Gaya Hidup Sederhana Nabi Muhammad dan Teladan Kepemimpinan dalam Islam

Ayatullah Khamenei pada awal pelajaran fikih tingkat lanjut hari Selasa, 24 Desember 2019, menjelaskan sebuah hadis tentang gaya hidup Nabi Muhammad SAW, khususnya tentang pentingnya hidup merakyat dan bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

 

أَخبَرَنَا ابنُ مَخلَدٍ قَالَ: أَخبَرَنَا الخَلَدِیُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الحَسَنُ بنُ عَلِیٍّ القَطَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بنُ مُوسَی الخُتَّلِیُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسمَاعِیلَ إِبرَاهِیمُ بنُ سُلَیمَانَ المُؤَدِّبُ عَن عَبدِ اللَّهِ بنِ مُسلِمٍ عَن سَعِیدِ بنِ جُبَیرٍ عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ قَالَ: کَانَ رَسُولُ اللَّهِ (صَلَّی اللَّهُ عَلَیهِ وَ آلِه) یَجلِسُ عَلَی الأرضِ وَ یَأْکُلُ عَلَی الأرضِ وَ یَعتَقِلُ الشَّاةَ وَ یُجِیبُ دَعوَةَ المَملُوکِ عَلَی خُبزِ الشَّعِیرِ.(۱) 

Ibnu Makhled meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Al-Khaladi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Ali al-Qattan menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Abbad bin Musa al-Khuttali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ismail Ibrahim bin Sulaiman al-Mu’addib menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Muslim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:

“Rasulullah SAW duduk di atas tanah, makan di atas tanah, memegang (menuntun) kambing, dan menerima undangan seorang budak untuk makan roti gandum kasar (roti jelai).”

Penjelasan:

Dari Ibnu Abbas: Rasulullah SAW duduk di atas tanah  Beliau tidak mencari alas atau karpet khusus. Di masjid, atau ketika bertemu seseorang di jalan yang ingin berbicara sebentar dengan beliau, beliau langsung duduk di tanah.

makan dengan posisi duduk beralas tanah
Kadang beliau juga makan dalam keadaan duduk di tanah. Tanpa perlu hamparan, tanpa tata cara atau perlengkapan khusus seperti piring atau mangkuk mewah—beliau duduk di tanah dan memakan makanan sederhana.

 menuntun kambing
Jika beliau memiliki seekor kambing, beliau sendiri yang memegang talinya dan menuntunnya. Kata “ya‘taqil” berasal dari “mengikat/menahan”, maksudnya beliau sendiri yang mengurus dan menuntun kambing itu. Padahal, menurut kebiasaan orang, ini dianggap tidak sesuai dengan “kedudukan”. Kita saja, kalau punya kambing, mungkin enggan menuntunnya di jalan. Tetapi beliau melakukannya.

Baca Juga  Misi Kenabian dan Revolusi Akhlak: Mengapa Islam Menjadikan Tazkiyah sebagai Hadiah Terbesar bagi Umat Manusia?

 menerima undangan seorang budak untuk makan roti jelai
Terkadang seorang budak duduk di suatu tempat sambil makan roti jelai (makanan yang sangat sederhana). Nabi lewat, lalu budak itu mengundang beliau: “Silakan makan.” Maka Nabi duduk di sampingnya. Beliau tidak berkata, “Ini tidak pantas bagi saya” atau “tidak sesuai dengan kedudukan saya.”

Makna menjadi “merakyat”:

Inilah yang dimaksud ketika kita sering mengatakan bahwa seseorang harus “merakyat”. Merakyat bukan sekadar klaim.

Artinya adalah:

  • Hidup bersama masyarakat
  • Menjalani kehidupan seperti mereka
  • Bergaul akrab dengan berbagai lapisan masyarakat

Sebagian dari kita—terutama yang memiliki kedudukan atau penampilan keagamaan—jika bertemu orang terpandang, kita bersikap hangat, menyapa, bahkan melayani kebutuhannya. Tetapi jika bertemu orang yang dianggap rendah atau dari lapisan bawah, kita sering tidak memberi perhatian yang sama.

Ini bertentangan dengan sunnah (gaya hidup) Rasulullah
Sunnah Nabi adalah bergaul dengan orang miskin, lemah, dan lapisan bawah masyarakat. Beliau tidak memberi nilai penting pada penampilan lahiriah yang menunjukkan kebesaran atau kemegahan.

Gaya hidup Nabi memang seperti itu, dan ini benar-benar menjadi pelajaran bagi kita.

Tentu, kita tidak diharapkan—dan memang tidak mungkin—untuk sepenuhnya seperti beliau atau seperti Amirul Mukminin (Imam Ali). Kedudukan mereka berbeda.

Namun, kita harus menjadikan itu sebagai tolak ukur dan arah
Seperti seseorang yang mendaki gunung: puncak adalah tujuannya. Mungkin ia tidak sampai ke puncak, tetapi ia bergerak menuju ke arah puncak.

Begitulah seharusnya kita—bergerak ke arah teladan itu.

 

  1. Amali karya Thusi, majelis ke-14, hlm. 393;
    “Ibnu Abbas berkata: Rasulullah (semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya dan keluarganya) duduk di atas tanah, makan di atas tanah, memegang (menuntun) kambing, dan menerima undangan seorang budak untuk (makan) roti jelai.”
Baca Juga  Tidak Zalim Bahkan pada Musuh: Standar Tinggi yang Dilupakan Banyak Orang

Catatan pemahaman singkat:

  • “memegang kambing” maksudnya menuntun atau mengurusnya sendiri
  • “roti jelai” adalah makanan sederhana dari gandum kasar (bukan roti mewah)

 

Bagikan:
Terkait
Komentar