Opini

Tugas Pemimpin Islam: Membuka Jalan Manusia Menuju Surga

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

Dinding-Dinding di Jalan Keshvar Dost: Hikayat Kerinduan Bangsa Iran pada Sang Pemimpin yang Syahid

Di mata media global, beliau sering disematkan dengan berbagai julukan: Ayatullah Khamenei, Pemimpin Umat Islam, Sayyid Ali, Ayatullah, Pemimpin Iran, dan Pemimpin Agung. Namun, istilah “Pemimpin Agung” (Supreme Leader) kerap disajikan dengan nuansa yang mengesankan tirani dan despotisme. Bayang-bayang kelam kata “diktator”—terutama di media-media tertentu yang memusuhi beliau—sering kali menutupi

Gencatan senjata menyeluruh di Lebanon membuktikan keterkaitan front perlawanan dan kemampuannya dalam memaksakan syarat-syaratnya.

Situs media KHAMENEI.IR mempublikasikan sebuah artikel karya penasihat juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Dr. Ali Safri, yang menyajikan sebuah pembacaan analitis terhadap jalannya eskalasi di Lebanon, dengan menjelaskan bahwa runtuhnya gencatan senjata dan kembalinya konfrontasi terjadi sebagai akibat dari akumulasi pelanggaran Zionis, tekanan Amerika, dan kegagalan jalur-jalur

Produksi Tak Akan Tumbuh Tanpa Buruh: Mengurai Keadilan, Profesionalisme, dan Martabat Pekerja

Di tengah riuhnya perbincangan ekonomi—angka pertumbuhan, investasi, dan pembangunan—ada satu hal yang kerap luput dari sorotan: manusia yang bekerja di baliknya. Kita berbicara tentang produksi seolah ia berdiri sendiri, padahal ia bertumpu pada sesuatu yang jauh lebih mendasar. Sebab, sebagaimana diingatkan dalam sebuah pidato penting Ayatullah Khamenei qs bahwa, produksi

Revolusi Iran dan Modal Sosial Ulama: Warisan Seribu Tahun yang Mengubah Sejarah

Fondasi Revolusi Revolusi tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari ingatan panjang, dari kepercayaan yang menumpuk pelan-pelan seperti lapisan tanah yang mengeras menjadi fondasi. Ketika Revolusi Iran meledak pada 1979, banyak orang melihatnya sebagai ledakan politik. Namun dalam perspektif Imam Ali Khamenei, peristiwa itu lebih tepat disebut sebagai

Mengapa Kredibilitas Ulama Menjadi Fondasi Revolusi dan Masa Depan Umat?

Warisan 1000 Tahun Setiap revolusi biasanya dijelaskan dengan bahasa politik: krisis ekonomi, ketidakpuasan sosial, atau pergolakan kekuasaan. Namun dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Revolusi Islam tidak bisa dipahami hanya melalui lensa itu. Ia melihatnya sebagai hasil dari sebuah proses panjang—bahkan sangat panjang—yang menumpuk selama berabad-abad. Bukan kerja satu generasi, melainkan

Tidak Zalim Bahkan pada Musuh: Standar Tinggi yang Dilupakan Banyak Orang

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (4) Perjuangan Tanpa Tujuan Adalah Kelelahan yang Panjang

Ada masa ketika masa depan terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelap, sunyi, dan membingungkan. Orang-orang bergerak, tetapi tak benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Dalam situasi seperti itu, yang paling melelahkan bukanlah perjuangan itu sendiri, melainkan ketiadaan arah. Dan sejarah, berkali-kali, menunjukkan bahwa satu gagasan yang tepat bisa mengubah

Manfaat Haji; Rumah Tuhan untuk Semua, dan Ilusi Kekuatan Musuh

Umat Jika pada bagian sebelumnya haji dipahami sebagai perjalanan menaklukkan ego, maka ayat berikutnya membuka lapisan yang lebih luas: haji bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, tetapi juga proyek peradaban. Ia bukan sekadar ibadah individu, melainkan pertemuan akbar umat manusia yang sarat manfaat—manfaat spiritual, sosial, bahkan politik dalam arti paling luas.

Haji, Persatuan, dan Harapan: Membaca Ayat-Ayat Ketahanan dalam Pesan Haji

Setiap tahun, jutaan orang pulang dari Mekkah dengan label baru: haji. Gelar sosial yang melekat, foto kenangan yang tersimpan, kisah perjalanan yang diceritakan ulang. Namun sebuah pertanyaan sering luput diajukan: apa sebenarnya yang dibawa pulang dari perjalanan itu selain pengalaman spiritual pribadi? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam banyak