

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Kekuatan militer sering datang dengan sebuah alasan yang terdengar mulia. Menjaga keamanan. Melindungi perdamaian. Menstabilkan kawasan. Tetapi sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah kehadiran kekuatan asing benar-benar menciptakan stabilitas, atau justru membawa konflik baru? Pertanyaan itulah yang dikemukakan Imam Ali Khamenei qs ketika berbicara tentang kehadiran

KHAMENEI.ID – Sebuah lembaga internasional dibentuk untuk menjaga perdamaian. Tetapi apa yang terjadi ketika perang benar-benar meletus dan lembaga itu justru gagal menyebut siapa yang memulainya? Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu inti paling tajam dalam pidato Imam Ali Khamenei qs di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada masa perang

KHAMENEI.ID – Perdamaian adalah kata yang hampir tidak pernah ditolak. Semua orang mengaku menginginkannya. Para pemimpin dunia berbicara tentang perdamaian. Negara-negara besar menjadikan perdamaian sebagai tema pidato. Bahkan mereka yang memproduksi senjata paling mematikan pun dapat berbicara tentang pentingnya perdamaian. Tetapi Imam Ali Khamenei qs mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih

KHAMENEI.ID– Pernikahan sering dimulai dengan sesuatu yang sederhana: dua manusia saling memilih, lalu berjanji untuk berjalan bersama. Tetapi sebelum janji itu sempat menjadi kehidupan, ia kadang telah dikelilingi terlalu banyak angka, pesta, tuntutan, dan perhitungan. Pernikahan yang semestinya menjadi awal perjalanan justru berubah menjadi proyek besar yang menguras tenaga, uang, bahkan

KHAMENEI.ID – Imam Khamenei: Dunia Sedang Bergerak dari Tatanan Dominasi Menuju Tatanan Baru Selama berabad-abad, dunia seolah menerima satu aturan tidak tertulis: ada negara yang berhak menguasai, dan ada negara yang ditakdirkan untuk dikuasai. Ada pusat kekuasaan yang menentukan arah politik, ekonomi, dan kebudayaan, sementara negara-negara lain ditempatkan sebagai pengikut.

KHAMENEI.ID – Persatuan dunia Islam bukanlah jalan yang tanpa rintangan. Di balik seruan untuk mempererat hubungan antarnegara dan antarmazhab, terdapat kepentingan-kepentingan besar yang justru memperoleh keuntungan dari perpecahan. Karena itu, menurut Syahid Imam Ali Khamenei qs, siapa pun yang benar-benar menginginkan persatuan umat Islam harus memahami pula siapa dan apa

KHAMENEI.ID – Di tengah luasnya wilayah dunia Islam, besarnya jumlah penduduk Muslim, dan melimpahnya sumber daya yang dimiliki negeri-negeri Islam, sebuah pertanyaan besar terus mengemuka: mengapa umat Islam masih menghadapi begitu banyak konflik, peperangan, dan penderitaan? Dalam pandangan Sayyid Ali Khamenei qs, jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang sangat mendasar:

KHAMENEI.ID– Di tengah riuh perdebatan tentang hak perempuan, ada satu ironi yang terus mengusik: perempuan kerap dibicarakan sebagai objek, tetapi jarang didengar sebagai subjek sejarah. Mereka disebut ketika hendak membuktikan keberhasilan sebuah gerakan, dijadikan alasan untuk membenarkan intervensi, atau dihadirkan dalam pidato tentang kebebasan. Namun ketika perempuan itu sendiri turun ke

KHAMENEI.ID – Persatuan umat Islam sering dibicarakan seolah-olah ia hanya memiliki satu bentuk: semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Padahal, persatuan memiliki tingkatan. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang paling sederhana—tidak saling menyerang—lalu berkembang menjadi kerja sama, saling menguatkan, hingga cita-cita membangun sebuah peradaban bersama. Dalam pandangan Syahid Imam

KHAMENEI.ID – Persatuan umat Islam tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar dengan panggung megah dan pertemuan para pemimpin. Kadang, gagasan besar justru tumbuh dari tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, di tengah keterasingan, dan dari percakapan sederhana antara orang-orang yang memiliki satu kegelisahan: bagaimana umat Islam tidak terus-menerus terpecah oleh perbedaan.









