

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, nama baik seseorang sering kali menjadi korban pertama. Sekali tuduhan dilemparkan ke ruang publik, ia akan hidup jauh lebih lama daripada klarifikasi. Yang tersisa bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan jejak prasangka yang sulit dihapus. Padahal, dalam pandangan Islam, kehormatan manusia bukan

KHAMENEI.ID – Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, dalam pesan tertulisnya menyambut tibanya musim Haji Ibrahimi, mengategorikan rangkaian ritual dan zikir haji yang sarat misteri serta makna sebagai tanda-tanda abadi bagi umat manusia guna berhijrah menuju Allah Swt., membebaskan diri dari belenggu setan beserta sekutunya, serta melakukan ikhtiar

KHAMENEI.ID – Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei hf, dalam pesan tertulisnya guna memperingati haul para martir “Penerbangan Ordibehesht”—khususnya Presiden Syahid Hujjatul Islam wal Muslimin Raisi—menyebut rasa tanggung jawab yang tinggi serta sikap merakyat sebagai di antara karakteristik utama dari Syahid Raisi. Seraya menyoroti besarnya beban amanah yang dipikul oleh para pejabat

KHAMENEI.ID – Dalam dunia politik modern yang dipenuhi diplomasi, negosiasi, dan janji kerja sama internasional, Imam Ali Khamenei qs mengajukan satu peringatan yang terdengar keras sekaligus kontras: “Jangan percaya kepada musuh.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik, melainkan inti dari pandangannya tentang hubungan dunia Islam dengan kekuatan-kekuatan global yang ia anggap

KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang takut pada persatuan umat Islam? Pertanyaan itu menjadi pusat perhatian dalam kerangka pemikiran Imam Ali Khamenei qs yang membahas hubungan antara persatuan dunia Islam dan dominasi kekuatan global. Bagi beliau, musuh utama persatuan Muslim bukanlah perbedaan mazhab atau batas negara, melainkan kekuatan-kekuatan yang selama ini diuntungkan

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang sering muncul dalam kehidupan spiritual manusia modern: kita begitu merindukan tempat-tempat suci yang jauh, tetapi sering lupa pada mata air keberkahan yang justru berada dekat dengan kehidupan kita sendiri. Sebagian orang bermimpi seumur hidup untuk menjejakkan kaki di Karbala. Ada yang menabung bertahun-tahun demi bisa berdiri

KHAMENEI.ID – Ketika nama haji disebut, apa yang terlintas di benak generasi muda dan masyarakat awam? Pertanyaan itu menjadi kegelisahan utama Imam Ali Khamenei qs tentang pentingnya membangun budaya haji yang lebih dalam dan bermakna. Bagi pemimpin Iran tersebut, ibadah tahunan ke Tanah Suci tidak boleh berhenti pada ritus spiritual

KHAMENEI.ID – Ayatullah Yang Mulia Sayyid Mujtaba Khamenei, dalam tanggapannya atas surat penyampaian rasa hormat dan belasungkawa dari sejumlah aktivis kemasyarakatan di bidang kependudukan atas gugurnya Pemimpin Agung Revolusi Islam yang Mulia (Semoga Allah Menyucikan Jiwanya yang Bersih), menyoroti isu pertumbuhan penduduk serta korelasinya dengan kekuatan dan peradaban Iran Islami.

KHAMENEI.ID – Setiap tahun jutaan Muslim berangkat ke Tanah Suci membawa doa, harapan, dan air mata. Namun, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan spiritual. Ada dimensi lain yang sering terlupakan: dimensi sikap, salah satunya adalah Bara’ah—haji yang menegaskan pembebasan diri dari kezaliman. Sejak awal Revolusi Islam,

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs dalam Pertemuan dengan Menteri dan Wakil Menteri Pendidikan dan Pengajaran serta Sejumlah Guru dan Para Pelajar Provinsi Teheran 16 Juni 1989 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Sesungguhnya peristiwa pahit dan musibah berat kehilangan pemimpin besar kita dan imam agung kita,

Ada momen dalam sejarah ketika sebuah peradaban menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba menyadari bahwa ia sebenarnya berdiri di atas harta karun yang selama ini terabaikan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menggambarkan momen itu sedang terjadi di dunia Islam hari ini. Para intelektual, generasi muda, dan masyarakat luas—katanya—mulai