

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang takut pada persatuan umat Islam? Pertanyaan itu menjadi pusat perhatian dalam kerangka pemikiran Imam Ali Khamenei qs yang membahas hubungan antara persatuan dunia Islam dan dominasi kekuatan global. Bagi beliau, musuh utama persatuan Muslim bukanlah perbedaan mazhab atau batas negara, melainkan kekuatan-kekuatan yang selama ini diuntungkan

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang sering muncul dalam kehidupan spiritual manusia modern: kita begitu merindukan tempat-tempat suci yang jauh, tetapi sering lupa pada mata air keberkahan yang justru berada dekat dengan kehidupan kita sendiri. Sebagian orang bermimpi seumur hidup untuk menjejakkan kaki di Karbala. Ada yang menabung bertahun-tahun demi bisa berdiri

KHAMENEI.ID – Ketika nama haji disebut, apa yang terlintas di benak generasi muda dan masyarakat awam? Pertanyaan itu menjadi kegelisahan utama Imam Ali Khamenei qs tentang pentingnya membangun budaya haji yang lebih dalam dan bermakna. Bagi pemimpin Iran tersebut, ibadah tahunan ke Tanah Suci tidak boleh berhenti pada ritus spiritual

KHAMENEI.ID – Ayatullah Yang Mulia Sayyid Mujtaba Khamenei, dalam tanggapannya atas surat penyampaian rasa hormat dan belasungkawa dari sejumlah aktivis kemasyarakatan di bidang kependudukan atas gugurnya Pemimpin Agung Revolusi Islam yang Mulia (Semoga Allah Menyucikan Jiwanya yang Bersih), menyoroti isu pertumbuhan penduduk serta korelasinya dengan kekuatan dan peradaban Iran Islami.

KHAMENEI.ID – Setiap tahun jutaan Muslim berangkat ke Tanah Suci membawa doa, harapan, dan air mata. Namun, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan spiritual. Ada dimensi lain yang sering terlupakan: dimensi sikap, salah satunya adalah Bara’ah—haji yang menegaskan pembebasan diri dari kezaliman. Sejak awal Revolusi Islam,

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs dalam Pertemuan dengan Menteri dan Wakil Menteri Pendidikan dan Pengajaran serta Sejumlah Guru dan Para Pelajar Provinsi Teheran 16 Juni 1989 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Sesungguhnya peristiwa pahit dan musibah berat kehilangan pemimpin besar kita dan imam agung kita,

Ada momen dalam sejarah ketika sebuah peradaban menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba menyadari bahwa ia sebenarnya berdiri di atas harta karun yang selama ini terabaikan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menggambarkan momen itu sedang terjadi di dunia Islam hari ini. Para intelektual, generasi muda, dan masyarakat luas—katanya—mulai

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kalimat yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam mengguncang cara manusia modern memandang hidup. Kalimat itu datang dari Imam Ja’far Shadiq a.s: “Tidaklah harta seseorang bertambah banyak, kecuali hujah (tuntutan) Allah atasnya juga bertambah besar.” Di zaman ketika kekayaan dipandang sebagai simbol keberhasilan, ucapan itu terdengar nyaris asing.

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs. dalam Pertemuan dengan Para Penyelenggara Haji 9 Oktober 2010 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Dengan penuh kerendahan kita memohon kepada Allah Swt. agar senantiasa memberikan taufik kepada satu per satu para penanggung jawab dan pelaksana gerakan agung ini serta kewajiban

Ledakan bom di Gaza tidak hanya meruntuhkan rumah, sekolah, dan rumah sakit. Ia juga meruntuhkan satu mitos besar yang selama puluhan tahun dipoles rapi: mitos tentang kemanusiaan, hak asasi manusia, dan moralitas universal yang konon menjadi fondasi peradaban Barat. Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs berulang kali mengingatkan bahwa