KHAMENEI.ID – Ada orang yang tampak baik selama hidup berjalan sesuai keinginannya. Ia mudah tersenyum ketika disukai, mudah memuji ketika membutuhkan sesuatu, dan tampak tenang ketika tidak sedang berhadapan dengan kepentingan. Namun manusia sering kali baru memperlihatkan siapa dirinya ketika tiga hal datang bersamaan dengan godaan: rasa suka, kemarahan, dan kekuasaan.
Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa ada tiga sifat yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang. Sabda itu bukan berarti iman hanya terdiri dari tiga perkara. Justru ketiganya seperti jendela: dari sana kita dapat melihat apakah berbagai kebajikan yang lain benar-benar hidup dalam diri seseorang.
ثلاثٌ من کنّ فیه استکمل خصال الإیمان:
الذی إذا رضی، لم یُدْخِله رضاه فی باطلٍ وإذا غَضِبَ لم یخرجه الغضب من الحقّ وإذا قدر لم یتعاط ما لیس له
“Tiga perkara, siapa yang memilikinya, sungguh telah menyempurnakan sifat-sifat keimanannya: orang yang ketika merasa senang, kesenangannya tidak membawanya kepada kebatilan; ketika marah, kemarahannya tidak mengeluarkannya dari kebenaran; dan ketika berkuasa, ia tidak melakukan sesuatu yang bukan haknya.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi jika direnungkan lebih jauh, ia seperti menyentuh tiga wilayah yang paling rawan dalam kehidupan manusia: hati ketika mencintai, emosi ketika membenci, dan perilaku ketika memiliki kuasa.
Sebab, berlaku benar ketika kita tidak memiliki kepentingan apa-apa mungkin bukan perkara yang terlalu sulit. Yang lebih sulit adalah tetap adil kepada seseorang yang kita cintai. Kita cenderung membela orang yang dekat dengan kita, bahkan ketika ia keliru. Rasa sayang perlahan dapat mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang tampak bisa dimaklumi. Kita mencari alasan untuk membenarkannya, sementara kesalahan orang lain yang sama justru kita kecam.
Di titik ini, cinta diuji bukan oleh seberapa kuat ia membuat kita berpihak, melainkan oleh seberapa kuat ia membuat kita tetap adil.
Seseorang yang benar-benar memiliki iman tidak membiarkan rasa senangnya menghapus batas antara yang benar dan yang salah. Ia boleh mencintai, mengagumi, menghormati, bahkan berutang budi kepada seseorang. Tetapi semua itu tidak boleh membuatnya menyebut kebatilan sebagai kebenaran.
Begitu pula kemarahan.
Marah adalah salah satu emosi paling manusiawi. Tetapi kemarahan mempunyai kemampuan mengubah ukuran. Dalam keadaan tenang, kita mungkin mengetahui dengan jelas mana yang pantas dan mana yang melampaui batas. Namun ketika amarah mengambil alih, sesuatu yang semula kecil bisa terasa seperti penghinaan besar. Kata-kata menjadi senjata. Kesalahan kecil dibalas dengan kesalahan yang lebih besar. Kebenaran dikorbankan hanya karena kita ingin menang.
Karena itu, ukuran iman bukanlah apakah seseorang pernah marah. Yang lebih penting adalah apakah kemarahannya masih mengenal batas.
Orang yang mampu menjaga kebenaran ketika marah sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar menahan emosi. Ia sedang mempertahankan akal sehatnya ketika perasaan mendesaknya untuk bertindak sebaliknya. Ia tidak membiarkan kebencian menjadi hakim.
Namun jika ditarik lebih jauh, ada satu keadaan yang mungkin lebih berbahaya daripada cinta dan kemarahan: kekuasaan.
Ketika seseorang tidak mempunyai kekuasaan, banyak hal memang berada di luar jangkauannya. Ia tidak dapat mengambil apa yang bukan miliknya karena mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengambilnya. Tetapi ketika kekuasaan datang, batas-batas itu diuji. Jabatan, uang, pengaruh, kedudukan, bahkan sekadar kemampuan untuk membuat orang lain menurut, dapat melahirkan perasaan bahwa segala sesuatu boleh dilakukan.
Di sinilah karakter seseorang mendapatkan ujian yang sesungguhnya.
Nabi saw tidak hanya berbicara tentang penguasa dalam pengertian politik. Kekuasaan hadir dalam bentuk yang jauh lebih dekat. Seorang atasan mempunyai kuasa atas bawahannya. Orang tua mempunyai kuasa atas anak. Pemilik usaha mempunyai kuasa atas pekerjanya. Seseorang yang memiliki pengaruh sosial mempunyai kuasa atas mereka yang mendengarkannya. Bahkan dalam hubungan pribadi, orang yang merasa lebih dibutuhkan dapat menggunakan posisi itu untuk memperoleh sesuatu yang sebenarnya bukan haknya.
Iman, dalam pengertian ini, bukan sekadar keyakinan yang tersimpan di dalam hati. Ia mempunyai jejak yang dapat dilihat ketika seseorang memperoleh kesempatan untuk melampaui batas.
Orang yang beriman tidak mengambil sesuatu hanya karena ia mampu mengambilnya.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Di tengah dunia yang semakin mudah membentuk kubu, orang sering dinilai berdasarkan siapa yang ia bela dan siapa yang ia lawan. Media sosial mempercepat keadaan itu. Kita dapat dengan mudah membela orang yang kita sukai tanpa memeriksa kebenarannya, menyerang orang yang kita benci tanpa memberi ruang pada keadilan, atau menggunakan pengaruh untuk membungkam mereka yang tidak sepaham.
Padahal tiga keadaan itu; senang, marah, dan berkuasa sebenarnya hanya memperlihatkan satu persoalan yang sama: apakah seseorang masih memiliki kendali atas dirinya.
Sebab iman yang matang bukan hanya tampak ketika seseorang sedang beribadah atau berbicara tentang kebaikan. Ia justru terlihat ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kebenaran. Ia tampak ketika orang yang kita cintai ternyata salah. Ia muncul ketika orang yang kita benci ternyata benar. Dan ia diuji ketika kita memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak berhak kita lakukan.
Mungkin karena itulah tiga sifat tersebut disebut sebagai tanda kesempurnaan iman. Bukan karena seluruh iman dapat diringkas menjadi tiga perilaku, melainkan karena ketiganya membutuhkan banyak kebajikan sekaligus: keadilan, pengendalian diri, kejujuran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa manusia selalu memiliki batas.
Pada akhirnya, ukuran iman bukan hanya apa yang kita yakini ketika keadaan tenang. Ia juga tentang apa yang kita lakukan ketika hati sedang penuh rasa suka, kepala sedang panas oleh kemarahan, atau tangan sedang memegang kekuasaan.
Di sanalah iman berhenti menjadi kata dan mulai menjadi watak.
Dan mungkin, justru pada saat-saat itulah seseorang paling jujur memperlihatkan siapa dirinya.







