Negeri yang Tak Kekurangan Modal untuk Maju

KHAMENEI.ID– Ada negeri yang miskin karena tak memiliki sumber daya. Ada pula negeri yang sebenarnya kaya, tetapi gagal mengenali kekayaannya sendiri. Di antara keduanya, persoalannya bukan semata-mata jumlah minyak, gas, tambang, atau modal yang tersedia. Persoalan yang lebih dalam adalah kemampuan sebuah bangsa melihat apa yang berada di hadapannya, lalu mengubahnya menjadi kekuatan.

Dalam pidato menjelang Pemilihan Presiden Iran, pada peringatan Idul Ghadir, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengingatkan kembali sesuatu yang sering luput dalam perdebatan tentang masa depan sebuah negara: Iran, menurutnya, tidak kekurangan kapasitas untuk tumbuh. Yang diperlukan adalah pemerintahan yang mampu mengenali dan mengolah kapasitas itu.

Kekayaan pertama, katanya, bukanlah yang tersimpan di bawah tanah, melainkan yang tumbuh di atasnya: manusia.

Iran memiliki populasi muda terdidik dalam jumlah besar. Di tengah dunia yang memasuki perlombaan baru dalam teknologi, industri, dan pengetahuan, tenaga manusia semacam ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah modal strategis. Universitas, laboratorium, perusahaan teknologi, industri, dan lembaga penelitian pada akhirnya berdiri di atas kemampuan manusia untuk berpikir, mencipta, dan memecahkan persoalan.

Di situlah kecerdasan dan bakat bawaan masyarakat Iran ditempatkan sebagai salah satu kapasitas nasional. Sebuah bangsa, dalam pandangan ini, tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh apa yang dapat dilakukannya dengan apa yang dimiliki.

Namun manusia bukan satu-satunya kekayaan.

Di bawah tanah Iran terbentang cadangan mineral yang besar. Minyak dan gas hanyalah bagian yang paling dikenal. Kekayaan mineral lainnya membentuk lapisan kekuatan ekonomi yang lebih luas. Bila jumlah penduduk Iran hanya sebagian kecil dari penduduk dunia, sementara porsi sejumlah mineral penting yang dimilikinya beberapa kali lebih besar daripada proporsi penduduknya, maka persoalannya menjadi jelas: sumber daya itu adalah peluang, tetapi peluang yang tidak otomatis berubah menjadi kemakmuran.

Baca Juga  Takdir Sebuah Bangsa Ditulis oleh Mereka yang Bertahan 

Tambang tidak berbicara sendiri. Ia membutuhkan teknologi, industri pengolahan, tenaga terampil, infrastruktur, dan kebijakan yang mampu mengubah bahan mentah menjadi nilai tambah.

Gagasan itu kemudian membawa kita pada kekayaan lain yang sering dianggap biasa karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari: letak geografis.

Iran berada di persimpangan yang memungkinkan negara itu menjadi penghubung antara utara dan selatan, timur dan barat. Jalur darat dan kereta api yang membentang di berbagai wilayah, garis pantai yang panjang di utara dan selatan, akses menuju laut bebas, serta jumlah negara tetangga yang besar membuat posisi geografis Iran bukan sekadar fakta pada peta. Ia adalah modal ekonomi dan geopolitik.

Dalam konteks itu, pembangunan jalur perdagangan dan konektivitas menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Jalan, rel kereta, pelabuhan, bendungan, dan berbagai fasilitas industri adalah tulang punggung yang memungkinkan kapasitas sebuah negara bergerak.

Syahid Ali Khamenei menyebut pula pasar domestik yang besar, pasar regional, keragaman iklim, kawasan perdagangan bebas dan kawasan ekonomi khusus, warisan budaya, peradaban, serta peluang pariwisata. Semuanya membentuk satu gambaran yang sama: Iran memiliki banyak pintu menuju kemajuan.

Persoalannya adalah apakah pintu-pintu itu benar-benar dibuka.

Di titik ini, perdebatan mengenai pembangunan berubah menjadi perdebatan tentang cara pandang. Sebab sebuah bangsa dapat hidup di tengah kelimpahan sambil terus merasa miskin apabila pandangannya selalu diarahkan keluar.

Ketergantungan pada kekuatan asing, dalam kritik tersebut, bukan hanya persoalan politik luar negeri. Ia juga dapat menjadi persoalan psikologis pembangunan. Ketika elite politik meyakini bahwa jalan menuju kemajuan selalu melewati Washington atau ibu kota kekuatan besar lainnya, perhatian perlahan berpindah dari halaman rumah sendiri.

Baca Juga  Jihad di Jalan Allah: Pintu Surga yang Dibuka untuk Para Pejuang

Yang tak terlihat kemudian dianggap tidak ada.

Padahal di dalam negeri terdapat insinyur yang mampu membangun, pekerja yang menguasai teknologi, anak muda yang mengembangkan pengetahuan, industri yang memproduksi peralatan, serta jaringan infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun. Ada pula pasar domestik yang besar dan kedekatan dengan berbagai pasar regional. Semua itu merupakan kapasitas yang tidak muncul dalam semalam.

Karena itu, seruan agar sebuah bangsa tidak menggantungkan pandangan pada kekuatan asing sesungguhnya dapat dibaca lebih luas sebagai seruan untuk mengenali kapasitas sendiri. Kemandirian bukan berarti menutup pintu terhadap dunia. Ia berarti memasuki dunia dengan kesadaran bahwa kita memiliki sesuatu untuk ditawarkan.

Gagasan ini menyentuh satu kapasitas lain yang lebih sulit diukur: iman.

Dalam pidatonya, Syahid Ali Khamenei menyebut keyakinan keagamaan mayoritas masyarakat sebagai salah satu kekuatan Iran. Terlepas dari bagaimana iman itu tampil dalam perilaku sehari-hari, ia melihat keberadaan keyakinan tersebut sebagai modal sosial yang dapat mendorong masyarakat bergerak menuju tujuan bersama.

Di sinilah pembangunan tidak lagi hanya berbicara tentang jalan, tambang, kereta api, atau industri. Sebuah negara juga membutuhkan kepercayaan, solidaritas, rasa tanggung jawab, dan kesediaan masyarakat bekerja untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Sebab pada akhirnya, infrastruktur paling penting dari sebuah bangsa mungkin bukan beton yang menghubungkan satu kota dengan kota lain, melainkan manusia yang percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.

Tentu saja, mengenali potensi tidak sama dengan berhasil menggunakannya. Negara yang memiliki banyak sumber daya tetap dapat gagal bila pemerintahannya tidak mampu menyusun prioritas, mengelola tenaga manusia, mengurangi pemborosan, dan menciptakan kebijakan yang konsisten. Kekayaan dapat menjadi kutukan ketika hanya berhenti sebagai daftar panjang di atas kertas.

Baca Juga  Islam dan Pesan Persaudaraan: Melampaui Perbedaan Menuju Kemanusiaan

Karena itu, ukuran pemimpin yang baik bukan sekadar seberapa indah ia berbicara tentang masa depan. Ukurannya adalah apakah ia mampu menemukan kemungkinan yang tersembunyi di tengah kenyataan yang ada.

Di sinilah makna “kapasitas nasional” menjadi penting. Negara yang maju bukan selalu negara yang memiliki sumber daya paling banyak, melainkan negara yang paling mampu mengubah sumber daya menjadi kemampuan.

Pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa memang tidak seharusnya ditulis oleh orang lain. Tetapi masa depan juga tidak akan lahir hanya dari kebanggaan atas apa yang telah dimiliki.

Tambang harus diolah. Anak muda harus diberi ruang. Jalan harus menghubungkan pasar. Pengetahuan harus berubah menjadi teknologi. Warisan budaya harus menjadi kekuatan ekonomi tanpa kehilangan maknanya. Iman harus menemukan bentuknya dalam tanggung jawab sosial.

Dan di antara semua itu, ada satu pertanyaan yang lebih sunyi: apakah sebuah bangsa mampu melihat kekayaannya sendiri sebelum orang lain datang untuk mengajarinya apa yang harus dilihat?

Mungkin kemajuan bermula bukan ketika sebuah negara menemukan sumber daya baru, melainkan ketika ia akhirnya belajar menghargai sumber daya yang sejak lama berada di depan matanya.

Bagikan:
Terkait
Komentar