Imam Khamenei: Ulama Tidak Cukup Mengajarkan Hukum Agama, Mereka Harus Membimbing Masyarakat

KHAMENEI.ID – Apa arti kehadiran ulama di tengah masyarakat jika ilmu yang mereka miliki tidak membantu manusia memahami persoalan zamannya? Pertanyaan ini menyentuh salah satu tanggung jawab mendasar para pemuka agama: bukan hanya menyampaikan hukum halal dan haram, melainkan membimbing masyarakat memahami kehidupan berdasarkan nilai-nilai agama.

Imam Ali Khamenei qs menguraikan tanggung jawab tersebut melalui sebuah perumpamaan. Dalam tubuh masyarakat, setiap kelompok memiliki kedudukan seperti anggota tubuh yang menjalankan fungsi tertentu. Ada yang bekerja, ada yang menghasilkan pengetahuan, ada yang mengelola kehidupan bersama. Dalam struktur itu, ulama memiliki dua kedudukan sekaligus: sebagai otak dan sebagai lidah.

Sebagai otak, ulama dituntut berpikir, merenungkan persoalan, dan memahami arah kehidupan masyarakat. Fungsi ini tidak hanya berlaku bagi ulama, tetapi juga bagi para pemikir, cendekiawan, dan orang-orang bijaksana. Mereka diharapkan mampu membaca keadaan, mengenali persoalan, serta memberikan petunjuk yang dapat membantu masyarakat menentukan arah.

Namun, menurut Imam Khamenei, tanggung jawab ulama tidak berhenti pada kegiatan berpikir. Mereka juga harus menjadi lidah yang menyampaikan hasil pemikiran itu kepada masyarakat. Pengetahuan yang hanya tersimpan dalam diri seseorang tidak akan cukup untuk membimbing orang lain. Ilmu harus diterangkan, dijelaskan, dan dihubungkan dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat.

Di sinilah beliau menempatkan pentingnya tabyin, yakni penjelasan yang membuat sesuatu menjadi terang dan dapat dipahami.

Al-Qur’an berulang kali menekankan fungsi penjelasan tersebut melalui ungkapan seperti litubayyina lin-nās, yang berarti agar engkau menjelaskan kepada manusia, serta hādzā bayānun lin-nās, yang berarti ini adalah penjelasan bagi manusia. Bagi Imam Khamenei, penekanan tersebut menunjukkan bahwa menerangkan kebenaran merupakan bagian penting dari tanggung jawab keagamaan.

Baca Juga  Ulama dan Negara Islam: Antara Dukungan, Nasihat, dan Tanggung Jawab

Persoalannya, apa yang harus diterangkan oleh ulama?

Imam Khamenei mengingatkan agar tugas tersebut tidak dipersempit hanya menjadi penjelasan hukum-hukum individual, seperti khumus dan zakat. Hukum-hukum itu tentu penting. Namun, kehidupan beragama jauh lebih luas daripada urusan ritual dan kewajiban personal.

Agama juga berbicara tentang keadilan, tanggung jawab sosial, kekuasaan, pemerintahan, hubungan antarmanusia, serta bagaimana masyarakat seharusnya diatur. Jika dimensi-dimensi tersebut dikeluarkan dari pembahasan agama, maka masyarakat hanya akan mengenal sebagian dari pesan yang hendak disampaikan agama.

Dalam pandangan Imam Khamenei, pemisahan semacam itu justru berisiko mengerdilkan peran ulama. Mereka mungkin tetap mengajarkan ibadah, tetapi tidak lagi membantu masyarakat memahami persoalan yang memengaruhi kehidupan bersama.

Tentu, tugas menjelaskan tidak berarti ulama harus selalu berbicara tentang semua persoalan atau menganggap pendapat mereka tidak mungkin keliru. Justru tanggung jawab sebagai pembimbing menuntut keluasan pengetahuan, kejernihan penalaran, dan kesediaan memahami kenyataan sebelum memberikan penjelasan.

Masyarakat membutuhkan bimbingan yang tidak hanya mengulang jawaban, tetapi juga membantu mereka memahami alasan, konteks, dan konsekuensi dari suatu persoalan. Dalam dunia yang berubah cepat, kemampuan menjelaskan menjadi semakin penting karena masyarakat berhadapan dengan berbagai persoalan baru yang tidak selalu dapat dipahami melalui jawaban yang terlepas dari konteks.

Di sinilah dua fungsi yang disebut Imam Khamenei saling melengkapi. Ulama harus berpikir agar tidak menyampaikan sesuatu secara dangkal. Mereka juga harus berbicara agar pengetahuan tidak berhenti menjadi milik kalangan terbatas.

Beliau bahkan menggambarkan tugas itu sebagai bagian dari hakikat keberadaan ulama. Ilmu agama tidak semestinya menjadi menara yang berdiri jauh dari kehidupan masyarakat. Ia harus menjadi sumber pemahaman yang membantu manusia menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana.

Baca Juga  Ikhlas dalam Perjuangan: Sebab Pertolongan Tuhan Hanya Datang kepada Mereka yang Tulus Berjuang

Pada akhirnya, ukuran tanggung jawab seorang ulama bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, melainkan juga sejauh mana pengetahuan tersebut mampu menerangi kehidupan orang lain.

Ulama bukan hanya penjaga pengetahuan agama. Mereka juga bertanggung jawab menjelaskan maknanya agar masyarakat dapat memahami persoalan hidup dengan lebih terang.

Sumber: Pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan sejumlah santri, cendekiawan agama, dan ulama Provinsi Mazandaran, 14 Oktober 1995 (22 Mehr 1374).

Bagikan:
Terkait
Komentar