi goyah ketika perubahan menuntut kesabaran. Menjadi revolusioner ternyata bukan hanya soal keberanian mengatakan “tidak” kepada sesuatu. Ia juga menuntut kemampuan untuk tetap berdiri ketika jalan yang dipilih menjadi panjang, melelahkan, dan tidak lagi menghasilkan sorak-sorai.
Di titik ini, makna revolusi bergeser. Revolusi bukan hanya peristiwa. Ia adalah ujian terhadap ketahanan manusia.
Al-Quran memiliki ungkapan yang tajam tentang persoalan tersebut. Dalam Surah Hud ayat 112, Allah berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Maka tetaplah engkau teguh sebagaimana engkau diperintahkan, dan demikian pula orang-orang yang bertobat bersamamu” (QS. Hud:112)
Kalimat itu pendek, tetapi bebannya panjang: tetaplah teguh.
Bukan sekadar memulai. Bukan sekadar berjanji. Bukan pula sekadar menunjukkan keberanian pada hari pertama. Yang diminta adalah istiqamah keteguhan untuk terus berjalan di jalan yang diyakini benar.
Dalam tradisi Islam, ayat ini bahkan dikenal sebagai salah satu ayat yang terasa sangat berat bagi Nabi Muhammad saw. Ada ungkapan masyhur, “Surah Hud telah membuatku beruban.” Beratnya bukan semata karena perintah untuk berdiri teguh, melainkan karena keteguhan itu harus dijalani terus-menerus. Hari demi hari. Dalam keadaan lapang maupun sempit. Ketika mendapat dukungan maupun ketika harus berjalan sendirian.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak hanya menyangkut individu. Ia juga menyentuh institusi dan kekuasaan.
Sebuah lembaga dapat lahir dari semangat perubahan, tetapi kemudian kehilangan semangat itu ketika kepentingan mulai bertambah. Sebuah parlemen dapat berbicara atas nama rakyat ketika masih berada di tengah gejolak, tetapi diuji ketika jabatan, kenyamanan, dan kepentingan politik mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebuah gerakan dapat memiliki cita-cita besar pada awalnya, tetapi perlahan berubah menjadi rutinitas administratif yang sibuk mempertahankan dirinya sendiri.
Karena itu, tantangan terbesar bagi sebuah gerakan bukan selalu bagaimana merebut ruang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga alasan mengapa ruang itu direbut.
Dalam kehidupan politik modern, perubahan sering dirayakan melalui momentum: kemenangan pemilu, pergantian pemerintahan, lahirnya kebijakan baru, atau munculnya generasi pemimpin baru. Padahal ukuran yang lebih menentukan justru tampak setelah momentum berlalu. Ketika kamera tidak lagi menyala. Ketika pidato tidak lagi disambut tepuk tangan. Ketika keputusan yang benar ternyata tidak populer. Ketika mempertahankan prinsip menuntut pengorbanan pribadi.
Di sanalah ketahanan moral diuji.
Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan yang lebih luas. Banyak manusia mampu memulai sesuatu dengan penuh gairah: pekerjaan, perjuangan, pendidikan, pengabdian, bahkan perubahan diri. Yang sulit adalah menjaga api itu ketika hasil belum terlihat. Kita sering mengira kegagalan terjadi karena seseorang memilih jalan yang salah. Padahal kadang-kadang seseorang meninggalkan jalan yang benar bukan karena jalan itu salah, melainkan karena ia terlalu lelah untuk meneruskannya.
Maka “tetap revolusioner” tidak berarti terus-menerus menjadi keras, marah, atau menolak segala sesuatu. Ia lebih dekat dengan kesetiaan terhadap nilai yang membuat sebuah perjuangan layak diperjuangkan sejak awal.
Ada perbedaan antara menjadi revolusioner dan hidup dengan prinsip revolusioner. Yang pertama dapat menjadi identitas. Yang kedua adalah disiplin.
Identitas mudah dikenakan. Disiplin harus dijalani.
Dan mungkin itulah sebabnya keteguhan jauh lebih sulit daripada keberanian. Keberanian kadang hanya membutuhkan satu keputusan. Keteguhan membutuhkan ribuan keputusan kecil untuk tidak berbalik arah.
Pada akhirnya, waktu akan menyaring banyak hal. Ia akan memisahkan mereka yang sekadar pernah berada dalam sebuah gelombang dari mereka yang sanggup berenang ketika gelombang itu berubah menjadi arus panjang. Ia akan memperlihatkan siapa yang benar-benar percaya pada sebuah jalan dan siapa yang hanya menyukai suasana ketika jalan itu sedang memberi kebanggaan.
Menjadi revolusioner mungkin membuat seseorang dikenang pada suatu hari. Tetapi “revolusioner yang bertahan” diuji oleh seluruh hari setelahnya.
Barangkali di situlah makna terdalam istiqamah: bukan selalu berjalan dengan langkah besar, melainkan tetap melangkah ketika langkah besar sudah tidak mungkin lagi. Sebab perjuangan yang paling menentukan sering kali bukan saat seseorang memilih untuk berdiri, melainkan saat ia memiliki seribu alasan untuk duduk dan tetap memilih berdiri.






