Ketika Perubahan Terlalu Mudah Dibayangkan

KHAMENEI.ID– Ada jenis kesalahan yang tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari keyakinan bahwa persoalan terlalu sederhana. Orang ingin mengubah sesuatu, lalu segera bekerja. Semangat menyala, keputusan dibuat, program diluncurkan. Tetapi di tengah perjalanan, perubahan tersandung oleh sesuatu yang sejak awal luput dihitung: kenyataan selalu lebih rumit daripada gagasan tentang kenyataan.

Di situlah persoalan generasi pertama Revolusi Iran, menurut Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, menjadi menarik. Mereka tumbuh dalam pergolakan politik, perang, sanksi, dan berbagai krisis awal revolusi. Semua pengalaman itu menempa kemampuan mereka untuk bekerja dan bertahan. Banyak capaian penting lahir dari semangat tersebut. Namun ada satu kekurangan yang baru terlihat setelah waktu berjalan: mereka kerap memandang persoalan besar dengan cara yang terlalu sederhana.

Revolusi, pada mulanya, memang membutuhkan keberanian untuk bergerak. Tetapi ketika revolusi memasuki fase membangun institusi, keberanian saja tidak cukup. Ia membutuhkan ketelitian membaca medan.

Sayyid Ali Khamenei qs memberi contoh tentang gagasan “Islamisasi universitas”. Bagi generasi awal revolusi, gagasan itu tampak sebagai sesuatu yang masuk akal: jika sistem politik telah berubah, lembaga pendidikan pun harus diarahkan kepada nilai-nilai baru. Imam Khomeini qs sendiri menaruh perhatian besar pada universitas. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkannya.

Namun persoalannya ternyata jauh lebih dalam daripada mengganti kurikulum, kebijakan, atau struktur kelembagaan.

Universitas modern Iran, dalam pembacaan Sayyid Ali Khamenei qs, memiliki sejarah panjang yang tidak netral. Ia tumbuh pada masa pengaruh politik Barat begitu kuat. Para perancang awalnya dipandang sebagai kelompok yang sangat terpesona oleh kebudayaan dan model pendidikan Barat. Karena itu, universitas tidak sekadar mewarisi gedung, silabus, dan birokrasi. Ia juga mewarisi cara berpikir.

Baca Juga  Jangan Terlelap oleh Lullaby Musuh: Kewaspadaan sebagai Iman dan Politik

Dalam kerangka itu, pendidikan tinggi pernah diarahkan untuk melahirkan jenis manusia tertentu: elite yang patuh pada Barat sekaligus menjadi konsumen produk dan pengetahuan yang diproduksi Barat. Bukan hanya individu yang belajar, melainkan sebuah masyarakat yang secara perlahan dibentuk menjadi pasar.

Di titik ini, perubahan menjadi jauh lebih sulit.

Sebab mengubah universitas berarti berhadapan dengan sesuatu yang lebih tua daripada sebuah pemerintahan: kebiasaan berpikir. Sebuah institusi dapat berganti nama dalam sehari, tetapi watak intelektualnya tidak berubah hanya karena keputusan administratif. Lima puluh tahun sejarah, kebudayaan, orientasi ilmu pengetahuan, hubungan sosial, dan kebiasaan akademik tidak dapat dibongkar seperti mengganti papan nama di depan pintu.

Di sinilah transformasi pendidikan menemukan tantangan sebenarnya.

Semangat politik mungkin dapat menggerakkan massa dalam hitungan bulan. Tetapi perubahan kebudayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Ia harus masuk ke ruang kelas, laboratorium, penelitian, cara berpikir dosen, rasa ingin tahu mahasiswa, bahkan pada pertanyaan tentang ilmu pengetahuan macam apa yang hendak diproduksi dan untuk kepentingan siapa.

Karena itu, kegagalan sejumlah program perubahan tidak selalu berarti gagasannya keliru. Bisa jadi cara melihat masalahnya yang terlalu sederhana.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan semacam ini tidak hanya berlaku bagi universitas. Ekonomi menghadapi persoalan serupa. Begitu pula kebijakan ilmu pengetahuan, birokrasi, kebudayaan, dan berbagai institusi publik. Sebuah program dapat dimulai dengan gegap gempita, tetapi kemudian berhenti di tengah jalan. Bukan karena tidak ada orang yang bekerja, melainkan karena persoalan yang hendak diselesaikan ternyata memiliki terlalu banyak lapisan.

Kita sering menyukai perubahan yang dapat dilihat.

Gedung baru. Undang-undang baru. Struktur organisasi baru. Slogan baru. Program baru. Semua itu memberi kesan bahwa sesuatu sedang bergerak. Padahal perubahan yang paling menentukan sering kali tidak kasatmata: perubahan cara berpikir, etos kerja, budaya institusi, hubungan antara ilmu dan kekuasaan, serta cara manusia memahami tujuan hidup bersama.

Baca Juga  Imam Mahdi dan Keadilan yang Dinanti Dunia

Gagasan ini menjadi semakin relevan pada zaman ketika segala sesuatu dituntut serba cepat. Dunia digital membuat masyarakat terbiasa dengan perubahan dalam hitungan hari. Sebuah aplikasi dapat mengubah kebiasaan jutaan orang dalam waktu singkat. Sebuah kebijakan dapat diumumkan pagi dan menjadi perdebatan nasional pada sore hari. Kecepatan kemudian dengan mudah disalahartikan sebagai kemajuan.

Padahal tidak semua yang cepat berarti mendalam.

Perubahan sosial memiliki semacam “gunung” yang harus didaki. Dari kejauhan puncaknya tampak jelas. Tetapi ketika mulai mendaki, barulah terlihat jurang, batu licin, jalan buntu, dan tikungan yang sebelumnya tidak tampak. Generasi pertama sebuah perubahan mungkin cukup dengan keberanian untuk mencapai kaki gunung. Generasi berikutnya harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana melewati lerengnya.

Di sinilah pengalaman menjadi penting. Bukan sekadar pengalaman melakukan sesuatu, tetapi pengalaman menyadari mengapa sesuatu gagal.

Sayyid Ali Khamenei qs mengakui bahwa pada masa awal, banyak orang belum sepenuhnya memahami kerumitan itu. Pandangan mereka terhadap persoalan masih sederhana. Namun pengalaman kemudian memperlihatkan titik-titik yang sebelumnya tidak terlihat. Orang-orang di dalam universitas sendiri menemukan masalah, menyampaikannya, memperbaiki sebagian hal, dan perlahan membuka jalan bagi pemahaman yang lebih matang.

Perubahan, dengan demikian, bukan hanya soal kehendak. Ia juga soal kemampuan membaca kenyataan.

Barangkali inilah pelajaran paling penting dari perdebatan tentang universitas tersebut. Setiap masyarakat yang ingin melakukan transformasi harus berhati-hati terhadap godaan untuk percaya bahwa dunia dapat diubah hanya dengan keputusan yang benar. Keputusan memang penting. Kepemimpinan juga penting. Semangat bahkan sering menjadi tenaga pertama yang membuat perubahan dimulai.

Tetapi setelah itu, yang diperlukan adalah kesabaran menghadapi kerumitan.

Sebab dunia tidak pernah sesederhana peta yang kita gambar di atas meja. Mereka yang hendak mengubahnya harus bersedia turun ke jalan yang sesungguhnya, jalan yang berliku, penuh kejutan, dan sering kali memaksa manusia mengoreksi keyakinannya sendiri.

Baca Juga  Taqwa dalam Politik: Ketika Kejujuran Lebih Sulit daripada Kecerdikan

Mungkin ukuran kedewasaan sebuah gerakan bukan hanya seberapa berani ia memulai perubahan, melainkan seberapa jujur ia mengakui bahwa perubahan itu jauh lebih sulit daripada yang pernah dibayangkan.

Dan justru dari pengakuan itulah, perubahan yang lebih matang mungkin bermula.

Bagikan:
Terkait
Komentar