KHAMENEI.ID – Ada jenis kelelahan yang tidak lahir dari terlalu banyak bekerja. Ia tumbuh dari terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, jabatan yang lebih tinggi, perjalanan yang lebih jauh, atau sekadar kehidupan yang tampak lebih mudah di layar ponsel. Semakin lama mata tertambat di sana, semakin sulit seseorang merasa cukup dengan apa yang ada di tangannya sendiri.
Al-Qur’an telah mengingatkan manusia tentang kecenderungan itu jauh sebelum dunia mengenal media sosial dan budaya pamer. Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha: 131)
Pesannya sederhana, tetapi menyentuh salah satu sumber kegelisahan manusia: mata yang terus diarahkan kepada apa yang berada di tangan orang lain.
Ketika ayat itu turun, Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa orang yang tidak menemukan ketenteraman dalam penghiburan yang diberikan Allah akan menghabiskan dirinya dalam penyesalan terhadap dunia. Dalam sebuah sabda beliau disebutkan:
مَنْ لَمْ يَتَعَزَّ بِعَزَاءِ اللَّهِ انْقَطَعَتْ نَفْسُهُ حَسَرَاتٍ عَلَى الدُّنْيَا، وَمَنْ مَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ مِنْ دُنْيَاهُمْ طَالَ حُزْنُهُ، وَسَخِطَ مَا قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ رِزْقِهِ، وَتَنَغَّصَتْ عَلَيْهِ عِيشَتُهُ
“siapa yang tidak menghibur dirinya dengan penghiburan dari Allah, jiwanya akan terputus dalam penyesalan terhadap dunia. Dan siapa yang terus memanjangkan pandangan kepada apa yang dimiliki orang lain, kesedihannya akan berkepanjangan, ia tidak menerima rezeki yang telah Allah tetapkan baginya, dan kehidupannya menjadi pahit”
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar iri. Yang lebih dalam adalah hilangnya kemampuan untuk merasakan nilai dari apa yang sudah dimiliki.
Seseorang mungkin memiliki rumah yang cukup, tetapi setelah melihat rumah orang lain, rumahnya mendadak terasa sempit. Ia mungkin memiliki pekerjaan yang layak, tetapi setelah mengetahui penghasilan kawannya, pekerjaannya terasa tidak berarti. Ia mungkin telah menjalani hidup dengan tenang, tetapi setelah melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih gemerlap, ketenangan itu berubah menjadi pertanyaan: mengapa bukan saya?
Padahal apa yang terlihat hanyalah bagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat seluruh harga yang dibayar untuk mencapainya. Kita melihat kemewahan, tetapi tidak melihat kecemasan yang mungkin mengiringinya. Kita melihat pencapaian, tetapi tidak mengetahui perjuangan yang tersembunyi di belakangnya. Namun manusia sering membandingkan keseluruhan hidupnya dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas, nasihat ini juga berbicara tentang cara memandang rezeki. Rezeki bukan hanya angka, benda, jabatan, atau fasilitas. Ada ketenangan yang tidak bisa dibeli, kesehatan hubungan yang tidak tercantum dalam rekening, waktu yang masih tersedia untuk orang-orang tercinta, dan kesempatan untuk hidup tanpa harus terus-menerus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih sulit: apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi sanggup menerima jarak antara dirinya dan kehidupan orang lain?
Mula-mula ia hanya merasa kurang. Setelah itu ia mulai gelisah. Kemudian muncul ketidakpuasan terhadap apa yang telah diberikan kepadanya. Jika dibiarkan, rasa kurang itu dapat berubah menjadi dorongan untuk mengejar apa pun yang dimiliki orang lain, tanpa lagi peduli pada batas halal dan haram.
Di sinilah mata yang terlalu lama menatap milik orang lain dapat berubah menjadi sumber persoalan yang jauh lebih besar. Bukan karena keinginan untuk maju itu salah. Manusia memang boleh bekerja, berusaha, memperbaiki keadaan, dan mengejar kehidupan yang lebih baik. Yang menjadi masalah adalah ketika keberhasilan orang lain dijadikan ukuran harga diri sendiri, lalu segala cara terasa pantas ditempuh agar jarak itu segera tertutup.
Karena itu, Nabi tidak sekadar mengajarkan agar manusia berhenti melihat. Beliau mengarahkan pandangan kepada sesuatu yang lebih dalam: apa yang berada di sisi Allah.
Seorang beriman diminta menemukan penghiburan dalam rahmat Allah dan dalam sesuatu yang lebih kekal daripada perhiasan dunia. Sebab jika seluruh kebahagiaan diletakkan pada apa yang terlihat oleh mata, manusia akan selalu memiliki alasan untuk merasa kurang. Akan selalu ada orang yang lebih kaya, lebih terkenal, lebih berkuasa, lebih cantik, lebih berhasil, atau lebih dahulu sampai.
Dunia memang tidak pernah kehabisan pembanding.
Maka mungkin persoalannya bukan bagaimana memiliki sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana menjaga agar hati tidak kehilangan kemampuan untuk menerima apa yang telah dimilikinya. Sebab ada orang yang hartanya sedikit tetapi hidupnya lapang, sementara ada yang memiliki banyak tetapi setiap hari merasa dikejar kekurangan.
Pada akhirnya, kehidupan orang lain adalah kehidupan orang lain. Nikmat yang berada di tangan mereka bukanlah ukuran yang menentukan nilai hidup kita. Terlalu lama menatap ke sana hanya akan membuat langkah sendiri terasa semakin berat.
Ada saatnya mata perlu berhenti menghitung apa yang dimiliki orang lain, lalu berbalik melihat apa yang selama ini luput disyukuri. Bukan karena semua yang kita miliki sudah sempurna, melainkan karena hidup akan selalu terasa kurang jika ukurannya adalah milik orang lain.
Dan mungkin di sanalah ketenangan bermula: ketika seseorang tidak lagi sibuk bertanya mengapa orang lain memiliki lebih banyak, tetapi mulai menyadari bahwa ada begitu banyak karunia yang selama ini telah hadir dalam hidupnya tanpa pernah benar-benar ia lihat.







