Ketika Ilmu Kehilangan Arah

KHAMENEI.ID– Universitas sering dibayangkan sebagai tempat manusia mengejar pengetahuan. Di sana buku dibaca, teori diperdebatkan, penelitian dilakukan, dan gelar dibagikan. Tetapi ada pertanyaan yang lebih sulit: untuk apa ilmu itu digunakan setelah seseorang menemukannya?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika kampus semakin sibuk berbicara tentang politik, karier, teknologi, dan kompetisi global. Semua tampak penting. Namun di tengah keramaian itu, ada sesuatu yang mudah terlupakan: universitas pada dasarnya adalah tempat ilmu tumbuh. Bukan sekadar tempat aktivitas, apalagi sekadar pabrik ijazah.

Ada tiga pekerjaan besar yang semestinya berlangsung bersamaan di dalamnya: melahirkan orang berilmu, menghasilkan ilmu baru, dan memastikan keduanya bergerak menuju arah yang benar.

Yang pertama terdengar sederhana. Universitas harus melahirkan manusia yang benar-benar menguasai bidangnya. Bukan hanya orang yang mampu menghafal teori, menyelesaikan ujian, atau memperoleh gelar akademik. Seorang ilmuwan mestinya memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara mendalam dan keberanian untuk mencari jawaban ketika pengetahuan yang tersedia belum memadai.

Yang kedua lebih menantang: menghasilkan ilmu.

Sebuah bangsa tidak cukup hanya menjadi konsumen pengetahuan yang diproduksi bangsa lain. Ia harus berani berdiri di garis depan, menembus batas-batas yang belum diketahui. Di sinilah kemajuan ilmu menjadi persoalan strategis. Penelitian bukan sekadar kegiatan di laboratorium atau tumpukan publikasi ilmiah. Ia menentukan seberapa jauh sebuah masyarakat mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Sebab ilmu tidak berhenti di ruang kuliah.

Ketika pengetahuan berkembang, teknologi mengikuti. Ketika teknologi berkembang, ia masuk ke kehidupan sehari-hari: mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, mengobati penyakit, mengelola pangan, membangun kota, bahkan menentukan cara sebuah negara mempertahankan dirinya. Pada titik tertentu, kemajuan ilmu membuat dunia memandang kepada mereka yang menguasainya. Bukan semata karena kekayaan yang dimiliki, melainkan karena kemampuan mereka menciptakan sesuatu yang dibutuhkan manusia lain.

Baca Juga  Khawarij dan Bahaya Merasa Paling Benar dalam Agama

Di sinilah ilmu berubah menjadi kekuatan.

Tetapi justru karena ia merupakan kekuatan, ilmu tidak pernah benar-benar netral dalam akibatnya.

Pengetahuan yang sama yang memungkinkan manusia menyembuhkan dapat pula memungkinkan manusia menghancurkan. Laboratorium yang menjadi tempat pencarian kehidupan dapat berubah menjadi ruang penciptaan senjata. Kecerdasan manusia dapat menghasilkan teknologi yang memperpanjang umur, tetapi juga menciptakan alat penghancur dalam skala yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya.

Bom atom adalah salah satu pengingat paling mengerikan. Senjata kimia menjadi pengingat berikutnya. Pengetahuan biologis pun dapat disalahgunakan menjadi ancaman terhadap tubuh dan kehidupan manusia.

Maka persoalan universitas ternyata tidak selesai ketika seorang mahasiswa menjadi pintar. Bahkan tidak selesai ketika sebuah negara berhasil menghasilkan teknologi canggih. 

Ada pertanyaan ketiga yang jauh lebih mendasar: ke mana ilmu dan manusia berilmu itu diarahkan?

Di titik ini, pendidikan tinggi berhadapan dengan persoalan moral.

Kita terbiasa mengukur kemajuan universitas melalui angka: jumlah publikasi, peringkat, paten, lulusan, dana riset, atau kerja sama internasional. Semua ukuran itu berguna. Namun angka-angka tersebut belum menjawab pertanyaan paling manusiawi: apakah pengetahuan yang dihasilkan membuat kehidupan menjadi lebih baik?

Sebuah teknologi bisa sangat maju dan sekaligus sangat berbahaya. Sebuah penemuan dapat membuktikan kecerdasan manusia sekaligus menunjukkan betapa mudah kecerdasan itu dipisahkan dari kebijaksanaan.

Karena itu, universitas ideal bukan hanya tempat produksi ilmu, melainkan juga tempat pembentukan arah bagi ilmu. Ia harus mengajarkan bahwa kecerdasan memiliki konsekuensi, bahwa penemuan membawa tanggung jawab, dan bahwa kemampuan untuk melakukan sesuatu tidak otomatis berarti sesuatu itu layak dilakukan.

Gagasan ini semakin relevan pada zaman ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memahami dampaknya. Kecerdasan buatan, rekayasa genetika, senjata otonom, teknologi pengawasan, dan berbagai bentuk otomatisasi memperlihatkan satu kenyataan: manusia kini semakin mampu melakukan hal-hal yang dahulu hanya ada dalam imajinasi.

Baca Juga  Lebih Sulit Bertahan daripada Memulai: Makna Istiqomah dalam Jalan Perubahan

Namun kemampuan teknis tidak selalu disertai kematangan moral.

Di sinilah pendidikan tinggi menghadapi ujian sesungguhnya. Kampus tidak cukup mencetak manusia yang mampu menjawab pertanyaan “bagaimana”. Ia juga harus membantu manusia menjawab pertanyaan “mengapa” dan “untuk apa”.

Sebab seorang ilmuwan yang hebat tanpa arah moral dapat menjadi kekuatan yang mengerikan. Sebaliknya, ilmu yang diarahkan pada kemaslahatan dapat menjadi salah satu jalan paling kuat untuk memperbaiki kehidupan.

Maka universitas sesungguhnya sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada pendidikan. Ia sedang menentukan seperti apa masa depan manusia dibentuk.

Jika ilmu hanya dikejar demi kekuasaan, ia mudah berubah menjadi alat dominasi. Jika teknologi hanya dikejar demi keuntungan, manusia dapat perlahan direduksi menjadi pasar dan angka. Tetapi jika ilmu ditempatkan dalam horizon kemanusiaan, pengetahuan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang universitas adalah pertanyaan tentang manusia itu sendiri. Kita ingin menjadi bangsa yang pintar, tentu saja. Kita ingin memiliki teknologi yang maju. Kita ingin dunia membutuhkan kemampuan kita.

Tetapi setelah semua itu tercapai, masih tersisa satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh laboratorium mana pun: untuk apa kecerdasan itu kita gunakan?

Mungkin ukuran tertinggi sebuah peradaban bukanlah seberapa banyak ilmu yang berhasil ditemukannya, melainkan seberapa bijak ia menggunakan ilmu tersebut.

Sebab ilmu dapat menerangi jalan. Tetapi manusialah yang menentukan ke mana cahaya itu diarahkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar