Rahasia di Balik Ketangguhan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: Sosok Ibu yang Menanamkan Ruh Perjuangan Sejak Kecil

Kenangan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs Tentang Ibunda Tercinta

Ibu saya adalah seorang perempuan yang sangat penuh kasih sayang dan sangat bijaksana, dan beliau mencintai anak-anaknya serta memahami mereka, sebagaimana semua ibu tentu saja… beliau sangat menarik, sangat pandai berbicara dan fasih… beliau tidak pernah berbicara kepada siapa pun tentang kemiskinannya. Beliau selalu menyembunyikan penderitaannya dengan berbagai cara.

Ayah dan ibu saya sangat luar biasa. Dan ibu saya adalah seorang perempuan yang sangat bijaksana, terdidik, membaca buku-buku, memiliki selera sastra dan seni, mengetahui [puisi] Hafez – tentu saja ketika saya mengatakan mengetahui Hafez bukan dalam arti ilmiah dan sebagainya, tetapi dalam arti keakraban dengan Diwan Hafez – dan beliau sangat memahami Al-Qur’an, serta memiliki suara yang indah juga.

1- Keakraban dengan “Al-Qur’an”

Ketika kami masih anak-anak, kami semua duduk dan ibu saya membaca Al-Qur’an, dan beliau membacanya dengan cara yang menarik dan indah. Kami, para anak-anak, berkumpul di sekelilingnya dan beliau membacakan kepada kami ayat-ayat tentang kehidupan para nabi. Saya sendiri mendengar untuk pertama kalinya kisah Nabi Musa (a) dan Nabi Ibrahim (a) serta beberapa nabi lainnya dari ibu saya. Ketika beliau membaca Al-Qur’an dan sampai pada ayat-ayat yang di dalamnya disebutkan nama-nama para nabi, beliau mulai menjelaskan.

2- Keakraban dengan puisi Hafez dan Diwannya

Beberapa syair Hafez yang masih saya ingat – setelah hampir enam puluh tahun – saya dengar dari ibu saya pada waktu itu. Di antaranya, saya ingat dua bait ini:(1)

سحر چون خسرو خاور عَلَم در کوهساران زد به دست مرحمت یارم در امّیدواران زد

[Fajar, ketika raja timur (matahari) mengibarkan panjinya di atas pegunungan *** kekasihku dengan kelembutan mengetuk pintu para pengharap]

Baca Juga  Jika Aku Ingin Berolahraga, Aku Akan Bermain Bola Voli Bersama Anak-Anakku

دوش دیدم که ملائک در میخانه زدند گل آدم بسرشتند و به پیمانه زدند

[Semalam aku melihat para malaikat mengetuk pintu rumah para pecinta *** mereka membentuk tanah Adam dan menuangkannya ke dalam gelas]

3- Mengetahui Hadis Ahlul Bait (a) dan Bahasa Arab

Sebagaimana beliau juga mengetahui hadis. Beliau meriwayatkan sebuah hadis dan ayah saya mengkritiknya bahwa beliau belum pernah melewati hadis ini sebelumnya, maka beliau menyebutkan sumbernya kepadanya.

Saya belajar dasar-dasar membaca Al-Qur’an dan kaidah-kaidah bahasa Arab dari ibu saya. Jelas bahwa beliau adalah orang yang meniupkan ruh keberanian dan perjuangan ke dalam diri saya.

4- Termasuk orang yang berdoa dan memiliki keakraban dengan Allah

Saya ingat bahwa saya belum mencapai usia baligh ketika saya melakukan amalan Arafah. Amalan hari itu panjang – kalian pasti mengetahuinya, banyak anak muda juga mengetahuinya – dan memakan waktu berjam-jam. Amalan dimulai setelah salat Zuhur dan Asar, dan jika seseorang ingin melakukan seluruh amalan tersebut, ia bisa berlangsung hingga matahari terbenam, pada hari-hari dengan siang yang pendek.

Saya ingat ketika saya bersama ibu saya – karena beliau juga termasuk orang yang banyak berdoa dan bertawajjuh [kepada Allah] serta melakukan amalan-amalan mustahab – kami pergi ke sebuah sudut halaman yang teduh – rumah kami memiliki halaman kecil – lalu kami menggelar sajadah di sana – karena dianjurkan berada di bawah langit – dan cuaca panas… tahun-tahun yang sekarang teringat dalam benak saya, itu pada musim panas atau mungkin musim gugur, dan siang hari relatif panjang. Kami duduk di tempat teduh itu dan melaksanakan amalan Arafah selama berjam-jam. [Amalan itu berupa] doa, zikir, dan salat. Ibu saya membaca, dan kami membaca, saya dan beberapa saudara laki-laki dan perempuan saya juga. Demikianlah masa muda dan remaja saya, masa keakraban dengan spiritualitas, doa, dan munajat.

Baca Juga  Foto Syahid Ali Khamenei Dipublikasikan untuk Pertama Kalinya

5- Pendorong saya untuk melanjutkan jalan revolusioner

Bagaimanapun, seseorang kadang-kadang memikirkan masa depan, tetapi saya tidak pernah ingat kapan saya memikirkan masa depan. Sudah jelas bagi saya dan keluarga saya sejak awal pekerjaan yang akan saya pilih di masa depan. Semua orang tahu bahwa saya akan menjadi seorang penuntut ilmu, seorang ulama agama. Itu adalah keinginan ayah dan ibu saya dan mereka sangat menyukainya. Saya juga menginginkannya [hal itu], pada dasarnya saya juga menyukai hal ini.

Yang saya tahu pasti menarik bagi kalian adalah bahwa saya sudah mengenakan sorban pada waktu itu, yaitu antara usia sepuluh hingga tiga belas tahun – orang itu [salah satu hadirin] bertanya kepada saya – saya mengenakan sorban di kepala saya dan jubah (saya) di tubuh saya! Bahkan sebelum itu juga. Sejak saya pergi ke sekolah saya pergi dengan jubah. Tetapi di musim panas saya berjalan tanpa sorban, dan ketika musim dingin datang, ibu saya melilitkannya di kepala saya.

Ibu saya banyak menderita karena penangkapan saya yang berulang-ulang dan serangan SAVAK ke rumah. Tetapi beliau berdiri teguh dan kokoh di hadapan para penyerang jahat. Beliau membalas mereka dan berdebat dengan mereka, bahkan beliau menjadi penyemangat saya untuk melanjutkan jalan yang penuh liku ini.

Sumber:

Cuplikan dari dialog dengan sekelompok pemuda dan remaja 3/2/1998 dan cuplikan dari buku “إنّ مع الصبر نصرا(sesungguhnya dalam kesabaran terdapat pertolongan)

Baca Juga:

Biografi Imam Ali Khamenei QS, jejak pendidikan agama, penjara, pengasingan, hingga menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam

Gaya Hidup Sederhana Nabi Muhammad dan Teladan Kepemimpinan dalam Islam

Baca Juga  Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: “yang menjadi prinsip utama adalah selalu berada di samping para pemuda”

Menelusuri Cinta, Rahasia, dan Keteladanan dalam Islam dalam Diri Fathimah

 

 

Bagikan:
Terkait
Komentar