KHAMENEI.ID– Ada masa ketika anak muda merasa paling revolusioner. Suaranya lantang, sikapnya tegas, dan keberaniannya menantang siapa saja yang dianggap tidak cukup radikal. Tetapi waktu mempunyai cara sendiri untuk menguji keberanian semacam itu. Ia memisahkan keyakinan yang tumbuh dari kedalaman pikiran dari keyakinan yang sekadar hidup di permukaan slogan.
Di situlah persoalan organisasi mahasiswa menjadi lebih serius daripada sekadar soal kegiatan kampus, diskusi, atau mobilisasi massa. Sebuah gerakan dapat memiliki semangat yang menyala, tetapi tanpa fondasi pemikiran dan iman yang kokoh, nyala itu mudah berubah arah. Hari ini seseorang bisa berdiri paling depan meneriakkan cita-cita perubahan; beberapa tahun kemudian, ia mungkin justru berjalan 180 derajat dari jalan yang pernah dibelanya.
Pelajaran semacam itu muncul dari pengalaman sejarah. Dalam sebuah pertemuan dengan perwakilan organisasi mahasiswa, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa hal pertama yang semestinya diperkuat oleh organisasi mahasiswa adalah fondasi keagamaan dan revolusioner mereka. Bukan sesuatu yang bisa dilewati dengan mudah. Sebab, menurutnya, gerakan yang ingin bertahan membutuhkan dua kekuatan sekaligus: penguatan pemikiran dan penguatan agama.
Nasihat itu terdengar sederhana. Namun justru karena sederhana, ia sering dilupakan. Gerakan anak muda biasanya lebih tertarik pada sesuatu yang terlihat: aksi, slogan, pernyataan sikap, bahkan perdebatan tentang siapa yang paling revolusioner. Sementara pekerjaan yang paling menentukan sering berlangsung dalam kesunyian yakni membaca, berpikir, bertanya, berdialog dengan orang yang lebih berilmu, dan menguji kembali keyakinan sendiri.
Di titik ini, agama tidak cukup dipahami sebagai identitas. Ia harus menjadi cara berpikir sekaligus sumber orientasi moral.
Imam Ali Khamenei qs menyarankan agar mahasiswa tidak berjalan sendirian dalam pencarian intelektual itu. Mereka dapat berhubungan dengan para ulama dan cendekiawan, terutama dari lingkungan pendidikan agama di Qom, yang dalam beberapa tahun sebelumnya telah melahirkan berbagai pemikiran dan gerakan intelektual. Pesannya bukan semata-mata agar mahasiswa mencari jawaban siap pakai. Lebih jauh, mereka perlu menemukan orang-orang yang dapat menjadi rujukan dan penasihat tepercaya dalam persoalan pemikiran, Islam, dan agama.
Gagasan tersebut penting karena semangat tanpa kedalaman sering menghasilkan keberanian yang rapuh. Seseorang bisa sangat yakin terhadap sesuatu bukan karena telah memikirkannya dengan matang, melainkan karena lingkungan sekitarnya terus mengatakan bahwa itulah kebenaran. Keyakinan semacam ini terasa kuat selama tidak diuji. Tetapi begitu berhadapan dengan tekanan, godaan, kepentingan, atau perubahan zaman, ia mudah retak.
Sejarah organisasi mahasiswa pada dekade 1980-an memberikan gambaran yang tajam. Sebagian organisasi ketika itu dianggap sebagai ujung tombak revolusi. Anak-anak mudanya merasa berada di garis paling depan. Bahkan, dalam berhadapan dengan orang-orang yang lebih dahulu memiliki pengalaman perjuangan, sebagian dari mereka dapat bersikap seolah-olah merekalah yang paling berhak menilai kadar revolusioner orang lain.
Namun waktu kemudian memperlihatkan jalan yang berbeda-beda.
Ada yang benar-benar mempertahankan keyakinannya. Sebagian terjun ke medan perjuangan, gugur, dan meninggalkan jejak pengabdian. Ada pula yang tetap bertahan pada garis yang mereka yakini. Tetapi sebagian lainnya berubah secara drastis. Bukan sekadar berubah sedikit dalam pandangan, melainkan berbalik hampir sepenuhnya dari jalan sebelumnya.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Jawabannya terletak pada satu persoalan yang lebih dalam daripada keberanian: kedalaman iman.
Iman yang hanya berhenti pada slogan tidak mempunyai akar yang cukup untuk menghadapi musim yang buruk. Ketika keadaan berubah, slogan dapat diganti dengan slogan lain. Ketika kepentingan bergeser, sikap dapat ikut bergeser. Ketika seseorang menemukan keuntungan baru, prinsip yang dulu diteriakkan dengan suara keras bisa tiba-tiba terdengar asing.
Namun iman yang telah tumbuh menjadi pemahaman memiliki sifat berbeda. Ia tidak mudah roboh hanya karena keadaan tidak sesuai dengan keinginan. Sebab seseorang tidak sekadar percaya; ia mengerti mengapa ia percaya. Ia tidak hanya mengetahui apa yang harus dibela, tetapi juga memahami mengapa sesuatu layak dibela.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini tidak hanya milik organisasi mahasiswa atau gerakan politik. Ia menyentuh kehidupan siapa pun yang pernah mengaku memiliki prinsip. Dunia modern penuh dengan identitas yang cepat dibentuk dan cepat pula ditinggalkan. Orang dapat berganti pandangan politik, lingkungan pergaulan, bahkan nilai hidup mengikuti arus yang paling kuat. Di tengah keadaan seperti itu, kedalaman menjadi semakin penting.
Sebab menjadi teguh bukan berarti keras kepala. Teguh berarti memiliki akar yang cukup dalam untuk tetap berdiri, sekaligus memiliki pikiran yang cukup terbuka untuk terus belajar.
Barangkali karena itu, tugas paling penting sebuah organisasi bukan hanya melahirkan kader yang berani berbicara. Ia harus melahirkan manusia yang sanggup berpikir ketika semua orang sedang berteriak, yang mampu mempertahankan keyakinan ketika keyakinan itu tidak lagi populer, dan yang bersedia mengoreksi dirinya ketika menemukan bahwa ia keliru.
Pada akhirnya, sebuah gerakan tidak hanya diuji ketika sedang berada di puncak semangat. Ia diuji ketika tepuk tangan berhenti, ketika musuh tidak lagi jelas, ketika kepentingan pribadi datang menawarkan jalan yang lebih mudah.
Pada saat itulah perbedaan antara iman dan slogan menjadi nyata.
Slogan membutuhkan pengeras suara agar terdengar. Iman yang mendalam tidak selalu membutuhkan suara keras. Ia bekerja lebih sunyi: menetap dalam pikiran, membentuk watak, dan perlahan menentukan ke mana seseorang melangkah ketika tak seorang pun sedang melihat.







