KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan yang kerap terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan umur sebuah bangsa: manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?
Peradaban tidak dibangun hanya dengan gedung tinggi, jalan raya, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu bisa menjadi tanda kemajuan, tetapi bukan fondasinya. Di bawah setiap peradaban yang bertahan lama selalu ada manusia yang membuatnya mungkin, manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, identitas, sekaligus kemampuan untuk membaca zamannya.
Di titik inilah pendidikan memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan sekolah dan ruang kelas.
Gagasan tentang peradaban baru Islam bertolak dari kesadaran bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Potensi peradaban Islam tidak cukup hanya diwariskan sebagai kenangan sejarah. Ia harus kembali tumbuh, menemukan bentuknya, dan menjawab kebutuhan zaman. Karena itu, pertanyaan tentang masa depan peradaban pada akhirnya adalah pertanyaan tentang masa depan manusia yang akan mengisinya.
Dan manusia itu sedang dibentuk hari ini.
Dalam pandangan tersebut, sumber daya manusia bukan sekadar tenaga kerja yang diperlukan untuk menggerakkan ekonomi. Ia adalah fondasi peradaban. Sebuah bangsa mungkin memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi tanpa manusia yang mampu mengolahnya, kekayaan itu mudah berubah menjadi ketergantungan. Sebuah negara dapat membeli teknologi tercanggih, tetapi jika tidak memiliki generasi yang mampu memahami, mengembangkan, dan menciptakannya sendiri, kemajuan itu tetap berada di tangan orang lain.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal pengetahuan. Ia harus melahirkan manusia yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Generasi yang dibutuhkan adalah generasi yang mengenal dirinya. Ia memiliki identitas yang kuat, tetapi tidak terperangkap dalam nostalgia. Ia mengenal akar kebudayaannya, memahami nilai-nilai keagamaannya, dan pada saat yang sama tidak merasa rendah diri di hadapan pencapaian bangsa lain. Ia tidak menjadi pengagum buta Timur maupun Barat, apalagi sekadar menjadi konsumen dari peradaban yang dibangun orang lain.
Di sinilah pendidikan dan identitas bertemu.
Pengetahuan tanpa identitas dapat melahirkan manusia yang cakap, tetapi mudah kehilangan arah. Sebaliknya, identitas tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi kebanggaan kosong yang tidak sanggup menjawab persoalan zaman. Yang dibutuhkan adalah pertemuan keduanya: manusia yang berilmu, terampil, produktif, dan sekaligus memahami siapa dirinya.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan itu juga mengubah cara kita memandang guru. Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan pelajaran dari buku kepada murid. Ia ikut menentukan jenis manusia yang akan mengisi masa depan.
Banyak capaian sebuah bangsa sesungguhnya bermula dari ruang kelas yang sunyi. Seorang anak yang kelak menjadi ilmuwan, prajurit, pengusaha, pejabat, seniman, teknisi, atau pemimpin masyarakat pernah duduk sebagai murid di hadapan seorang guru. Sebelum menjadi tenaga profesional, ia terlebih dahulu menjadi manusia yang dibentuk oleh pendidikan.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak anak yang lulus atau berapa tinggi nilai ujian mereka. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: manusia macam apa yang lahir dari sistem pendidikan itu?
Sejak perubahan politik besar di Iran, upaya membentuk generasi semacam itu disebut telah menghasilkan sejumlah capaian. Orang-orang yang ditempa melalui pendidikan kemudian tampil dalam berbagai bidang; ekonomi, militer, politik, ilmu pengetahuan, dan kehidupan sosial. Namun capaian tersebut dianggap belum cukup. Jika yang hendak dibangun adalah sebuah peradaban dengan jangkauan luas, pendidikan tidak dapat menghasilkan manusia unggul secara sporadis. Ia harus menjadi kebudayaan yang menyebar.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Pendidikan sering dibicarakan sebagai investasi masa depan, tetapi masa depan itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar berada di kejauhan. Ia tumbuh setiap pagi di rumah, sekolah, kampus, lingkungan pergaulan, dan layar yang dilihat anak-anak.
Dua belas tahun masa pendidikan dasar dan menengah, dalam kerangka pemikiran ini, merupakan kesempatan yang sangat berharga. Bukan semata-mata karena lamanya waktu, melainkan karena pada periode itulah nilai, kebiasaan, cara berpikir, dan rasa memiliki terhadap identitas mulai mengakar.
Apa yang ditanamkan selama masa itu dapat menjadi kompas yang dibawa seseorang sepanjang hidup.
Namun persoalannya bukan sekadar bagaimana menanamkan nilai. Generasi muda juga harus diberi kemampuan untuk berpikir kritis, menguasai ilmu, bekerja secara profesional, mengembangkan keterampilan, dan beradaptasi dengan perubahan. Sebab dunia yang akan mereka hadapi mungkin berbeda jauh dari dunia para gurunya.
Di sinilah tantangan pendidikan menjadi semakin rumit. Anak-anak tidak lagi hanya belajar dari guru. Mereka belajar dari internet, media sosial, budaya populer, algoritma, dan dunia yang nyaris tanpa batas. Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pintu pengetahuan. Justru karena itulah pendidikan harus menjadi lebih dalam daripada sekadar transfer informasi.
Tugasnya adalah membentuk manusia yang mampu memilih: apa yang layak dipercaya, apa yang patut ditolak, apa yang perlu dipelajari, dan untuk tujuan apa pengetahuan digunakan.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang peradaban baru Islam bukan terutama tentang bangunan besar yang kelak berdiri. Ia bermula dari manusia yang belum terlihat oleh sejarah. Anak-anak yang hari ini mungkin masih duduk diam di bangku sekolah, menulis dengan tangan yang belum sepenuhnya terampil, atau bertanya tentang dunia yang belum mereka pahami.
Mereka adalah masa depan yang masih berbentuk kemungkinan.
Dan kemungkinan itu berada di tangan pendidikan.
Sebab sebuah peradaban tidak lahir ketika sebuah bangsa merasa telah maju. Ia lahir ketika sebuah generasi memiliki cukup pengetahuan untuk mencipta, cukup karakter untuk bertanggung jawab, dan cukup keyakinan pada identitasnya untuk tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Masa depan, dengan demikian, tidak selalu menunggu di hadapan kita. Kadang ia sedang duduk di ruang kelas; menunggu seorang guru mengajarkan bukan hanya bagaimana memahami dunia, tetapi juga untuk apa dunia itu harus dibangun.







