Pendidikan Tak Boleh Terbakar oleh Api Politik

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang terlalu penting untuk diseret ke dalam pertengkaran politik. Pendidikan adalah salah satunya. Sebab ketika orang-orang dewasa sibuk membelah diri berdasarkan kubu, yang dipertaruhkan bukan sekadar hubungan antarkelompok, melainkan masa depan anak-anak yang belum selesai belajar memahami dunia.

Gagasan itu terasa kuat dalam pesan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs  kepada para pejabat Kementerian Pendidikan Iran. Keberhasilan dalam mengurus pendidikan, menurut Syahid Ali Khamenei, pertama-tama bertumpu pada hubungan batin yang kokoh dengan Tuhan. Setelah itu ada satu disiplin yang tak kalah penting: menjauhkan pekerjaan pendidikan dari pertikaian partisan dan sektarian yang tidak perlu.

Bukan berarti orang-orang di dunia pendidikan harus kehilangan pandangan politik. Justru sebaliknya. Mereka dituntut memiliki kesadaran dan kemampuan membaca politik. Sebuah masyarakat yang tidak memahami politik akan mudah dibawa ke mana saja oleh mereka yang lebih pandai memainkan arah. Ia tidak tahu siapa yang sedang mendorongnya, untuk tujuan apa, dan ke mana perjalanan itu berakhir.

Tetapi memahami politik berbeda dengan hidup di dalam pertengkaran politik.

Di titik inilah persoalan menjadi menarik. Politik, dalam pengertian yang sehat, adalah kemampuan membaca kepentingan, memahami perubahan, mengenali ancaman, dan menentukan sikap. Sementara politik yang berubah menjadi pertikaian partisan hanya membuat orang sibuk mempertahankan identitas kelompoknya. Energi yang seharusnya dipakai untuk bekerja habis di meja perdebatan.

Pendidikan, tentu saja, terlalu mahal untuk membayar biaya semacam itu.

Al-Quran memberikan ukuran yang sederhana, tetapi tajam, ketika konflik mulai memecah masyarakat beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS. Al-Hujurat: 10)

Baca Juga  Doa Imam Ja'far ash-Shadiq: Ketika Hati Memohon Menjadi Rumah Cinta kepada Allah

Ayat itu datang setelah pembicaraan tentang dua kelompok orang beriman yang bertikai. Ada konflik, ada perbedaan, bahkan ada kemungkinan benturan. Namun identitas sebagai saudara tidak serta-merta gugur hanya karena perbedaan sikap. Justru ketika perselisihan terjadi, tugas yang ditekankan adalah memperbaiki hubungan.

Perbedaan, dengan demikian, bukan masalah utama. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan dipelihara menjadi permusuhan.

Dalam kehidupan modern, terutama di tengah politik yang semakin gaduh, batas itu mudah sekali kabur. Perbedaan pilihan politik perlahan berubah menjadi ukuran moral. Orang tidak lagi sekadar berbeda pendapat; ia dianggap menjadi bagian dari “mereka”. Setelah itu, segala sesuatu tentang dirinya dibaca melalui kacamata kelompok. Teman menjadi lawan. Rekan kerja menjadi representasi kubu. Bahkan persoalan kecil dapat memperoleh bobot politik hanya karena siapa yang mengatakannya.

Maka lahirlah apa yang dalam pesan tersebut secara kritis disebut sebagai semacam “loyalitas partisan” ketika kesetiaan kepada kelompok politik mengambil tempat yang semestinya ditempati oleh ikatan yang lebih besar.

Ironinya, semua itu dapat berlangsung sambil orang berbicara tentang persatuan.

Di lingkungan pendidikan, bahayanya menjadi lebih besar. Sekolah dan lembaga pendidikan bukan sekadar kantor yang menghasilkan laporan tahunan. Di sanalah cara berpikir generasi berikutnya dibentuk. Guru mengajarkan bukan hanya matematika, bahasa, atau sejarah, melainkan juga, sering tanpa disadari mengajarkan cara memandang orang yang berbeda.

Jika para pengelola pendidikan terbiasa melihat perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan, pesan itu pada akhirnya akan menemukan jalannya ke ruang kelas. Anak-anak belajar dari suasana yang diciptakan orang dewasa, bukan hanya dari buku yang mereka baca.

Karena itu, menjaga pendidikan tetap berada di atas pertengkaran partisan bukan berarti mengosongkannya dari kesadaran politik. Justru pendidikan yang sehat membutuhkan warga yang mampu berpikir politik secara dewasa: memahami kekuasaan tanpa diperbudak olehnya, mengetahui perbedaan tanpa membenci pihak yang berbeda, dan memiliki pendirian tanpa kehilangan kemampuan berdialog.

Baca Juga  Haji Bara’ah: Ketika Ibadah Menjadi Pernyataan Sikap terhadap Penindasan

Dalam konteks yang lebih luas, kemampuan semacam itu menjadi bentuk ketahanan sosial. Masyarakat yang memiliki literasi politik tidak mudah digiring oleh propaganda. Ia mampu bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa yang berkepentingan? Ke mana sebuah kebijakan membawa masyarakat? Apa yang seharusnya kita lakukan?

Kesadaran semacam itu berbeda jauh dari kegaduhan politik.

Seseorang dapat mengikuti perkembangan politik setiap hari tanpa menjadi tawanan politik. Ia dapat memiliki pendapat kuat tanpa menjadikan setiap perbedaan sebagai perang. Ia dapat mengetahui siapa yang ia dukung tanpa harus membenci semua orang yang memilih jalan berbeda.

Barangkali di situlah kedewasaan politik bermula.

Dan bagi mereka yang bekerja di bidang pendidikan, kedewasaan itu bukan kemewahan. Ia merupakan bagian dari pekerjaan.

Sebab ada pekerjaan yang hasilnya dapat dihitung hari ini, sementara ada pekerjaan lain yang buahnya baru terlihat puluhan tahun kemudian. Pendidikan termasuk yang kedua. Seorang pejabat mungkin menyelesaikan satu program dalam satu periode. Seorang guru mungkin menuntaskan satu tahun ajaran. Tetapi gagasan yang ditanamkan kepada seorang anak dapat bertahan sepanjang hidupnya.

Karena itu, pesan untuk menjauh dari pertikaian partisan sesungguhnya bukan sekadar nasihat agar kantor tetap tenang. Ia adalah peringatan agar perhatian tidak dicuri oleh sesuatu yang lebih gaduh daripada penting.

Negeri dapat terus berubah. Partai dapat datang dan pergi. Kubu dapat berganti nama. Perdebatan politik akan selalu menemukan isu baru untuk dipertengkarkan. Namun anak-anak tetap membutuhkan guru, pengetahuan, karakter, dan masa depan.

Pada akhirnya, barangkali pertanyaan paling penting bukan siapa yang memenangkan pertengkaran politik hari ini. Pertanyaannya adalah: generasi seperti apa yang sedang kita bentuk ketika pertengkaran itu berlangsung?

Baca Juga  Saat Spiritualitas Bertemu Politik Dunia

Sebab pendidikan yang kehilangan arah karena politik mungkin masih memiliki gedung, kurikulum, pejabat, dan anggaran. Tetapi ia perlahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: alasan mengapa semua itu harus ada.

Bagikan:
Terkait
Komentar