

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, nama baik seseorang sering kali menjadi korban pertama. Sekali tuduhan dilemparkan ke ruang publik, ia akan hidup jauh lebih lama daripada klarifikasi. Yang tersisa bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan jejak prasangka yang sulit dihapus. Padahal, dalam pandangan Islam, kehormatan manusia bukan

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kalimat yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam mengguncang cara manusia modern memandang hidup. Kalimat itu datang dari Imam Ja’far Shadiq a.s: “Tidaklah harta seseorang bertambah banyak, kecuali hujah (tuntutan) Allah atasnya juga bertambah besar.” Di zaman ketika kekayaan dipandang sebagai simbol keberhasilan, ucapan itu terdengar nyaris asing.

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs. dalam Pertemuan dengan Para Penyelenggara Haji 9 Oktober 2010 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Dengan penuh kerendahan kita memohon kepada Allah Swt. agar senantiasa memberikan taufik kepada satu per satu para penanggung jawab dan pelaksana gerakan agung ini serta kewajiban

Ledakan bom di Gaza tidak hanya meruntuhkan rumah, sekolah, dan rumah sakit. Ia juga meruntuhkan satu mitos besar yang selama puluhan tahun dipoles rapi: mitos tentang kemanusiaan, hak asasi manusia, dan moralitas universal yang konon menjadi fondasi peradaban Barat. Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs berulang kali mengingatkan bahwa

KHAMENEI.ID- Ada satu kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan panjang dunia modern: “Kita belajar agar suatu hari menjadi guru.” Kalimat itu seperti tamparan halus bagi banyak bangsa yang terlalu lama merasa cukup menjadi murid menghafal teori, menerjemahkan buku, memakai konsep orang lain, lalu menganggap itu sebagai puncak kemajuan. Padahal

Sejarah sering bergerak diam-diam—hingga suatu hari ia meledak menjadi kesadaran global. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan sebuah kata yang semakin sering terdengar dari Timur Tengah hingga kampus-kampus Barat: resistensi. Ia bukan sekadar slogan politik, melainkan istilah yang menjelma menjadi identitas, gerakan, bahkan harapan. Dalam kerangka pemikiran yang konsisten disampaikan

Sebuah Refleksi dari pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs Tidak ada bangsa yang runtuh dalam satu malam. Keruntuhan selalu datang perlahan: dimulai dari rasa aman yang berlebihan, dari keyakinan bahwa sebuah kejayaan akan bertahan selamanya. Lalu orang-orang mulai lupa bahwa setiap nikmat memiliki syarat untuk tetap hidup. Kekuasaan dianggap abadi.

Tinjauan terhadap Pelemahan Tatanan Hukum Internasional melalui Tindakan Pemerintah Teroris Amerika; Teror terhadap Imam Syahid dan Keniscayaan Membaca Ulang Hukum Internasional Penulis: Dr. Abbasali Kadkhodaei Anggota Dewan Penentu Kemaslahatan Negara dan ahli hukum Dewan Garda Revolusi Praktik nyata Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan proksinya di seluruh dunia menunjukkan adanya pelanggaran yang

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs dalam Pertemuan dengan Presiden dan Dewan Menteri بسماللَّهالرّحمنالرّحیم Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Pekan Pemerintahan dan Penjelasan Capaian Revolusi kepada Rakyat Pertama-tama, saya mengucapkan selamat atas Pekan Pemerintahan yang merupakan kesempatan berharga, baik untuk menghargai para pelayan, pejabat, dan para

KHAMENEI.ID– Ada satu momen yang paling berbahaya dalam hidup manusia dan sering kali ia datang tanpa suara. Bukan ketika seseorang mencuri. Bukan ketika ia terang-terangan menindas. Bahkan bukan ketika ia meninggalkan agama secara terbuka. Bahaya itu justru muncul pada saat yang lebih halus: ketika seseorang merasa sedang membela kebenaran, tetapi diam-diam

Ada satu jenis harapan yang membuat manusia tetap bertahan meski dunia terasa semakin gelap: keyakinan bahwa ketidakadilan tidak akan abadi. Bahwa suatu hari, bumi yang penuh tipu daya, ketimpangan, dan keserakahan ini akan dipenuhi keadilan. Dalam tradisi Islam, harapan itu bertumpu pada sosok Imam Zaman afs. figur yang diyakini akan