Bisakah Fitnah Menyesatkan Orang yang Memahami Zamannya?

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika informasi berlari lebih cepat daripada kemampuan manusia mencerna kebenaran, ancaman terbesar bukan lagi sekadar kebohongan. Yang lebih berbahaya adalah kabut: ketika fakta bercampur opini, kepentingan menyamar sebagai idealisme, dan suara paling lantang dianggap paling benar. Dalam keadaan seperti itu, manusia sering kali bukan kehilangan akal, melainkan kehilangan arah.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang yang sebenarnya memiliki niat baik justru terseret ke dalam pusaran kekeliruan. Bukan karena mereka membenci kebenaran, melainkan karena gagal membaca keadaan. Mereka bergerak dengan semangat, tetapi tanpa peta. Mereka bertindak atas nama tanggung jawab, tetapi tidak benar-benar memahami siapa lawan, siapa kawan, dan di mana persoalan sesungguhnya berada.

Bayangkan seseorang berjalan di tengah malam yang gelap, diselimuti kabut tebal. Ia merasa ada musuh di hadapannya. Tanpa memastikan arah, ia melepaskan pukulan. Yang terkena justru sahabatnya sendiri. Sementara musuh yang sebenarnya lolos tanpa luka. Begitulah gambaran orang yang kehilangan bashirah yakni kejernihan pandangan yang lahir dari pemahaman terhadap realitas.

Dalam strategi peperangan sekalipun, informasi adalah syarat pertama kemenangan. Tak ada pasukan yang dikirim bertempur tanpa mengetahui posisi lawan. Kesalahan membaca medan bukan sekadar membuat serangan gagal, tetapi dapat berubah menjadi bencana yang melukai pihak sendiri. Prinsip itu ternyata tidak hanya berlaku di medan perang. Ia juga berlaku dalam kehidupan sosial, politik, budaya, bahkan dalam ruang-ruang digital yang setiap hari kita masuki.

Karena itulah Imam Ja’far ash-Shadiq a.s mengingatkan:

الْعَالِمُ بِزَمَانِهِ لَا تَهْجُمُ عَلَيْهِ اللَّوَابِسُ

“Orang yang memahami zamannya tidak akan diserang oleh berbagai kesamaran dan syubhat.”

Hadis ini tidak sedang memuji kecerdasan intelektual semata. Yang dimaksud adalah kemampuan membaca konteks: mengenali perubahan zaman, memahami pola permainan, membedakan informasi dari propaganda, serta melihat persoalan sebelum mengambil sikap. Orang yang mengenali zamannya tidak mudah dipermainkan oleh narasi yang sengaja dibangun untuk membingungkan publik. Ia tidak tergesa-gesa menghakimi hanya karena sebuah potongan video, kutipan pendek, atau kabar yang beredar berulang-ulang.

Baca Juga  Energi yang Lahir dari Gerak: Rahasia Jiwa yang Tak Pernah Lelah

Di titik ini, bashirah bukan sekadar pengetahuan, melainkan kedewasaan. Ia menuntut seseorang untuk menahan diri sebelum bereaksi. Sebab sering kali, musuh terbesar bukan kebodohan, melainkan keyakinan yang dibangun di atas informasi yang keliru.

Namun memahami zaman saja ternyata belum cukup.

Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kelicikan. Sebaliknya, semangat tanpa pengetahuan hanya melahirkan kegaduhan. Karena itu, Islam mempertemukan dua fondasi yang tidak boleh dipisahkan: rasa tanggung jawab kepada Allah dan kejernihan membaca realitas.

Seseorang bisa menjadi ilmuwan, seniman, pedagang, aktivis, guru, pemimpin, atau pekerja biasa. Apa pun profesinya, pertanyaan pertama bukanlah seberapa besar pengaruh yang akan ia raih, melainkan untuk siapa semua itu dilakukan. Ketika orientasi berpindah dari kepentingan diri menuju pengabdian kepada Allah, pekerjaan sehari-hari memperoleh makna yang jauh lebih dalam.

Imam Zainal Abidin a.s mengajarkan sebuah doa yang indah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَارْزُقْنَا قِيَامَهُ وَصِيَامَهُ… وَاسْتِكْمَالَ مَا يُرْضِيكَ عَنِّي صَبْرًا وَاحْتِسَابًا وَإِيمَانًا وَيَقِينًا

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Karuniakan kepada kami kemampuan menegakkan ibadah di bulan Ramadan, menyempurnakan segala hal yang membuat-Mu ridha kepadaku dengan kesabaran, mengharap pahala-Mu, iman, dan keyakinan. Kemudian terimalah semua itu dengan balasan yang berlipat ganda.”

Ada satu ungkapan yang sangat kuat dalam doa tersebut: sabran wahtisaban yakni bersabar sambil mengharap balasan hanya dari Allah. Inilah ruh dari tanggung jawab sejati. Seorang mukmin bekerja bukan demi tepuk tangan manusia, bukan demi popularitas, bahkan bukan sekadar demi kepuasan pribadi. Ia berkarya karena merasa sedang memenuhi amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhannya.

Dalam konteks yang lebih luas, perpaduan antara tanggung jawab dan bashirah menjadi benteng menghadapi zaman yang penuh disinformasi. Tanggung jawab menjaga hati agar tetap lurus. Sementara bashirah menjaga langkah agar tetap benar. Salah satunya hilang, maka keseimbangan pun runtuh.

Baca Juga  Saat Allah Bertanya tentang Amal Kita

Hari ini kita menyaksikan bagaimana opini dapat diproduksi dalam hitungan detik. Algoritma media sosial mampu memperkuat prasangka, sementara kebisingan sering kali menenggelamkan kebenaran. Orang berlomba menjadi yang pertama berkomentar, tetapi sedikit yang bersedia menjadi yang paling teliti mencari fakta. Akibatnya, fitnah berkembang bukan karena semua orang berniat jahat, melainkan karena terlalu banyak orang merasa sudah tahu sebelum benar-benar memahami.

Di sinilah pesan hadis itu menemukan relevansinya. Mengenali zaman bukan berarti mengikuti semua arusnya. Sebaliknya, ia berarti mampu berdiri teguh ketika arus bergerak ke arah yang salah. Orang yang memahami zamannya tidak mudah menjadi alat bagi kepentingan orang lain. Ia tidak gampang diprovokasi, tidak mudah dibenturkan dengan sesama, dan tidak tergesa-gesa memutuskan sesuatu sebelum melihat gambaran yang utuh.

Pada akhirnya, setiap zaman selalu memiliki ujiannya sendiri. Dahulu orang diuji oleh pedang. Hari ini manusia lebih sering diuji oleh informasi. Dahulu musuh tampak di medan perang. Kini ia bisa hadir dalam bentuk narasi yang memecah belah, berita yang menyesatkan, atau keyakinan yang dibangun tanpa pengetahuan.

Karena itu, tugas kita bukan hanya menjaga semangat untuk berbuat baik, tetapi juga memastikan bahwa semangat itu berjalan di atas pemahaman yang benar. Sebab niat yang tulus membutuhkan pandangan yang jernih. Dan ketika tanggung jawab kepada Allah bertemu dengan bashirah terhadap zaman, fitnah tidak lagi mudah menemukan jalan untuk menyesatkan hati.

Bagikan:
Terkait
Komentar