KHAMENEI.ID – Ada sebuah pertanyaan mendasar ketika manusia berbicara tentang agama: apakah agama hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, ataukah ia juga menawarkan cara untuk memahami seluruh kehidupan?
Dalam pandangan Islam, jawabannya jauh lebih luas daripada sekadar ritual. Tauhid bukan hanya keyakinan yang diucapkan dalam ibadah. Ia adalah cara pandang terhadap alam semesta, sejarah, kehidupan, nilai, dan posisi manusia di dalam semuanya.
Imam Ali Khamenei qs* menggambarkan Revolusi Islam Iran sebagai sebuah revolusi yang berakar pada agama Allah swt dan berada dalam kelanjutan jalan panjang para nabi serta para pembaru ilahi sepanjang sejarah. Fondasi pemikiran di baliknya adalah pandangan dunia tauhid dalam Islam.
Pandangan dunia inilah yang menjadi titik awal untuk memahami berbagai persoalan: bagaimana membaca sejarah, memahami peristiwa masa lalu dan masa kini, memandang masa depan, serta membangun hubungan dengan alam dan masyarakat.
Alam Semesta Bukan Ruang Tanpa Makna
Pandangan dunia tauhid berangkat dari satu keyakinan mendasar: seluruh wujud adalah ciptaan Allah swt.
Alam bukan sebuah mesin yang bergerak tanpa tujuan. Sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa acak. Kehidupan memiliki keteraturan, makna, dan arah.
Dalam perspektif Islam, seluruh alam merupakan manifestasi ilmu dan kekuasaan Tuhan serta bergerak dalam hukum-hukum-Nya. Di tengah alam yang luas itu, manusia menempati posisi istimewa sebagai makhluk yang diberi akal, kehendak, dan tanggung jawab.
Karena itu, manusia bukan makhluk pasif. Ia memiliki kemampuan untuk memilih jalan hidup dan menentukan bagaimana potensi yang diberikan kepadanya digunakan.
Dua Jalan: Membangun atau Merusak
Di dalam diri manusia tersimpan potensi besar. Dengan mengembangkan ilmu, kemampuan, dan kreativitasnya, ia dapat membangun kehidupan yang lebih baik, mengembangkan peradaban, serta memperbaiki dunia.
Namun kemampuan yang sama juga dapat membawa akibat sebaliknya.
Ilmu yang kehilangan arah moral dapat berubah menjadi alat penghancur. Kekuasaan dapat berubah menjadi sarana penindasan. Kemajuan material dapat berjalan bersamaan dengan kemerosotan nilai.
Karena itulah, dalam pandangan Islam, ilmu membutuhkan iman.
Ilmu memberi manusia kemampuan, sementara iman memberikan arah bagi penggunaan kemampuan tersebut. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Semakin besar kekuatan yang dimiliki manusia, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.
Dunia Bukan Akhir dari Segalanya
Pandangan Islam tentang kehidupan tidak berhenti pada dunia material.
Dunia adalah tempat menanam, sedangkan kehidupan setelah kematian adalah tempat menuai hasil dari pilihan dan perbuatan.
Karena itu, kematian bukan akhir dari eksistensi, melainkan pintu menuju tahap kehidupan yang lain.
Cara pandang ini mengubah ukuran keberhasilan. Kekayaan bukan satu-satunya kemenangan. Kekuasaan bukan tujuan tertinggi. Keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga oleh nilai dan akibat dari apa yang dilakukan.
Kesadaran tentang akhirat memberi dimensi yang lebih panjang pada kehidupan. Tindakan manusia tidak berhenti pada kepentingan sesaat, tetapi memiliki konsekuensi yang melampaui usia duniawinya.
Tidak Ada Bangsa yang Lebih Manusia daripada Bangsa Lain
Salah satu konsekuensi penting dari pandangan dunia tauhid adalah prinsip kesetaraan manusia.
Jika seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan sama-sama hamba-Nya, maka ras, warna kulit, bangsa, dan asal geografis tidak dapat menjadi ukuran kemuliaan seseorang.
Perbedaan bangsa dan budaya adalah kenyataan kehidupan, tetapi tidak boleh menjadi dasar untuk menciptakan hierarki kemanusiaan.
Tidak ada penderitaan yang menjadi kurang penting hanya karena terjadi jauh dari tempat kita tinggal. Tidak ada kezaliman yang menjadi dapat dibenarkan hanya karena korbannya berasal dari kelompok yang berbeda.
Dalam pandangan Islam, kemanusiaan memiliki keterhubungan yang melampaui batas geografis dan rasial.
Karena itu, keadilan tidak boleh memiliki standar ganda. Hak manusia tidak boleh hanya dibela ketika korbannya berasal dari kelompok sendiri. Jika prinsip kemanusiaan diterapkan secara selektif, maka yang tersisa hanyalah kepentingan, bukan keadilan.
Tauhid sebagai Cara Memandang Kehidupan
Di sinilah kedalaman pandangan dunia Islam.
Tauhid bukan hanya berbicara tentang siapa yang disembah. Tauhid membentuk cara seseorang memandang alam, sejarah, kehidupan, ilmu, kematian, dan hubungan antarmanusia.
Manusia diperintahkan untuk membangun dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan. Ia diberi kemampuan besar, tetapi juga dibebani tanggung jawab atas cara menggunakan kemampuan itu.
Ia hidup dalam keberagaman, tetapi tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa seluruh manusia memiliki martabat yang sama sebagai sesama ciptaan Allah swt.
Mungkin persoalan terbesar dunia modern bukan semata-mata karena manusia kekurangan ilmu atau teknologi.
Sering kali, manusia justru memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi kehilangan arah dalam menggunakannya.
Dan di situlah pandangan dunia tauhid menawarkan pertanyaan yang sederhana, tetapi menentukan:
Untuk apa seluruh kemampuan dan kekuatan itu digunakan?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah ilmu membangun peradaban atau justru menciptakan kehancuran.
* Pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 22 September 1987 (31 Shahrivar 1366)







