

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, nama baik seseorang sering kali menjadi korban pertama. Sekali tuduhan dilemparkan ke ruang publik, ia akan hidup jauh lebih lama daripada klarifikasi. Yang tersisa bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan jejak prasangka yang sulit dihapus. Padahal, dalam pandangan Islam, kehormatan manusia bukan

Ledakan bom di Gaza tidak hanya meruntuhkan rumah, sekolah, dan rumah sakit. Ia juga meruntuhkan satu mitos besar yang selama puluhan tahun dipoles rapi: mitos tentang kemanusiaan, hak asasi manusia, dan moralitas universal yang konon menjadi fondasi peradaban Barat. Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs berulang kali mengingatkan bahwa

Sejarah sering bergerak diam-diam di tangan generasi muda. Ia tidak selalu dimulai dari gedung parlemen, ruang kabinet, atau mimbar politik, melainkan dari ruang-ruang belajar, diskusi mahasiswa, dan kegelisahan batin anak muda yang menatap masa depan. Dalam salah satu pesannya, Imam Ali Khamenei berbicara langsung kepada kaum muda—sebuah ajakan yang bukan

Di tengah banjir informasi dan perang narasi yang tak pernah berhenti, ada satu istilah yang kembali mengemuka: jihad tabyin—perjuangan dalam menjelaskan kebenaran. Dalam sejumlah ceramahnya, Imam Ali Khamenei menyebut konsep ini sebagai warisan panjang sejarah Islam, yang jejaknya dimulai dari sosok perempuan paling berpengaruh dalam keluarga Nabi: Fatimah Az-Zahra sa.

Ada satu pertanyaan besar yang diam-diam menghantui banyak bangsa: siapa yang akan membangun masa depan? Bukan gedung, bukan teknologi, bukan bahkan kekayaan alam, melainkan manusia. Dalam berbagai kesempatan, gagasan tentang “peradaban Islam modern” atau kebangkitan kembali peradaban Islam kerap disampaikan oleh Imam Ali Khamenei qs sebagai proyek jangka panjang yang